31. Antares dan Lintang

990 124 8
                                        


.
.
.
.
.
Ares tahu, dibanding pertemuan nya dengan Candra kemarin, pertemuannya dengan Lintang sore ini menjadi saat yang emosional bagi mereka. Bukan Ares tidak menyayangi Candra, tetapi karena Ares sudah pernah mendekap Candra saat masih kecil dulu, berbeda dengan Lintang yang bahkan hanya bis dia peluk sehari setelah kelahirannya.

Ares membalas pelukan Lintang dengan elusan halus di punggung remaja delapan belas tahun itu, tanpa harus bertanya dan menjelaskan apapun Lintang langsung memeluk tubuhnya begitu remaja itu masuk kedalam rumah. Candra yang melihat itu hanya tersenyum lega, dia berharap jika sang bunda segera ketemu dan pulang bersama mereka.

"Lo gak mau ikut pelukan juga sama mereka Ndra?" Candra menoleh saat mendengar suara Jojo disebelahnya.

"Biarin Lintang sama yanda dulu mas, kemarin aku udah." Jojo tersenyum, dia juga ikut bahagia melihat kebahagiaan dua kakak beradik itu. Terutama dengan kembalinya Ares ke rumah bintang, orang tua mereka juga menjadi lebih bahagia.

"Lo pasti sakit sendiri kan waktu harus nyembunyiin semuanya dari Lintang?" Candra terkekeh pelan.

"Bukan sakit mas, lebih ke takut." Jojo menatap Candra yang tetap menatap kedua orang kesayangannya di ruang tamu. Posisi mereka saat ini sedang duduk di anak tangga.

"Mau ngobrol di balkon atas aja Ndra?" Candra menoleh dan mengangguk, hal itu membuat Jojo bangkit lebih dulu dan naik ke lantai dua.

"Awal gue lihat lo waktu itu, gue kira lo pihak bawah loh Ndra." Candra kembali tertawa pelan.

"Memang sekarang mas yakin aku pihak atas?" Jojo sedikit terkejut dengan respon Candra.

"Loh memang bukan ya?" Candra mengedikan bahu nya.

"Aku gak pernah pacaran mas, dan gak tertarik buat itu. Aku sendiri gak tau posisi ku apa." Jojo melongo mendengar penuturan Candra.

"Sama sekali? Kenapa?" Candra mengangguk.

"Mikirin gimana hidup ku kedepan aja aku ragu mas, apa lagi mikirin pasangan." Jojo diam mendengar ucapan Candra. Selama ini dia bahkan terlalu sering pacaran, sebelum benar-benar menjadi bucin Lintang.

"Kalau aku punya pasangan, aku harus siap bagi waktu ku antara dia sama keluarga, dan aku belum siap soal itu. Keluarga ku belum sepenuhnya baik-baik saja, kondisi ku juga masih gini, mas pasti udah tau kan?" Jojo mengangguk kecil, dia jelas tahu keadaan Candra. Regi dan Lintang pernah bercerita soal itu padanya saat Candra sakit kemarin.

"Itu yang bikin kamu gak mau pacaran?" Candra kembali mengangguk.

"Aku bisa aja menyakiti pasangan ku nanti saat dia tau aku sakit mas, aku gak mau bikin orang lain nangis karena aku. Cukup aku lihat ibun sama Lintang nangis tiap aku drop, sekarang ditambah kalian, aku gak mau ada yang nangis karena aku." Jojo memutuskan diam setelah Candra selesai dengan ucapannya. Jojo tahu jika sejak tadi ada yang mendengar obrolan mereka dari lirikan mata Candra.

"Papa kalau mau denger jangan diem di sana apa pa." Jojo semakin terkejut saat Candra tahu siapa yang mendengar obrolan mereka. Sepeka itu pemuda disebelahnya dengan sekitar.

"Kirain kamu gak tau kalau papa berdiri di sebelah pintu." Candra kembali tertawa kecil.

"Bayangan papa kelihatan tuh." Igel ikut tertawa saat mendengar penjelasan Candra.

"Jangan peka-peka Can, susah dibohongin nanti." Candra merengut kesal.

"Papa pingin aku dibohongin ya?"
.
.
.
.
.
Lintang terus menempeli Ares sejak datang tadi, bahkan remaja itu akan merengut kesal saat di goda oleh Rion. Alden dan Rius yang melihat itu hanya bisa tersenyum maklum, anak mereka yang masih sering ketemu saja pasti menempel setiap kali ada di rumah, apa lagi Lintang yang belum pernah bertemu dengan Ares.

"Tang, mandi dulu gih, kamu baru pulang belum bersih-bersih." Lintang menatap Area sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

"Yanda jangan kemana-mana, Lintang mandi dulu." Ares hanya tertawa kecil dan mengangguk.

