.
.
.
.
.
Candra menghembuskan nafas kasar, hari ini Ares mengajak mereka ke tempat pariwisata yang ada di batu, kata Ares dan para orang tua yang lain, dulu mereka pernah ke sini sebelum mereka menikah. Candra sebenarnya tidak masalah jika melihat Lintang antusias, tapi yang membuat Candra sebal adalah dia harus bertemu dengan seseorang yang paling tidak ingin dia temui lagi.
"Candra kamu kenapa sih?" Candra yang sedari tadi menempel pada Rion langsung mendengus, berharap saja jika orang itu tidak menyadari kehadiran Candra.
"Mas Candra!" belum sempat Candra menjawab, Lintang sudah terlebih dahulu menghampiri mereka bersama Regi. Lintang segera membisikan sesuatu pada Candra, yang langsung diangguki oleh Candra begitu melihat lirikan mata Regi.
'Mas bisa pura-pura pingsan gak? Ada tante-tante ulat bulu disini, dia tau kalau ada Lintang, bahkan sempet nyapa Lintang. Kita harus cepet pulang.'
"Mas, Lintang mau ke yanda dulu, mas sini aja sama ayah ya." Candra mengangguk, kedua netranya menatap lekat pada kepergian Lintang dan Regi.
"Lintang ngomong apa Can?" Candra menggeleng dan langsung menyandarkan dagu pada pundak Rion, karena Candra memeluk Rion dari belakang.
"Kita masih lama ya disini yah?" Rion melirik ke arah wajah Candra yang ada di pundaknya.
"Kenapa sih?"
"Candra ke mobil duluan boleh?" Rion semakin bingung dengan permintaan Candra.
"Capek ya? Ya udah ayo sama yah ke mobil." beruntung kunci mobil Rion yang bawa, jadi mereka tidak perlu mencari yang lain hanya untuk meminta kunci.
Lintang memang meminta Candra untuk pura-pura pingsan tapi sebenarnya tanpa pura-pura pun Candra bisa saja pingsan mendadak, tapi Candra tidak ingin membuat orang tua mereka khawatir.
"CANDRA!" Candra yang semula berjalan di samping Rion langsung mematung saat mendengar suara wanita memanggil namanya, padahal mereka sudah ada di parkiran.
"Siapa yang manggil kamu itu Can?" Candra masih diam, bahkan saat wanita itu berhenti didepan mereka pun Candra masih diam.
Grep
"Ya ampun beneran Candra, kangen banget sih sama Candra. Kenapa kamu tiba-tiba berhenti dari cafe setahun lalu? Terus tiba-tiba pindah dan sekarang ada di malang!" Candra mencoba melepaskan pelukan wanita itu, bahkan Rion di buat bingung saat melihat wanita itu tiba-tiba memeluk Candra.
"Maaf, tolong lepasin saya tante Kiran." wanita itu cemberut saat Candra berhasil melepaskan pelukannya.
"Ih Candra kok sekarang gak mau tante peluk sih." Candra langsung menyembunyikan diri dibelakang tubuh Rion yang sudah menatap tajam pada Kiran.
"Maaf tante tapi saya mau pulang." Rion yang mendengar ucapan Candra langsung menarik tangan Candra lembut agar masuk ke mobil mereka.
"Eh tunggu, ini siapa kamu Can? Ganteng." Rion langsung ngeri saat melihat Kiran menatap lekat padanya.
"Dia ayah saya, tolong minggir tante kita mau pulang." tanpa banyak kata Candra berganti menarik tangan Rion dan masuk kedalam mobil.
"Cewe itu siapa sih? Gatel banget kayaknya." Candra mengedikan bahunya.
"Bukan kayaknya lagi om, tapi emang. Dia bos Candra waktu di semarang dulu, dia suka sama ibun hih." Rion langsung mendelik, bagaimana mungkin wanita seperti itu menyukai Alta yang jelas-jelas juga seorang ibu.
"Sinting." Candra mengangguk kecil.
"Udah kita tunggu sini, sebentar lagi yang lain nyusul terus kita balik ke vila." Candra lagi-lagi mengangguk, beruntung saat ini Rion dan Candra sedang duduk di bangku tengah, jadi Candra bisa dengan leluasa menyandarkan kepalanya pada pundak Rion dan terlelap.
"Cepet banget tidurnya, capek banget ya?" Rion yang melihat Candra tertidur di pundaknya hanya bisa memijat kecil tangan pemuda itu.
"Candra kenapa?" Rion hampir saja mengumpat saat Igel sudah membuka pintu mobil dan menatapnya.
"Nanti aku ceritain, sekarang kita balik dulu aja." Igel, Ares, Hadar dan Alden yang satu mobil dengan mereka langsung mengangguk.
"Yang lain beneran gak papa ditinggal bli?" Ares mengangguk.
"Gak papa, aku udah bilang ke papa sama yang lain kalau Candra kecapekan."
.
.
.
.
.
Rion sudah menceritakan pertemuan mereka dengan Kiran pada yang lain, Ares, Igel, Hadar dan Alden langsung menggeleng heran, kenapa masih ada spesies perempuan seperti itu.
Saat ini mereka sedang menghabiskan waktu mereka dengan mengobrol santai di halaman belakang vila, kadang Ares ingin tertawa saat mengingat dulu dia pernah dikerjain Hadar dan Leo di bangunan belakang vila ini.
"Kalau gini aku jadi inget kalau Hadar pernah dimarahin a' Ares disini." ucapan Alden membuat mereka tertawa, tentu saja mereka juga mengingat. Ares menakutkan saat itu.
"Salah sendiri kenapa ngerjain orang."
Pyar!
Keempat laki-laki itu terkejut mendengar suara pecahan gelas dsri arah dapur, Ares dan Rion adalah orang pertama yang berlari masuk kedalam vila untuk mengecek hal itu.
"CANDRA!" ke empat nya terkejut saat melihat Candra terbaring tidak sadar di lantai dapur. Ares dengsn cepat langsung mengangkat dan memindahkan Candra ke dalam kamar.
"Candra." Ares menepuk pipi Candra mencoba menyadarkan putra sulungnya itu.
"Candra bangun Can." Rion dengan cepat mengusapkan minyak kayu putih ke hidung juga dada Candra.
"Bli tahan badannya." Alden yang melihat Ares menahan badan Candra dari belakang langsung meraih kotak tisu di atas meja.
"Ini Yon." Rion tersenyum saat melihat Alden menghampirinya.
"Tolong kamu yang seka Den, Hadar tolong ambilin obat Candra." Hadar langsung membongkar tas Candra dan mengambil tabung obat milik pemuda itu, sedangkan Rion mencoba memijat tangan Candra pada titik dimana bisa merangsang rasa sakit Candra.
"Eungh." Ares yang mendengar lenguhan Candra kembali menepuk pelan pipi Candra.
"Candra denger yanda?" Ares menghela nafas lega saat Candra kembali melenguh pelan.
"Nak, buka matanya Candra, mi um obat dulu." kali ini Alden yang membuka suara, laki-laki itu baru saja selesai membersihkan mimisan Candra.
"Yanda." Ares kembali menepuk pipi Candra saat anaknya itu memanggilnya.
"Iya yanda disini, minum obat dulu ya." Ares sudah melihat Rion mengarahkan dua butir obat pada mulut Candra dan segera memberikan air.
"Uhuk...uhuk..." Rion segera mengelap tetasan air di sekitar bibir Candra karena pemuda itu tersedak kecil.
"Udah gak papa, sekarang Candra bisa istirahat lagi." Candra kembali mmejamkan matanya saat rasa sakitnya belum juga berkurang, bahkan Candra tanpa sadar menggenggam tangan Alden.
"Ibun." gumaman Candra lagi-lagi membuat mereka terdiam.
"Kayaknya rencana lo buat jemput mas Alta dalam waktu deket bener bang, mungkin dengan adanya mas Alta, Candra punya semangat buat sembuh." Ares mengangguk mendengar ucapan Hadar.
"Mas Azka bilang lusa mereka berangkat ke pare, mas Azka juga bilang kalau mereka udah mastiin kondisi disana lewat Lino. Tapi mas Reska pasti bakal ikut ke pare." Ares menghela nafas, dia menatap wajah pucat Candra yang sudah berbaring di atas ranjang.
"Gak papa, lagi pula ada anak-anak yang gak akan biarin orang lain nyentuh Candra." Rion, Alden dan Hadar mengangguk.
"Bener juga mas, lagi pula Jojo sama Regi juga bisa marah banget kalau lihat Candra luka sedikit." Ares kembali mengangguk.
"Bang jodohin Jojo sama Lintang yok." Ares tertawa pelan.
"Kalau soal itu terserah Lintang Dar, aku gak mau maksa dia. Kalau emang dia jodoh sama Jojo ya gak masalah." Hadar mengangguk-anggukan kepalanya.
"Tapi aku masih penasaran sama cewe yang di ceritain Rion tadi loh."
"Candra bilang kalau cewe itu suka sama mas Alta, kan kocak."
"Dia gak tau kalau Alta gak suka cewe."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Candra Lintang
FanfictionMereka meninggalkan kota tempat mereka dibesarkan, menuju tempat mereka dilahirkan, kembali menyusuri jalan dimana kisah kedua orang tua mereka terjalin. Mencari keberadaan sisa konstelasi bintang yang dahulu sangat berharga untuk kedua orang tuany...
