05. Tawaran pekerjaan

932 129 1
                                        


.
.
.
.
.
Candra tidak tau kenapa dia bisa bertemu orang yang sama beberapa kali, memang dengan tidak sengaja, tapi cukup membuat Candra keheranan. Memang nya pare sesempit itu, hingga dia hanya bertemu dengan orang yang sama.

Candra menatap Rion yang tersenyum dihadapannya, sebelumnya Candra menolong pria itu saat hampir saja diserempet motor, dan disini lah mereka sekarang, duduk diam didalam cafe kecil yang tidak jauh dari rumah Candra.

"Om beneran gak papa?" Rion mengangguk.

"Gak papa kok, makasih udah nolongin om lagi." Candra hanya mengangguk, meskipun sudah beberapa kali bertemu tetap saja Rion adalah orang asing untuknya.

"Saya sering ketemu kamu didaerah sini, kamu tinggal disini?" Candra mengangguk sekilas.

"Iya, saya sewa rumah gak jauh dari sini." Candra tidak mengerti kenapa Rion selalu menatapnya dengan tatapan senduh seperti itu.

"Kamu kursus?" Candra mengeleng.

"Saya pindah kesini atas permintaan almarhum ibu saya." Rion mengangguk paham, tapi ada rasa tidak tenang saat mendengar ucapan Candra.

"Orang tua kamu sudah meninggal? Maaf saya gak tau." Candra tersenyum tipis.

"Gak papa om." Rion menghela nafas menatap senyum yang terukir dibibir Candra, sangat mirip dengan milik mas kesayangannya.

"Terus kegiatan kamu sekarang apa?"

"Masih mengenal tempat baru om, mungkin setelah itu saya akan cari kerja." Rion menegakan tubuhnya saat mendengar ucapan Candra.

"Cari kerja? Mau kerja ditempat om?" Candra mengerjap dengan cepat saat mendengar ucapan Rion yang antusias.

"Tempat om?" Rion mengangguk dan mengulas senyum.

"Om sama beberapa sahabat om punya cafe, eh bukan sih, cafe itu punya kakak om, jadi kalau kamu mau, kamu bisa kerja disana." Candra tampak berfikir sejenak.

"Kenapa om nawarin itu ke saya?" Candra melihat Rion mengedikan bahunya.

"Mungkin karena om lihat kamu pekerja keras, belum lagi kamu udah beberapa kali nolongin om, jadi om yakin kamu anak baik, gimana?" Candra masih terdiam, sebenarnya tawaran itu bisa saja dia terima langsung, hanya saja Candra memikirkan adiknya, Lintang harus tau lebih dulu soal ini.

"Terima kasih tawarannya om, tapi bisa saya rundingkan dengan adik saya dulu?" Rion tersenyum dan mengangguk, meskipun dia ingin membawa Candra bertemu anak rumah bintang dengan cara menawari pemuda itu pekerjaan, namun Rion juga tidak bisa memaksa.

"Oke, kamu bisa rundingin dulu sama adik kamu, kalau kamu setuju dateng aja langsung ke galaxy's cafe yang ada jalan besar itu, bilang aja om yang nawarin kamu kerjaan." Candra mengangguk, dia tidak menyangka akan dipertemukan oleh orang sebaik Rion.

"Makasih om Rion." Rion tersenyum.

"Sama-sama Candra."
.
.
.
.
.
Lintang baru saja masuk kedalam rumah dan langsung disambut oleh aroma harum nasi goreng buatan Candra. Nasi goreng buatan sang kakak memang selalu menjadi favorite nya, ah sebenarnya semua masakan sang kakak selalu menjadi favoritenya setelah masakan sang bunda.

"Mas Candra." Candra tersenyum saat melihat adiknya mendekatinya.

"Kok baru pulang? Gimana tadi?" Lintang tersenyum, Candra selalu seperti ini setiap dia pulang kerumah.

"Besok mulai kerja mas, gak sampai malem kok, cuma sampai jam lima aja dari jam sembilan pagi." Candra mengangguk, tadi pagi Lintang memang mengatakan akan pergi melihat bengkel tempat dia melamar kerja secara online semalam.

Candra LintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang