73. Titik perjuangan

739 107 4
                                        


.
.
.
.
.
Alta terdiam dengan tatapan kosong saat Azka mengatakan jika Candra kembali koma, padahal baru satu bulan lalu pemuda itu sadar dari koma nya. Alta ketakutan, dia tidak pernah siap jika harus kehilangan putra sulung nya itu.

"Alta."

Grep

"Hiks...hiks...hiks..." tangis Alta pecah saat tubuhnya di dekap oleh Ares yang baru saja kembali dari ruangah Azka.

"Candra pasti bangun, dia udah janji." Ares mengatakan itu agar Alta sedikit tenang.

"Aku takut Res...aku selalu takut setiap kali Candra drop kayak gini." Ares mengelus punggung Alta yang bergetar.

"Aku tau Ta, aku juga sama takut nya. Apa lagi aku baru ketemu kalian sebentar." Ares mengeratkan pelukan nya pada Alta.

"Ayo lakukan oprasi nya Res, aku mau Candra sembuh." Ares mendunduk, menatap wajah cantik Alta yang sedang memandangnya.

"Aku udah bicarain itu sama mas Azka, kita harus cari donor dulu selagi kita nunggu kondisi Candra stabil." Alta menatap lekat pada wajah suami nya.

"Kapan kita bisa tes kecocokannya?"

"Lusa, itu yang di bilang mas Azka. Semoga di antara kita ada yang cocok sama Candra." Alta mengangguk dan kembali memeluk tubuh Ares, mengembunyikan wajahnya pada perut Ares.

"Aku yakin salah satu dari kita pasti bisa jadi pendonor untuk Candra."
.
.
.
.
.
Tidak ada yang percaya dengan kabar yang baru saja di berikan Ares pada mereka, mereka tidak mengira jika Candra yang sebelumnya terlihat baik-baik saja justru kembali drop.

"Lintang." Rion segera memeluk tubuh mungil Lintang dan mengelus punggung sempit remaja itu.

"Ayah, mas Candra." Rion hnya mengangguk.

"Iya ayah tau, tapi Lintang percaya kalau mas Candra kuat kan?" Lintang mengangguk kecil.

"Lintang percaya, mas Candra udah bertahan selama ini, mas gak mungkin nyerah gitu aja kan yah?" 
.
.
.
.
.
Ares bergegas menemui Azka untuk mengantarnya ke rumah Johan, Azka sudah mengabari yang lain tentang tes kecocokan sebagai donor, dan sekarang tugas Ares yang meminta Johan untuk melakukan itu.

"Mas Azka." Azka yang baru saja keluar dari ruangannya sedikit terkejut saat menemukan keponakannya itu ada di belakang nya.

"Kenapa Res?"

"Anterin aku ke rumah papa." Azka terkejut, selama ini Ares selalu menolak jika mereka menyebut nama Johan.

"Kamu yakin sekarang?" Ares mengangguk mantap, demi putra sulung nya maka Ares akan melawan ketakutannya.

"Iya sekarang mas." Azka mengangguk, laki-laki itu menepuk pundak Ares dan segera merangkulnya. Azka tau Ares mencoba berdiri tegak saat ini, hanya untuk menguatkan Alta, Lintang dan adik-adiknya di rumah bintang.

"Temuin Alta dulu, baru habis ini kita ke rumah mas Johan." Ares mengangguk, laki-laki itu membiarkan Azka membawanya ke depan ruang iccu dimana Alta berada.

Ares membeku saat melihat kehadiran Damar dan Angga juga Igel, Rion dan Lintang disana. Lintang sudah tenggelam dalam pelukan Alta.

"Ares." Igel, Rion, Angga dan Alta sontak menoleh saat Damar mwnyebut nama Ares.

"Yanda."

Grep

Ares membalas pelukan Lintang dengan erat, Ares sangat tahu jika Lintang sangat mengkhawatirkan sang kakak saat ini.

"Lintang jaga ibun dulu ya, yanda mau ke rumah kakek sebentar." Lintang hanya mengangguk saat mendengar permintaan Ares.

"Res, kamu beneran mau ke rumah Johan?" Ares kembali mengangguk.

Candra LintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang