21. Titipan Altair

1K 117 14
                                        


.
.
.
.
.
Regi duduk di sisi ranjang tempat Candra tidur, pemuda itu sedang sibuk mengompres dahi Candra sementara Lintang sedang mandi. Tadi siang setelah Astra pulang, Lintang kembali mengecek keadaan Candra, bermaksud membangunkan kakak nya itu untuk makan, namun yang didapatkan oleh Lintang adalah Candra sedang meringkuk dalam selimut dalam keadaan menggigil.

"Gi, belum turun juga?" Regi segera mengambil termometer yang baru saja digunakan mengecek suhu tubuh Candra, kemudian menggeleng.

"Belum, masih tinggi. Mau hubungin yayah sama bubun? Biar mereka pulang sekarang?" Lintang menggeleng.

"Jangan nanti mas Candra malah marah sama aku." Regi merengut sedih.

"Kenapa marah? Aku lihat kalian deket sama om Igel sama om Rion. Mereka dokter Lin, mereka pasti bisa paham keadaan mas Candra." Lintang tetap menggeleng.

"Mas Candra gak mau mereka tau Gi, mas Candra gak mau ngerepotin mereka nanti nya." Regi menggigit bibir bawahnya.

"Mas Candra terlalu mandiri Lin, sebenernya kamu juga tapi kamu masih punya aku yang jadi tempat kamu cerita sedangkan mas Candra bener-bener sendiri." Lintang kali ini mengangguk. Dia sangat tahu bahwa kakak nya itu terlampau mandi sejak kecil mereka hanya tinggal dengan sang bunda yang bekerja dengan menerima pesanan kue dan makanan yang dipasarkan secara online, hal itu membuat Candra tumbuh dewasa sebelum waktunya, dia menjaga Lintang saat sang bunda tengah sibuk, bahkan Lintang kerap kali merasa bahwa Candra adalah ayahnya.

"Obat mas Candra tinggal sedikit Gi, paling gak obat itu akan habis dalam waktu dua minggu, itu pun kalau mas Candra gak sering kambuh. Tapi kamu tau sendiri mas Candra keras kepala, padahal aku udah minta mas Candra buat berhenti kerja aja, biar aku yang kerja. Aku gak mau mas Candra capek terus sakit, aku takut." Regi langsung memeluk tubuh Lintang saat sahabatnya itu mengeluhkan semuanya.

"Sekarang ada aku disini Lin, ada yayah sama bubun juga om-om yang lain. Mereka pasti mau bantu jagain mas Candra tanpa merasa repot Lin, kamu harus bilang ke mereka, minimal ke om Igel atau om Rion." Lintang menunduk, jika seperti ini dia harus bisa memaksa Candra untuk mengatakan semua nya.

"Gi, kamu berapa lama disini?" Regi terlihat berfikir sejenak sebelum akhirnya melepas pelukannya pada Lintang.

"Aku libur tiga bulan, jadi aku bakal di sini tiga bulan. Disana udah gak ada temen main." Lintang tertawa, biasanya dulu saat Regi libur kuliah, dia hanya akan mengunjungi pare selama satu minggu kemudian kembali ke semarang dan merusuh di rumah Lintang hingga masa libur nya habis.

"Gak ada temen main,apa gak ada tempat nginep?" Regi tertawa kikuk mendengar ucapan Lintang.

"Itu kamu paling tau Lin."

"Ugh." Lintang dan Regi langsung beralih menatap ke arah Candra yang membuka matanya perlahan.

"Mas." Lintang langsung naik ke atas kasur dan membantu kakak nya itu untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang.

"Minum mas?" Candra mengangguk membuat Regi segera menyodorkan segelas air dan membantu Candra minum.

"Makasih Gi." Regis tersenyum manis mendengar ucapan terima kasih Candra.

"Mas,kita bilang ke om Igel sama om Rion ya?" Candra menggeleng, sedari awal dia tidak pernah ingin orang lain tau kondisinya, cukup dia merepotkan sang bunda juga Lintang selama ini.

"Jangan, nanti mas ngerepotin mereka." Lintang sudah siap menangis saat mendengar jawaban Candra.

"Mas, mas pernah bilang kalau mas bakal ngelakuin semua permintaan ibun kan? Mas lupa ibun pernah minta mas bilang jujur soal keadaan mas ke om Igel sama om Rion?" Candra terdiam, bagaimana dia bisa lupa jika selama ini hal itu menjadi beban pikirannya. Candra harus menyerahkan titipan Alta untuk adik-adik nya melalui Igel dan Rion, saat itu juga Candra juga harus siap jujur akan keadaan nya.

Candra LintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang