.
.
.
.
.
Mobil milik Candra berhenti didepan sebuah rumah sederhana namun memiliki halaman depan yang masih cukup luas, tipe rumah yang sudah sangat susah ditemukan dimasa sekarang. Sekali lagi laki-laki itu memastikan alamat yang telah dikirim oleh si pemilik rumah di chat mereka tadi, dan seperti janji sang pemilik bahwa dia akan menunggu penyewa rumah nya itu datang.
"Permisi." Candra memutuskan turun dan berjalan mendekati pintu rumah yang terbuka itu, mengucap salam hingga seorang perempuan paruh baya keluar dari sana.
"Iya?" Candra tersenyum saat menemukan wajah sang pemilik rumah, sama persis dengan yang dikirimkan padanya tadi.
"Saya Candra bu, yang mau sewa rumah ini." senyum tulus langsung menggantikan wajah bingung wanita itu saat Candra menyebut namanya.
"Oh nak Candra, ibu sudah tunggu dari tadi kirain gak jadi." Candra tersenyum kecil.
"Maaf bu, waktu saya chat tadi saya masih berhenti di kediri untuk makan, jadi maaf kalu ibu nunggu lama." lagi-lagi senyum tulus yang Candra dapat dari wanita dihadapannya itu.
"Oh nda papa nak, jadi ibu bisa sekalian bersihin rumah nya tadi." Candra sebenarnya bukanlah orang yang introvert namun dia memang susah beradaptasi dengan orang yang baru dikenalnya.
"Terima kasih bu, untuk pembayaran sewa rumah nya sudah saya transfer tadi bu." sang wanita pemilik rumah hanya mengangguk, dia sudah mendapat laporan bukti transfer tadi dan sudah dicek juga.
"Iya nak, ini kunci nya ya. Semoga kamu sama adek nya betah disini." Candra kembali tersenyum netranya melihat sosok mungil adiknya yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Kalau gitu ibu pamit ya, kalau ada apa-apa atau butuh bantuan bilang aja ke ibu ya nak, nanti ibu bantu sebisa ibu." wanita itu menepuk pundak Candra pelan.
"Iya bu, terima kasih."
.
.
.
.
.
Candra meminta Lintang menurunkan tas milik mereka, sedangkan Candra sendiri sibuk memindahkan koper yang mereka bawa. Candra menyukai rumah yang mereka sewa ini, cukup besar untuk mereka tinggali berdua. Ada satu kamar tidur, kamar mandi, dapur juga ruang tamu, jangan lupakan teras dan halaman yang masih tersisa dibagian depan dan belakang rumah.
"Mas, ini ransel punya mas Lintang taruh diatas kasur ya, nanti mas bongkar sendiri." Candra mengangguk saat sang adik menunjukan ransel biru nya yang sudah berada diatas kasur.
"Dek, menurut kamu kita perlu beli motor gak? Biar kalau kemana-mana gak perlu naik mobil." Lintang yang sedang mengeluarkan isi ransel nya langsung bergegas mendekati Candra.
"Boleh mas, kita bisa beli motor, nantinya gak akan ngabisin bbm juga." Candra mengangguk setuju, tujuan utama mereka itu mencari keberadaan adik-adik kedua orang tuanya yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita sang bunda.
"Besok ya, sekarang istirahat dulu, nanti sore mau lihat-lihat sekeliling gak?" Lintang mengangguk semangat, dia sangat tertarik melihat daerah sekitar tempat tinggal mereka yang baru. Siapa tau mereka akan menemukan pekerjaan nantinya.
"Mas, ada yang perlu Lintang bantu lagi gak?" Candra yang sibuk memasukan pakaian mereka kedalam lemari menggeleng, pekerjaan beres-beres mereka sudah selesai.
"Gak ada, udah selesai." Candra mendekati Lintang yang sudah duduk diatas kasur, laki-laki itu mengusap kepala sang adik pelan sebelum mulai membongkar ransel miliknya.
"Mas, obat mas Candra masih ada kan?" Candra yang ditanya seperti itu langsung terdiam.
"Masih kok, kamu tenang aja." Candra menunjukan kotak kecil yang baru saja dia keluarkan dari dalam ranselnya. Candra dengan cepat memindahkan isi kotak itu kedalam laci nakas dan menyimpan kotaknya kedalam lemari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Candra Lintang
FanfictionMereka meninggalkan kota tempat mereka dibesarkan, menuju tempat mereka dilahirkan, kembali menyusuri jalan dimana kisah kedua orang tua mereka terjalin. Mencari keberadaan sisa konstelasi bintang yang dahulu sangat berharga untuk kedua orang tuany...
