.
.
.
.
.
Sejak kedatangan Regi dua hari lalu sikap Candra menjadi sedikit aneh, pemuda itu memang masih tersenyum seperti biasa tapi jelas sekali terlihat jika Candra serba hati-hati saat berbicara. Perubahan sikap Candra tentu saja disadari oleh Regi mau pun Lintang, mereka berdua terlampau hafal dengan sikap Candra.
"Mas, mas kenapa?" Candra yang baru saja pulang dari cafe langsung di todong pertanyaan oleh Lintang saat Candra masuk kedalam kamar.
"Mas gak papa dek, memang mas kenapa?" Lintang menghela nafas kesal, remaja itu masih duduk bersila di atas kasur sambil memperhatikan Candra yang sedang melepas kemeja nya.
"Mas tau pasti apa yang Lintang maksud." Candra menghentikan gerakan nya melepas kancing kemeja dan berbalik menatap Lintang.
"Iya mas ngerti dan kamu juga jelas tau apa yang jadi kekhawatiran mas." Lintang merengut, kekhawatiran Candra selain tentang dia pasti tentang kondisi nya.
"Mas, mau bilang ke om Igel sama om Rion kayak pesen ibun?" Candra hanya menggeleng, dia tidak pernah ingin mereka mengetahui kondisi nya.
"Jangan pernah bilang apa pun ke mereka dek." Lintang menatap Candra bingung, bukan kah jika Candra mengatakan kondisi nya pada Igel atau Rion bisa mempermudah Candra saat harus ijin ke rumah sakit.
"Kenapa mas? Bukan nya lebih bagus kalau mereka tau?" Candra kembali menggeleng, kali ini dia menyentuh pundak Lintang.
"Mas gak mau ngerepotin mereka dek, dengan kita ada di sini aja mas udah ngerasa ngerepotin, gimana kalau mereka tau kondisi mas." Lintang menunduk, jika boleh jujur dia juga merasa merepotkan disini.
"Mas, tapi mereka pasti curiga kalau mas ijin ke rumah sakit." Candra tersenyum lembut melihat kekhawatiran Lintang.
"Tenang aja, mas pasti ke rumah sakit kalau waktu libur, kamu gak perlu khawatir soal itu." Lintang ingin menangis saat ini, kondisi Candra adalah satu hal yang selalu membuatnya takut.
"Lintang takut mas." Candra memilih untuk memeluk Lintang yang tengah menangis.
"Jangan nangis nanti kamu jelek. Lintang memukul paha Candra pelan, kenapa kakak nya itu selalu saja bercanda setiap dia mulai serius.
"Jangan takut, kan mas masih disini." Lintang menangis semakin kencang saat Candra berbicara seperti itu.
"Kadag aku benci sama yanda yang udah nurunin semua hal ke mas." Candra terdiam, sebelum tangannya kembali mengelus tubuh mungil Lintang.
"Jangan gitu, semua udah takdir dek. Yanda pasti juga gak mau kayak gitu." Lintang menyembunyikan wajah nya di pundak Candra.
"Maaf mas." mendengar permintaan maaf Lintang, Candra hanya tersenyum.
"Udah jangan nangis, mending temenin mas tidur. Mas ngantuk banget." Lintang mengernyit saat mendengar kata mengantuk dari Candra. Ini masih pukul delapan malam, biasa nya Candra tidak akan mengantuk jam segini.
"Mas habis minum obat?" Candra mengangguk mengiyakan.
"Ya udah mas lepas dulu kemeja nya baru tidur, gak mau mandi dulu?" Candra menggeleng sambil melepas kemeja nya dan melemparkan itu ke keranjang di sebelah pintu kamar mandi.
"Besok aja lah, mager mas." Lintang berdecak kesal saat sifat malas Candra keluar. Pemuda itu bahkan hanya pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, setelah itu langsung merebahkan diri di atas ranjang.
"Mas, besok libur kan?" Candra mengangguk kecil, dia memperhatikan Lintang yang tengah memainkan jemarinya.
"Mas jangan marah sama Lintang ya?" Candra mengernyit bingung, kenapa dia harus marah pada adik nya itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Candra Lintang
FanfictionMereka meninggalkan kota tempat mereka dibesarkan, menuju tempat mereka dilahirkan, kembali menyusuri jalan dimana kisah kedua orang tua mereka terjalin. Mencari keberadaan sisa konstelasi bintang yang dahulu sangat berharga untuk kedua orang tuany...
