.
.
.
.
.
Candra menatap layar ponsel nya yang sedang memutar video kartun alien kuning kesukaannya, sudah pukul dua pagi dan dia sama sekali tidak bisa kembali tertidur. Mimpi buruk yang dia alami sewaktu tertidur di cafe tadi masih cukup terbayang, dan membuat otaknya menolak untuk tidur.
Candra menghela nafas, biasanya setiap kali mimpi buruk itu datang, minion selalu bisa membuat hati dan pikirannya tenang. Tapi kali ini hal itu sama sekali tidak berpengaruh apapun. Candra mengacak rambutnya, dulu saat masih di semarang Candra akan keluar dari rumah dan diam di halaman belakang rumah nya setiap kali dia tidak bisa tidur karena mimpi buruk, melihat bintang adalah cara lain yang biasa Candra lakukan, terutama saat ditemani sang bunda.
Beruntung malam ini Lintang juga tidur bersama Ares, hingga Candra sedikit lega karena sang adik tidak akan tahu jika dia tidak tidur semalaman.
"Kangen ibun, ibun sebenernya dimana?" Candra menatap foto sang bunda yang terpajang di atas meja nakas.
"Bun, Candra mau cerita ya." Candra akhirnya memutuskan bergumam pelan sambil memeluk foto Alta.
"Dua hari lalu Candra ke surabaya, pertama kali ketemu yanda. Candra seneng, tapi kesel kalau inget mas Reska. Dia bilang Candra cuma orang asing, yang gak pantes buat ada di sisi yanda. Dia juga bilang kalau Candra ini nipu yanda karena yanda kaya, Candra sakit hati bun. Candra udah coba hormati dia karena status dia lebih tua, tapi ternyata dia gak bisa di baikin." selama ini Candra memang terbiasa menceritakan semua nya pada Alta, jadi saat tidak ada Alta di sisi nya di tidak tau harus cerita kemana.
"Bulan lalu Candra juga ketemu sama Septian bun, dia dateng ke pare karena ikut mas Jojo. Mereka kuliah di tempat yang sama bun, ibun pernah bilang ke Candra buat gak dendam sama Septian. Candra gak dendam bun, cuma Candra takut ketemu dia, rasanya Candra kayak ngalamin hal itu lagi. Di kurung di kamar nya, hampir dilecehkan, bahkan pukulannya sampai sekarang kadang Candra masih ngerasain sakitnya tiap inget kejadian itu. Candra harus gimana bun? Candra gak mau yanda tahu soal itu, Candra gak mau yanda drop terus pergi lagi dari Candra sama Lintang." Candra tanpa sadar mengeratkan pelukannya pada foto sang bunda saat teringat ingatan masa lalu nya, pemuda itu bahkan meneteskan air matanya.
Candra sadar trauma nya kembali, terbukti saat dia merasakan tubuhnya gemetar hebat, juga nafas nya yang memberat. Hal yang bisa Candra lakukan hanyalah mensugesti dirinya sendiri bahwa itu sudah berlalu, dan dia aman. Candra membiarkan tubuhnya melemas dengan sendirinya, seperti nya Candra harus siap jika dia besok pagi akan demam.
"Bun, kayaknya penyakit Candra makin parah deh, meskipun Candra rutin minum obat, tapi durasi kambuhnya jauh lebih sering dibanding dulu." Candra jelas sadar jika penyakitnya semakin memburuk, karena dia juga tidak ingin merasakan sakit saat mengetahui faktanya.
"Bun, cepet pulang. Candra takut, takut kalai Candra terlanjur capek sebelum ibun pulang. Kata ibun kalau Candra capek, Candra bisa istirahat. Tapi bun Candra gak mau sekedar istirahat kalau nantinya akan kembali sakit, Candra mau nya berhenti bun." Candra menatap langit-langit kamar nya kosong.
"Candra boleh berhenti kalau Candra capek dan gak sanggup kan bun?"
"Candra janji akan tunggu ibun pulang, Candra gak akan nyerah tanpa ijin ibun."
.
.
.
.
.
Lintang mengernyit saat tidak menemukan Candra dikamar nya saat dia akan mandi, biasanya setiap kali Lintang pindah ke kamarnya, Candra itu masih asik rebahan sambil asik dengan ponselnya. Tapi pagi ini bahkan tempat tidur mereka sudah rapi, dan ponsel Candra tercharger di atas meja nakas.
"Mas Candra pasti jalan-jalan keliling lagi nih." Lintang bergegas mandi dan turun ke bawah setelah berganti baju untuk dia kerja.
"Loh Tang, Candra mana?" Rion yang melihat Lintang turun sendirian akhirnya bertanya.
"Lintang baru aja mau tanya, apa ada yang lihat mas Candra keluar?" Rehan mengangguk.
"Tadi setengah enam Candra ijin jalan-jalan di sekitar katanya." mendengar itu bukan hanya Lintang yang menghela nafas lega, tapi semua penghuni rumah bintang.
"Ada apa dek?" Ares bertanya saat melihat tatapan ragu dari Lintang.
"Nda, yah, pa, biasanya mas Candra kalau jalan-jalan pagi itu karena semalem habis gak bisa tidur atau karena habis dapat mimpi buruk." ucapan lirih Lintang membuat semua yang ada disana terpaku.
"Mimpi buruk?" Lintang kembali mengangguk.
"Sudah ayo sarapan, nanti biar om yang tanya ke Candra." Lintang hanya bisa menurut saat Rehan memintanya segera sarapan.
"Lintang mau di antar atau naik motor sendiri?" Lintang menatap Rion sebelum mulai makan.
"Bawa motor sendiri aja yah, nanti pulang nya mau langsung ke cafe." Rion mengangguk.
"Ya udah ayo makan dulu, kamu juga Yon, makan dulu."
.
.
.
.
.
Candra bukan hanya jalan-jalan tapi berdiam di rumah yang di sewa nya, pemuda itu berbaring di kasur yang dia letakan di depan tv. Penyakitnya kambuh, dan karena tidak ingin membuat Lintang atau pun yang lain khawatir Candra memutuskan tinggal sementara. Nanti jika tubuhnya sudah bisa diajak kompromi baru dia akan pulang ke rumah bintang.
"Lintang pasti udah berangkat." Candra bergumam lirih saat netra nya menatap jam dinding yang terpasang disana.
"Pusing banget." Candra memejamkan matanya sejenak saat rasa pusing yang dia rasakan tidak juga menghilang.
"Sshhh." Candra meringkuk diatas kasur, kadang jika dia seperti ini dia berharap untuk pingsan saja agar tidak merasakan sakit.
Lain Candra lain pula Ares yang mulai uring-uringan karena Candra belum juga pulang, padahal sekarang sudah pukul setengah sepuluh pagi. Sebentar lagi mereka akan berangkat ke cafe, ada yang menyewa cafe hari ini, jadi Ares tidak bisa menutup cafe begitu saja.
"Kalau mau ke cafe berangkat aja. Biar mas yang nungguin Candra di rumah, mungkin dia capek." Ares akhirnya mengangguk. Beruntung Rehan ada di rumah, jadi mereka tidak perlu takut jika Candra nanti akan sendirian.
"Kalau gitu kita berangkat ya mas, kalau ada apa-apa langsung telpon aja." anggukan langsung mereka dapat dari Rehan.
"Kalian hati-hati."
Setelah seisi rumsh bintang pergi, Rehan kembali sibuk dengan pekerjaannya dan menghubungi Azka. Bertanya soal perkembangan kasus Alta. Tepat sepuluh menit setelah Rehan selesai telpon, Candra masuk ke dalam rumah.
"Candra dari mana?" Candra hanya tersenyum tipis dan Rehan langsung tahu ada yang disembunyikan Candra saat ini.
"Dari rumah om, tadi mampir ke sana dulu, beres-beres." Rehan mengelus kepala Candra.
"Belum sarapan kan?sebentar biar om yang ambilin sarapan kamu." tapi belum juga Rehan bergerak, Candra sudah menahan tangannya.
"Gak usah om, Candra belum laper. Nanti aja sarapannya, Candra mau tidur aja di kamar." Rehan membiarkan Candra berlalu dari hadapannya.
"Apa yang lagi kamu sembunyiin Can? Apa itu bener-bener jadi beban pikiran mu?"
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Triple up....
Wah vote nya cepet...
Lanjut?
Atau berhenti di chapter ini?
Hehehe
Selamat membaca dan semoga suka...
See ya...
-Moon-
KAMU SEDANG MEMBACA
Candra Lintang
FanfictionMereka meninggalkan kota tempat mereka dibesarkan, menuju tempat mereka dilahirkan, kembali menyusuri jalan dimana kisah kedua orang tua mereka terjalin. Mencari keberadaan sisa konstelasi bintang yang dahulu sangat berharga untuk kedua orang tuany...
