26. Kejutan di surabaya

890 125 30
                                        


.
.
.
.
.
Pagi ini Jojo sedang ada di stasiun bersama Septian, sesuai rencana Septian memang hanya akan berada di pare selama satu minggu. Septian tahu dia tidak bisa mendapatkan maaf Candra, bahkan tadi sebelum berangkat Candra sudah menghindarinya dengan mengurung diri di kamar.

"Gue udah tau masalah lo sama Candra." Septian tersentak saat Jojo tiba-tiba membuka suara.

"Candra yang cerita ke gue, semua nya." Jojo kembali menyambung ucapannya saat melihat wajah bingung Septian.

"Gue bodoh banget kan?" Jojo terdiam saat Septian mulai menjawabnya.

"Gue cemburu waktu lihat dia dekat sama teman sekelasnya, sebelumnya Candra cuma main sama gue doang. Tiba-tiba dia punya temen baru dan waktunya sama gue berkurang. Gue gelap mata saat ini, gue suka sama dia. Tapi cara gue salah buat dapetin dia, yang ada justru gue kehilangan dia." Jojo menepuk pundak Septian, dia sangat tahu jika temannya itu sudah menyesal.

"Candra takut sama lo Sep, gue lihat dia tremor waktu cerita soal itu kemarin. Susah buat maaf dari orang yang trauma kayak gitu." Septian mengangguk paham.

"Gue tau Jo, gue tau. Bahkan tadi dia gak mau ketemu gue."  Jojo kembali diam saat Septian terdiam. Kedua pemuda itu sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing.

"Jo, kereta gue udah dateng, gue pamit ya. Ketemu lagi di kampus ntar." Jojo mengangguk, tapi sebelum Septian masuk kedalam peron, pemuda itu mengatakan seauatu yang cukup membuat Jojo bingung.

"Tolong sampaikan pesan gue ke orang tua lo, atau siapa pun yang ada di rumah lo itu. Tolong jaga Candra sama Lintang baik-baik, mereka mulai mengincar dua anak itu."
.
.
.
.
.
Brak

Brak

Brak

Pyar

"Pergi sialan! Biarin aku keluar, aku mau pulang!" seorang laki-laki berparas cantik tampak marah pada seseorang yang berdiri dihadapannya. Bahkan laki-laki itu tidak segan melempar barang-barang di kamar yang saat ini dia tempati.

"Aku bakal pastiin kamu pulang, tapi kamu harus sabar." gurat kemarahan semakin terlihat di wajah laki-laki itu.

"KAMU GILA? AKU MAU NEMUIN MEREKA, AKU HARUS MEMASTIKAN MEREKA BAIK-BAIK SAJA!" laki-laki itu menunduk dan jatuh terduduk saat mengingat pada orang-orang yang dia jaga selama ini.

"Aku janji sama kamu, aku pasti antar kamu kesana, tapi aku harus memastikan semua aman dulu. Kalau aku gegabah, bukan cuma kamu yang kena tapi mereka juga!" sosok itu berjalan mendekati laki-laki yang tengah menangis sesenggukan itu. Memeluk tubuh rampingnya dan mengelus punggungnya.

"Sabar, semua aman. Mereka berdua aman disana, tidak akan ada yang bisa menyakiti mereka di saat mereka berada di tangan yang tepat." laki-laki itu mendongak dan menatap sang sahabat bingung.

"A-apa maksud mu?"

"Mereka berdua berada di tangan para constellation kesayangan kalian. Mereka aman, jadi tolong bersabar." laki-laki itu akhirnya memberikan anggukan kecil pada sosok yang tengah memeluknya itu.

"Kamu harus kuat supaya siap bertempur melawan mereka."
.
.
.
.
.
Candra menghela nafas berat saat netra nya menatap jalanan surabaya, Igel dan Rion benar-benar mengajaknya ke surabaya hari ini, bahkan Damar juga ikut serta. Candra memikirkan segala hal yang bisa saja terjadi kedepannya, tentang rumah bintang, cafe bahkan sang adik, Lintang.

"Jangan ngelamun Can." Candra tersentak saat Rion menggenggam tangannya.

"Gak usah khawatir, kamu pasti baik-baik saja." Candra hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan Rion.

Candra LintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang