49. Datang diam-diam, pergi diam-diam

799 123 11
                                        


.
.
.
.
.
Ares, Igel dan Azka sampai di jogja sembilan pagi, ah lebih tepatnya sampai di rumah milik Lino, beruntung rumah itu tidak bgitu jauh dari bandara. Rumah itu bukan rumah mewah seperti yang selama ini mereka bayangkan, rumah itu hanya rumah sederhana dengan halaman luas, mirip dengan rumah Azka di surabaya.

Taxi yang membawa ketiganya dari bandara berhenti tepat di depan rumah itu, begitu mereka hendak mengetuk pintu mereka di kejutkan oleh seorang remaja manis yang baru saja membuka pintu tersebut. Ares, Azka dan Igel hampir saja memekik gemas saat melihat remaja itu mengedipkan matanya sebelum akhirny tersenyum.

"Kalian cari papi kan?" ketiganya mengernyit, mereka sama sekali tidak mengenali remaja di hadapannya itu.

"Kamu siapa?" remaja manis itu tersenyum.

"Aku Jeje om, om Ares, om Azka, om Rigel benar?" ketiga nya mengangguk.

"Masuk aja om, Jeje panggilin papi sama mami dulu." Ares, Azka juga Igel hanya bisa saling melirik dan mengikuti langkah kaki remaja bernama Jeje itu masuk kedalam rumah.

"PAPIII...MAMI...ADA TAMU SPESIAL PAKAI TELOR LIMAAA..." Ares, Azka dan Igel terkejut saat mendengar teriakan Jeje, remaja manis itu ternyata memiliki suara yang melebihi tos masjid.

"Udah mami bilang jangan teriak-teriak Jeandra!" Jeje dengan cepat menahan tangan sang mami yang akan menjewer telingannya.

"Mami ada tamu itu!" sosok yang dipanggil mami itu langsung menatap ke arah yang di tunjuk Jeje, kedua netranya membulat saat mengetahui siapa yang ada di hadapan nya itu.

"Mas Ares, Mas Azka, Igel?" ketiga nya tersenyum saat melihat sosok yang mereka cari, Rafi.

"Ya tuhan akhirnya." Rafi jelas memekik senang saat melihat tiga laki-laki itu.

"LINOOO...OI PERMEN KINO!" Azka, Ares dan Igel menggeleng, tidak heran tingkah Jeje seperti itu jika tingkah Rafi saja seperti itu.

"Beb ya ampun, ini rumah loh bukan hutan, dan lagi rumah ini gak sebesar rumah utama kita sayang." Rafi cemberut saat Lino mengatakan itu, bahkan Jeje sudah tertawa terbahak.

"Ya tuhan!" Lino yang semula ingin kembali menegur Rafi justru terkejut oleh kehadiran tiga orang yang selama ini dia tunggu.

"Akhirnya kalian datang." Lino memeluk Azka, Ares dan Igel bergantian.

"Mana Alta?" Lino tersenyum saat Ares bertanya. Lino menunjuk salah satu kamar yang pintu nya tertutup rapat.

"Di dalam kamar itu, dia kangen sama kalian, terutama anak-anak nya. Dia bakal tenggelam dalam lamunan kalau dibiarin sendirian." Ares tersenyum sendu mendengar penjelasan Lino.

"Tapi dia baik-baik aja kan?" Lino dan Rafi mengangguk.

"Fisik nya baik-baik aja, Alta sehat, tapi mentalnya lagi kangen sama anak-anak nya. Mereka baik-baik aja kan? Dari dua minggu lalu dia selalu nyebut nama Candra sambil nangis." ketiga nya terdiam, ikatan batin seorang ibu memang tidak pernah salah.

"Ada sedikit masalah sebelumnya. Dan beberapa hari lalu Candra drop, itu lah kenapa kami baru datang hari ini." Rafi dan Lino mengangguk paham.

"Pantesan mas Candra gak bales chat ku sama sekali." mereka sontak menoleh pada Jeje yang sudah cemberut.

"Hih inget Candra itu sepupu mu, gak boleh suka dia." Rafi mengusap wajah Jeje gemas.

"Ih mami, dalam agama itu bisa tau, soalnya kita sepupu dari pihak ibu." Rafi menghela nafas kesal, kenapa anak nya itu ngotot sekali.

"Memang Candra mau sama kamu?" Jeje kembali cemberut.

"Mas Candra gak mau punya hubungan cinta katanya bikin repot." Rafi sudah tertawa kencang sedangkan Lino menggelengkan kepalanya.

Candra LintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang