.
.
.
.
.
Sudah tiga hari Candra betah dengan tidur nya, pemuda itu mungkin sudah terlalu lelah dan butuh istirahat. Kamar Ares menjadi tempat yang paling sering mereka datangi saat ini, Lintang dan Ares bahkan sering tidur di ruangan Candra.
Seperti saat ini, Ares sudah membuka gorden jendela di kamar itu agar ada cahaya matahari yang masuk. Azka melihat semuanya, selain penghuni rumah bintang Azka dan Angga adalah orang orang yang rutin masuk kedalam ruangan Candra untuk memantau kondisi cucu mereka itu.
"Ares, bisa mas ngobrol sebentar sama kamu di bawah?" Ares yang baru saja keluar dari ruangan Candra hanya mengangguk.
Ares tau apa yang akan di bicarakan Azka saat ini, terutama saat melihat jika orang tua dan semua adiknya berkumpul di ruang tamu.
"Res, semua udah siap. Maaf kalau om harus ngomongin ini sekarang." Ares menggeleng.
"Gak papa om Fajar, maaf kalau aku ngerepotin om." Fajar mengulas senyum menatap putra sahabatnya itu.
"Gak usah minta maaf, mungkin dengan kamu bawa Alta pulang ke sini, Candra bisa cepet sadar." Ares mengangguk, laki-laki itu menatap kearah adik-adiknya sebelum membuat keputusan.
"Papa, ayah, aku minta tolong buat pantau keadaan Candra selama aku pergi." Damar dan Angga mengangguk, mereka tau memantau keadaan Candra akan menjadi tanggung jawab mereka saat Ares dan Azka pergi menjemput sang nyonya keluarga sahasya.
"Jemput Alta nak, bawa menantu ayah pulang." Ares mengangguk. Laki-laki itu kemudian menatap Lintang yang tengah menunduk di sebelah Alden.
"Lintang, jaga mas selama yanda pergi jemput ibun ya?" Lintang mengangguk kecil.
"Bawa ibun pulang nda, mas Candra pasti kangen banget sama ibun." Ares mengangguk dan memeluk Lintang.
"Yanda akan bawa ibun pulang untuk kalian."
.
.
.
.
.
Rehan melirik Reska yang sedari tadi mengintip kegiatan berkemas Azka, Azka sendiri bukan tidak mengetahui, hanya dia terlalu malas meladeni Reska sejak kejadian dimana pemuda itu memukul dan melecehkan Candra. Meskipun mereka semua tau Reska tidak menyentuh bagian belakang Candra, tapi tetap saja perbuatan Reska sangat membuat Azka marah.
"Ngapain kamu di situ?" Reska tersentak saat Rehan membuka suara. Memang tidak selembut biasanya tapi sudah lebih baik dari pada di banding sebelumnya.
"M-maaf mas." Rehan menghela nafas, dia jelas melihat ketakutan di mata Reska.
"Mas." Azka menoleh saat Rehan menepuk pundaknya.
"Apa yang?" Rehan kembali menatap ke arah pintu kamar sebelum kembali menatap wajah tampan suaminya.
"Sampai kapan kamu mau marah sama Reska?" Azka menghentikan kegiatannya agar bisa fokus pada Rehan.
"Kamu tau jawaban ku yang." Rehan menghela nafas.
"Aku tau mas, aku juga marah sama dia tapi aku gak bisa ngelihat dia ketakutan ngelihat kita. Bagaimana pun Reska tumbuh sama kita, kita bisa kasih tau dia baik-baik, kita bisa minta dia sujud maaf ke Candra, Ares sama Lintang." Azka menyentuh pundak Rehan dan meremasnya pelan.
"Rehan dengerin aku, aku tau kalau Reska bertindak kayak gitu karena dia takut Ares akan ngebuang dia. Selama ini dia tumbuh sama kita, kita tau gimana dia natap Ares kagum. Dia gak mau kehilangan kasih sayang dan perhatian Ares yang bahkan selama ini jarang dia dapetin. Dia iri lihat Candra saat tau Candra bisa dengan mudah dapet semua kasih sayang Ares, aku gak nyalahin alasan Reska ngelakuin semua itu, karena aku tau Reska tumbuh karena Ares di sisinya, tapi aku marah sama tindakan dia yang ngelecehin keponakannya sendiri. Kamu sebagai psikiater pasti tau trauma dari orang yang mendapat pelecehan itu jauh lebih berat di banding trauma dari orang yang mendapat kekerasan." Rehan menunduk, dia tau ucapan Azka semua nya benar.
"Kalau masalah maafin Reska, semua tergantung Candra. Kamu tau mau semarah dan sebenci apapun Ares, dia pasti akan tetap memaafkan. Bahkan ke mas Johan sama Ana pun Ares tetap maafin mereka. Dan semoga sifat Ares yang itu juga ada di diri Candra." Rehan memeluk tubuh Azka lekat.
"Besok mas berangkat cuma sama Ares sama Igel aja?" Azka mengangguk, mereka akan datang diam-diam. Jika mereka datang dengan banyak orang orang tua Alta pasti akan tau.
"Iya yang, kita sudah ambil penerbangan ke surabaya di hari yang sama, jadi kita gak akan lama-lama di jogja. Untungnya rumah Lino ini bener-bener gak di ketahui keluarga Alta, jadi Alta aman selama di sana." Rehan senyum senang.
"Kalian berangkat utuh, pulang juga harus utuh tanpa luka, awas kalau sampai aku lihat luka di badan kamu mas, gak ada jatah!" Azka langsung memasang wajah melas pada Rehan.
"Yang kok gitu sih?" Rehan membuang wajahnya acuh.
"Pokoknya harus pulang tanpa luka!" Azka akhirnya mengangguk.
"Soal Reska kamu gak usah khawatir, semua udah sepakat bakal maafin Reska kalau Candra maafin anak itu, mungkin Lintang bukan termasuk dalam daftar orang yang akan maafin Reska." Rehan kembali tersenyum.
"Kalau gitu aku yang bakal pastiin Reska mau minta maaf dengan tulus ke Candra."
.
.
.
.
.
Ares sedang berada di ruangan Candra saat ini, laki-laki itu menggenggam tangan Candra yang terasa sedikit dingin.
"Candra, masih capek ya?" Ares kembali mengajak Candra berbicara. Atas saran Angga, Damar juga Azka, siapa pun yang menjaga dan mengunjungi Candra bisa mengajak Candra berbicara atau pun bercerita. Candra memang koma tapi dia tetap bisa mendengar semua ucapan orang-orang di sekitarnya, bahkan Rehan juga menyarankan hal yang sama.
"Candra kapan mau bangun? Gak kangen sama yanda sama Lintang." Ares mengelus punggung tangan Candra yang bebas dari infus.
"Candra kangen ibun kan? Yanda besok mau jemput ibun, tapi Candra harus janji kalau Candra bakal bangun waktu ibun sudah disini." Ares meneteskan air mata, dia tidak bisa membayangkan akan kehilangan putra sulungnya.
"Candra nya yanda sama ibun kuat kan? Candra harus bangun, Lintang nanti nangis kalau Candra gak bangun-bangun."
"Tunggu sebentar lagi, yanda janji ibun pasti udah ada di sisi Candra waktu Candra bangun. Tunggu yanda ya." Ares mencium dahi Candra sedikit lama sebelum memutuskan keluar kamar, dia harus berangkat malam ini ke surabaya, pesawat yang akan membawa mereka ke jogja akan terbang jam enam pagi, jadi mereka tidak boleh sedikit pun terlambat.
Ares di sambut Lintang saat keluar dari kamar, remaja itu langsung memeluk tubuh sang ayah erat.
"Yanda hati-hati, bawa ibun pulang. Kalian harus kembali ke sini Lintang sama mas Candra nunggu." Ares mengangguk, laki-laki itu menepuk punggu Lintang beberapa kali.
"Yanda janji, yanda pasti bawa ibun pulang. Lintang jaga mas Candra selama yanda gak ada ya?" Lintang mengangguk.
"Cuma sehari, yanda, papa sama om Azka bakal pulang di hari yang sama, kamu gak usah khawatir." Ares memberikan senyum teduh pada Lintang.
"Lintang percaya sama yanda, sama papa, sama om Azka juga. Kalian pasti bawa ibun pulang."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Triple up...
Mendekati kepulangan Alta nih...
Ada yang nunggu Alta pulang?
Atau gak usah di pulangin aja ya...
Selamat membaca dan semoga suka...
See ya...
-Moon-
KAMU SEDANG MEMBACA
Candra Lintang
FanfictionMereka meninggalkan kota tempat mereka dibesarkan, menuju tempat mereka dilahirkan, kembali menyusuri jalan dimana kisah kedua orang tua mereka terjalin. Mencari keberadaan sisa konstelasi bintang yang dahulu sangat berharga untuk kedua orang tuany...