"Iya sana mandi, habis itu kita makan." Lintang bergegas naik ke lantai dua untuk mandi, netra remaja itu tidak sengaja menangkap Candra dan Jojo yang sedang duduk di balkon.

"Sejak kapan mas Candra sama bang Jojo deket?" meskipun bingung Lintang hanya mengabaikan saja, karena Lintang tahu Candra itu tidak akan pernah jadi pihak bawah.

Sedang dilantai bawah Ares kembali menatap adik-adiknya, terutama Alden dan Rius. Dua adik kesayangannya yang bahkan menangis paling keras tadi siang.

"Makan di luar mau gak?" Ares menoleh saat mendengar usulan Rehan.

"Makan dimana mas?" Rehan mengedikan bahu nya, dia hanya menyarankan agar mereka tidak perlu memasak.

"Makan di restoran apung aja gimana mas?" Alden dan Rius menggeleng serempak.

"Jangan deh, mending mas Ares yang ajak makan anak-anak keluar, kita makan di rumah aja. Hitung-hitung mas lebih deket sama anak-anak." Leo yang paham kenapa istrinya menolak langsung menjawab.

"Kalian gimana?" Hadar tertawa pelan.

"Bang, gak usah mikirin kita deh, kita ini udah pada berbuntut." Ares tertawa mwndengar guyonan Hadar, sudah lama dia tidak mendengar itu.

"Ya udah kalau gitu biar aku nanya anak-anak dulu." Ares bangkit dan naik ke lantai dua, laki-laki itu bukan berjalan ke arah kamar anak-anak nya tetapi malah berjalan ke arah balkon.

"Candra tidur?" Igel yang pundaknya di jadikan sandaran oleh Candra hanya mengangguk, sedangkan Jojo tampak sedikit terkejut dengan kehadiran Ares.

"Padahal mau aku ajak makan di luar sama Lintang sekalian." Ares merapikan rambut Candra yang menutupi mata, rambut Candra sudah cukup panjang, tapi anak itu tidak memiliki niat untuk memotong rambutnya.

"Mau di bangunin aja om?" Jojo berbisik lirih, tapi Ares malah menggeleng.

"Jangan, biar aku pindahin aja." Igel mengangguk dan membiarkan Ares mengangkat tubuh Candra.

"Om Ares itu mirip banget sama Lintang ya om." Igel mengangguk.

"Fisiknya memang mirip Lintang, tapi buat sifat sama kebiasaan diambil sama Candra."
.
.
.
.
.
Ares akhirnya hanya mengajak Lintang keluar, sekedar mencari makan juga jajanan. Ares membiarkan Candra tidur di kamar nya, Lintang sebenarnya ingin menolak ajakan Ares jika Candra tidak ikut, tapi melihat wajah Ares yang tersenyum membuat Lintang tidak tega menolak.

"Yanda, yanda dulu suka keliling pare?" Ares mengangguk, beruntung mereka menggunakan mobil hingga bisa keliling sedikit jauh.

"Nanti kapan-kapan yanda ajak ke vila punya om Miko." Lintang mengernyit bingung.

"Om Miko itu siapa?" Ares tertawa kecil, dia lupa jika putra bungsu nya itu tidak mengenal keluarganya.

"Sepupu yanda, nanti kalau ibun udah pulang, kita kesana ya."  Lintang akhirnya mengangguk.

"Kamu mau beli apa Lin?" Lintang menatap sekeliling nya. Mereka sudah membeli beberapa jajanan juga makanan berat.

"Yanda, berhenti di tempat penjual thai tea ya." Ares mengangguk, dia menghentikan mobilnya tepat di depan penjual thai tea.

"Beliin yanda juga ya, ini uang nya." Lintang mengangguk, remaja itu keluar dari mobil dan berjalan ke arah stand penjual thai tea.

"Lintang suka thai tea ya?" Ares mengernyit saat melihat Lintang kembali ke mobil dengan dua kantong plastik berisi thai tea.

"Kamu suka thai tea? Banyak banget beli nya." Lintang menggeleng.

"Yang ini buat orang rumah, yang ini buat yanda sama mas Candra. Yanda suka thai tea kan?" Ares mengangguk, dia baru tahu jika Candra juga menyukai thai tea.

"Ternyata Candra." Lintang tersenyum saat mendengar gumaman Ares.

"Ayo pulang Nda, malam ini Lintang boleh tidur sama yanda?" Arws mengangguk dan mengusak rambut Lintang.

"Boleh dong, gantian kamu yang tidur sama yanda."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Aku up Candra Lintang lagi nih...
Mau double, triple atau lims chapter nih?
Ya anggep aja penebusan karena bikin yang sebelah sad 👉👈

Selamat membaca dan semoga suka...

See ya...

-Moon-

Candra LintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang