.
.
.
.
.
Satu minggu setelah Candra keluar dari rumah sakit, pemuda itu juga sudah mulai masuk kerja. Sebenarnya Candra ingin lagsung bekerja begitu keluar dari rumah sakit namun semua pegawai cafe melarang dan memberi Candra tambahan libur satu minggu.
"Candra gimana keadaannya?" Candra tersenyum saat Leo bertanya padanya. Keduanya sedang berdiri di samping kasir menunggu pesanan untuk diantar.
"Baik om." Leo ikut tersenyum mendengar jawaban Candra.
"Can, kamu istirahat dulu sana." Candra dan Leo menoleh saat mendengar suara berat Hadar. Sepertinya laki-laki itu baru saja turun dari lantai dua.
"Tapi saya baik-baik saja om." Hadar berdecak, kenapa sifat keras kepala Ares harus menurun pada pemuda itu.
"Istirahat atau om bilangin ke om Igel sama om Rion ya." Candra langsung memasang wajah masam, kenapa sekarang mereka suka sekali mengancamnya.
"Sebentar saja tapi ya om, saya gak enak sama om-om yang lain." Hadar menggelengkan kepalanya.
"Udah sana." Candra akhirnya hanya bisa menuruti perkataan Hadar untuk pergi ke ruang istirahat.
"Dia makin mirip bang Ares kan?" Hadar mengangguk saat mendengar bisikan Leo.
"Mirip banget, sama-sama keras kepala."
"Kalian ngomongin apa sih? Kok bisik-bisik?" Hadar dan Leo hanya tersenyum saat Alden bertanya pada mereka.
"Ngomongin anak-anak." Alden ikut tersenyum saat mendengar kata anak-anak dari suaminya.
"Kangen Regi sama Jojo, kapan mereka kesini?" baik Hadar maupun Leo hanya tersenyum mendengar gumaman Alden. Mereka berdua juga merindukan anak-anak mereka yang tinggal jauh dari mereka.
"Nanti kalau mereka libur pasti kesini bby, nanti malem telfon aja Jojo kalau kangen." Hadar menepuk pucuk kepala Alden dan itu membuat senyum merekah di bibir Alden.
"Habis ini kan mereka libur kuliah ya, nanti aku minta mereka kesini deh."
.
.
.
.
.
Candra membawa segelas teh hangat ke rooftop, pemuda itu batal masuk keruang istirahat karena melihat Rion tengah menelpon seseorang dan Candra tidak ingin mengganggu. Candra bersyukur malam ini cukup cerah, tidak ada awan kelabu yang menutupi gelapnya langit malam. Membuat pemuda dua puluh tahun itu tersenyum saat melihat beberapa bintang tampak berkedip terang, dwngan bulan yang sabit yang mengintip malu digelapnya langit.
"Candra." Candra menoleh saat ada seseorang memanggil namanya.
"Om Rius." Candra tersenyum saat melihat Rius duduk dihadapannya, mereka berdua terpisah oleh meja yang memang berada ditengah-tengah rooftop.
"Kayaknya tadi bang Hadar sama bang Leo nyuruh kamu istirahat deh, bener kan?" Candra mengangguk.
"Iya om, ini kan istirahat." Rius menghela nafas panjang.
"Istirahat apa di rooftop?" Candra tertawa pelan.
"Kenapa gak diruang istirahat?" Candra menggeleng.
"Ada om Rion lagi telfon om, lagian enak disini." Rius menatap wajah Candra yang tersenyum.
"Kenapa? Karena kamu bisa lihat bintang?" Candra mengangguk.
"Suka banget sama bintang?" Candra menoleh kearah Rius dan kembali mengangguk.
"He'em, saya suka lihat bintang om, tapi sejak datang ke pare saya belum pernah lihat bintang kayak gini." Rius ikut menengadah menatap langit.
"Om juga suka bintang." Candra menatap Rius terkejut.
"Beneran om?" Rius mengangguk dan tertawa kecil.
"Dari kecil om suka bintang, cuma waktu remaja om gak bisa leluasa belajar soal bintang karena gak dibolehin. Sampai akhirnya om datang ke pare dan ketemu sama seseorang yang buat om kagum karena sikap dan pengetahuan bintangnya." Candra mendengar cerita singkat dari Rius.
KAMU SEDANG MEMBACA
Candra Lintang
FanfictionMereka meninggalkan kota tempat mereka dibesarkan, menuju tempat mereka dilahirkan, kembali menyusuri jalan dimana kisah kedua orang tua mereka terjalin. Mencari keberadaan sisa konstelasi bintang yang dahulu sangat berharga untuk kedua orang tuany...
