13. Sakit

1K 119 1
                                        


.
.
.
.
.
Lintang menghela nafas panjang saat mendengar Candra merengek agar diijinkan pulang, tapi tetap saja Candra masih harus berada di rumah sakit hingga kondisinya cukup baik.

"Dek, ayo pulang aja ya." Lintang menggeleng, entah sudah rengekan keberapa yang Candra utarakan sejak laki-laki itu bangun tadi pagi.

"Dek, Lintang, adek mas yang paling cakep." Lintang tetap menggeleng, kali ini dia tidak akan kalah dengan rengekan Candra.

"Gak mas, sekali aja mas nurut sama Lintang. Liat mas kayak kemarin itu bikin Lintang takut." Candra langsung terdiam begitu mendengar nada lirih dari Lintang.

"Dek sini deh, gak mau peluk mas gitu?" Lintang langsung menghambur memeluk tubuh ringkih Candra begitu sang kakak seleaai berucap.

"Jangan minta pulang dulu, mas harus dapat perawatan dulu." Candra akhirnya mengangguk saat menyadari bahwa Lintang menangis dalam pelukannya.

"Maafin mas ya, karena udah bikin kamu khawatir." Lintang mengangguk kecil.

"Mas, habis ini jam makan siang mas. Kalau Lintang tinggal dulu habis mas makan siang gak papa ya? Lintang mau pulang ganti baju sekalian ambil keperluan mas buat beberapa hari." Candra memberi anggukan.

"Jangan lupa makan dek, jangan sampai kamu ikut sakit." Lintang hanya mengangguk kecil. Remaja itu sadar jika dia tidak boleh ikut sakit saat ini karena Candra membutuhkan nya.

"Iya mas, asal mas cepet sehat." Candra kembali memeluk tubuh mungil Lintang.

"Dek, nanti bawain hape mas ya, mas belum ijin ke om Rion kalau gak bisa masuk dulu." Lintang terdiam sejenak mendengar suara lirih Candra, benar sekali Lintang lupa soal itu.

"Iya nanti Lintang bawain, sekalian Lintang ambil charger. Tapi mas, aa gak sebaiknya Lintang ijinin langsung aja ke om Rion?" Lintang mengernyit saat tidak mendapat balasan dari Candra, begitu pula pundaknya yang terasa berat karena kepala Candra bertumpu disana.

"Mas?" Lintang menjauhkan tubuhnya untuk melihat Candra, remaja itu menghela nafas saat mendapati bahwa Candra tertidur dengan nafas teratur.

"Obat dari rumah sakit kayaknya bikin mas sering tidur, tapi gak papa biar mas istirahat." Lintang merebahkan tubuh Candra dan memperbaiki letak selimutnya.

"Lintang pulang dulu ya mas, sekalian nanti Lintang mampir ke cafe buat ijinin mas."
.
.
.
.
.
Lintang kembali memeriksa tas berisi beberapa pakaian Candra juga dirinya yang akan dibawa ke rumah sakit, remaja itu juga membawa charger untuk ponselnya juga ponsel Candra. Semalam dia hanya sempat memberi kabar pada Astra jika dia ijin tidak masuk karena kakaknya sakit, tapi stelah itu pinselnya mati karena kehabisan daya, bahkan Lintang belum mendapat balasan dari Astra.

Lintang memastikan seluruh pintu dan jendela rumahnya terkunci rapat, Lintang masih takut jika akan ada yang mencoba masuk kedalam rumahnya lagi seperti dua hari lalu. Setelah beres Lintang menjalankan mobilnya menuju Galaxy's cafe, seperti niat awalnya dia ingin meminta ijin untuk Candra.

"Syukurlah mereka sudah buka, kalau masih tutup aku bingung mau ijin kemana." setelah memastikan bahwa cafe sudah buka meskipun masih cukup sepi, Lintang memutuskan untuk masuk kedalam.

Kling

"Selamat datang." Lintang tersenyum saat mendengar suara Alden dibalik meja kasir.

"YA TUHAN LINTANG!" Lintang kembali tersenyum saat mendengar suara pekikan Rius yang baru saja selesai mengantar pesanan.

"Siang om." Alden yang sebelumnya tidak menoleh sekarang justru dengan cepat berjalan keluar dari balik meja kasir untuk menghampiri remaja itu.

"Kamu sama Candra kemana aja? Semalem om sama om Hadar kerumah buat ngecek tapi kalian gak ada!" Lintang menggaruk lehernya canggung, dia jadi bingung harus bagaimana memulai penjelasannya.

Candra LintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang