💞
Setelah anaknya berangkat ke sekolah. Buk Ita dengan semangat menggebu-gebu mengajak teman masa kecilnya untuk pergi ke mall yang ada di kota. Buk Khadijah langsung setuju, apalagi wanita itu jadi tak enak dengan buk Ita yang sudah repot-repot untuk membelikan anak laki-lakinya kado setiap tahunnya.
Dua wanita yang wajahnya sudah mulai menua karena di makan waktu itu berkeliling-keliling ria di Mall. Keduanya memasuki satu persatu semua toko-toko di mall tersebut.
Bahkan mereka mampir dulu ke Matahari untuk mencari barang yang sedang diskon 75%! Setelah itu keduanya baru kembali lagi mengelilingi setiap store yang menjual action figure yang mereka cari.
Setelah cukup lama berkeliling, keduanya mulai merasa kelelahan. Apalagi setiap toko mainan yang mereka masuki tetap saja tidak ada yang menjual action figure seperti pesanan Sita.
"Coba kita tanya di toko elektronik ini aja Ta" ujar buk Khadijah sambil merenggangkan otot-otot kakinya yang sudah kelelahan karna berjalan.
"Hee kamu ini Jah! Mana ada disana. Action figure itu mainan Jah. Kaya boneka gitu, tadi pagi dikasi lihat sama Sita. Masa sih kamu nggak tahu Ultramen Jah" ujar buk Ita kembali menjelaskan bentuk Action figure yang sedang mereka cari.
"Aku tahu Ultrament Ta. Si Ambar kan suka nonton itu dulu waktu kecil. Setiap hari minggu pagi. Habis nonton dia suka angkat tangan gini nih" kata buk Khadijah sambil menirukan gerakan tangan Ultramen saat selesai bertarung dengan musuhnya.
"Hahaha iya, si Alip juga suka nonton itu dulu. Coba kita tanya ke pusat informasi aja kali ya Jah. Mungkin sekuriti nya tahu" usul buk Ita lagi dan menggandeng tangan buk Khadijah untuk mengikuti langkahnya.
Keduanya pergi ke pusat informasi. Menanyakan kepada petugas dimana mereka bisa membeli action figure. Petugas sekuriti yang usianya hampir sama dengan pak Bahrun juga ikut kebingunan. Sekuriti itu akhirnya menyuruh buk Ita dan buk Khadijah untuk mengecek di toko mainan yang ada dilantai 4.
Kedua wanita itu dengan terpaksa mengerahkan sisa tenaga yang mereka punya untuk pergi ke toko mainan yang satu-satunya belum mereka kunjungi di mall tersebut.
Namun hasilnya tetap sama. Tokoh yang mereka cari tidak ada disana. Malah keduanya disodorkan boneka Barbie dan pangeran Ken oleh penjaga toko. Buk Ita menyorot tajam pada dua boneka yang tersimpan cantik di dalam kotaknya.
"Iyaaa!! Action figure itu kaya gini sih. Tapi anak saya nyuruhnya yang Ultramen sama Captain Tsubasa" kata buk Ita dengan raut wajah kecewa.
"Heee.....Jadi ini Action figure juga ya dek?" tanya buk Khadijah yang akhirnya mengetahui bentuk benda yang dari tadi mereka cari.
Karyawan toko langsung menganggukkan kepala. Soalnya dia berharap dua wanita paruh baya itu mau membeli dagangannya. Jadi ditipu sedikit tidak menjadi masalah pikirnya.
"Eh Ta, kenapa nggak kita beli yang ini aja" bisik buk Khadijah dikupingnya.
"Ah jangan Jah! Nanti Sita marah. Ini kan mainan Sita waktu kecil dulu, masa Ambar mau yang ini"
"Nggak apa-apa Ta. Nanti kalo si Ambar mggak mau, aku kasiin ke anak gadis ku Hening kadonya. Dari pada kita sudah capek-capek begini tapi nggak ada satu pun yang kita beli. Ambar pasti nggak akan ngeluh sama kado yang dikasih Sita. Kalo dia ngeluh pun, aku suruh pak Bahrun pukul nanti" hasut buk Khadijah semakin menjadi-jadi.
Namun buk Ita masih ragu dengan saran menyesatkan dari temannya itu.
"Kadonya tinggal kita bungkus langsung kaya tahun kemarin Ta. Sita pasti nggak bakalan tahu. Nanti Ambarnya aku ancam biar nggak ngomong ke Sita apa isi kadonya" buk Khadijah masih berupaya untuk merayu buk Ita agar mau menerima sarannya. Benar saja kata Ambar, dua orangtuanya memang titisan Adolf Hitler yang memiliki sifat otoriter yang kejam!

KAMU SEDANG MEMBACA
AmbarSita : The beginning of love [TAMAT]
Teen FictionKatanya 'Cinta itu gila' dan sialnya Sita salah satu orang yang terkena kegilaan dari cinta tersebut. Banyak dari teman-temannya yang tidak percaya seorang gadis seperti Sita yang terkenal cantik, pendiam, pemalu, pintar, dan tidak suka jadi pusat p...