11. Kabar dari Surabaya

915 111 15
                                        


.
.
.
.
.
Igel, Hadar dan Leo menatap lekat pada sosok Azka, orang yang mereka percaya untuk mencari tahu segala kebenaran tentang dua kakak mereka. Saat ini ketiganya memang berada dikediaman Azka dan Rehan, rumah sederhana yang dulunya menjadi tempat tujuan Ares setiap kali membutuhkan penenang pikiran.

"Gimana mas? Hasilnya udah keluar kan?" Azka mengangguk, laki-laki itu menatap lekat pada ketiganya dan menyerahkan amplop berlogo rumah sakit pada Igel.

"Baru selesai tadi pagi, mas juga belum lihat, kamu bisa buka Gel, kamu pasti bisa baca hasilnya kan?" Igel mengangguk, bagaimana pun dia punya gelar dokter saat ini. Memang setelah mereka menikah Ares memaksa adik-adiknya untuk melanjutkan kuliah mereka hingga selesai.

"M-mas, ini beneran kan?" Igel meletakan selembar kertas yang baru saja dibacanya diatas meja. Membuat tiga laki-laki disebelahnya bisa membaca apa yang tertera dari kertas itu.

"Ya tuhan."

"Ternyata memang bener."

Igel menatap Azka dengan mata yang sudah berkaca-kaca, pencarian mereka selama selama delapan belas tahun ini membuahkan hasil.

"D-dia ada disana kan? Didekat kalian kan?" Igel, Hadar dan Leo mengangguk.

"Iya dia ada dalam lingkup kami mas." Azka menghela nafas lega, paling tidak dia bisa menjamin keselamatan mereka.

"Tolong jaga mereka, jaga mereka sampai kita bisa yakin keadaan baik-baik aja." ketiganya mengangguk. Jika mereka sudah mendapat kejelasan dengan bukti penting seperti tes dna ini, mereka pasti akan selalu melindungi dan menjaga keduanya.

"Sampai kapan mas?" Azka menggeleng, kepalanya tiba-tiba pusing memikirkan hal yang jelas membuatnya marah.

"Sampai dia bisa balik seperti semula."

"Mas, apa yang harus kita bilang ke dia soal mas Alta?" Azka kembali terdiam. Benar mereka melupakan sedikit fakta tentang kondisi keluarga kecil Ares itu.

"Dia gak bilang apapun soal Alta?" baik Igel, Hadar maupun Leo menunduk mendengar pertanyaan Azka.

"Dia bilang ibu nya sudah meninggal, dan itu menjadi alasan mereka datang ke pare, karena permintaan ibunya." Azka sepenuhnya terdiam saat mendengar penjelasan Hadar.

"Apa yang udah mereka bertiga lalui sebenernya?" Azka mengacak rambutnya.

"Igel, Hadar, Leo, mas percaya kalian bisa menjamin keselamatan mereka. Jadi tolong beri tahu mereka tentang siapa kalian sebenarnya, dengan begitu mungkin mereka akan lebih percaya pada kalian semua." Ketiga mengangguk mengerti. Memang itu tujuan mereka setelah ini.

"Mas, keadaan dia gimana?"

"Dia baik, mungkin akan lebih baik lagi kedepannya." Igel, Hadar dan Leo menghela nafas lega. Selama 'dia' yang mereka lindungi baik-baik saja mereka juga akan baik-baik saja.

"Kabar anak kalian gimana?"

"Baik mas." hanya Hadar dan Leo yang menjawab pertanyaan Azka, sedangkan Igel hanya tersenyum tipis.

"Gel, kamu beneran gak mau punya anak?" Igel tersenyum.

"Rion gak mau mas, menurut dia setelah kejadian itu dia cukup ngejaga dua anak bli Ares aja. Jadi aku cuma bisa ngikutin dia, aku gak bisa maksa dia buat punya anak, bisa-bisa nanti aku yang disuruh hamil." sebenarnya Hadar, Leo dan Azka kasihan mendengar ucapan Igel, tapi mereka juga ingin tertawa.

"Lagian kalian posisi nya gak jelas, dulu aja Rion kamu bikin bersuara keras, giliran Rion minta gantian kamu malah iya-iya aja." Igel medengus kesal.

"Waktu itu Rion lagi ngidam anjir, hah gak usah ingetin gue lah."
.
.
.
.
.
"Kita kasih tau mereka dulu gak?" Igel menggeleng.

Candra LintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang