.
.
.
.
.
Reska menatap sedih pada Ares yang tengah memasukan barang-barang nya kedalam koper, setelah pertengkaran Reska dengan Candra kemarin Ares memutuskan untuk kembali ke pare hari ini. Reska tau dia salah dengan tindakannya kemarin, tapi dia hanya tidak ingin perhatian Ares yang jarang dia dapatkan menghilang, bahkan hanya satu hari keberadaan Candra di rumah Azka sudah membuat Ares lebih memperhatikan pemuda itu.
"Res, kamu yakin mau pulang sekarang?" Azka yang melihat Ares kembali masuk kedalam rumah langsung bertanya.
"Iya mas, aku pinjam mas Rehan dulu buat nemenin aku di sana." Azka mengangguk, kedua netra nya menangkap Reska yang berdiri diam menatap Ares. Ares segera menoleh saat mendapat kode dari Azka tentang keberadaan Reska.
"Mau sampai kapan kamu marah sama dia?" Azka sengaja bertanya dengan suara kencang agar Reska juga mendengarnya.
"Sampai dia bisa mikir kesalahannya!" Azka menghela nafas saat mendengar ucapan dingin Ares, perkiraan Rehan tentang kondisi juga emosi Ares yang akan membaik saat bertemu anak nya ternyata benar. Bahkan laki-laki itu sudah bisa berucap dingin tentang Reska.
"Mas Ares maaf." Ares menatap tanpa minat pada adik seayahnya itu.
"Gak usah minta maaf ke aku, sebelum kamu mau minta maaf ke Candra." Reska mengepalkan tanganny mendengar ucapan Ares, lagi-lagi Ares membela Candra.
"Mas aku ini adik mas, kenapa mas lebih bela dia dibanding aku?!" pekikan Reska membuat emosi Ares naik, laki-laki itu berjalan mendekati Reska dengan tatapan marah, dan hal itu hampir saja membuat Rehan berlari kearah Ares sebelum Azka menghentikannya.
"Dengerin mas ya Reska, Candra itu anak mas, darah mas mengalir di tubuhnya, sedang kan kamu? Gak! Kalau bukan karena kamu anak papa, mas juga gak akan mau ngerawat kamu, perlu kamu tau Reska, kalau bukan karena ibu mu yang gak bertanggung jawab itu, keluarga mas itu gak akan berantakan kayak gini, paham!" Reska menatap Ares tidak percaya, sejak dulu sudah sering Ares meneriakan bahwa dia adalah penyebab utama kehilangan yang dialami Ares, tapi baru kali ini Ares mengatakannya dalam keadaan sepenuhnya sadar seperti ini.
"Pikirin kesalahan mu, minta maaf ke Candra karena kamu udah ngomong gitu. Kalau gak jangan harap kamu bisa ketemu mas lagi!" Reska mematung, apa hanya karena pertengkaran sepeleh nya dengan Candra kemarin Ares jadi seperti ini.
"Kenapa mas Ares selalu bilang mama itu ibu ku? Memang mama bukan ibu mas Ares?" lama-lama Reska kesal mendengar ucapan Ares tentang ibunya. Di sisi lain Rehan dan Azka terkejut saat mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Reska.
"Memang bukan, kalau kamu memang mau tau semuanya, berhenti bersikap seperti sekarang dan minta maaf ke Candra." setelah mengatakan itu Ares menatap ke arah Rehan.
"Ayo berangkat mas, aku gak mau Candra salah paham lebih lama ke aku." Rehan mengangguk dan pamit pada Azka selaku suaminya.
"Mas Azka kalau dia berulah lagi, pulangin dia kerumah papa. Meskipun aku sayang dia tapi aku udah capek, kalau bukan karena janji ku ke mama buat gak dendam ke tante Ana, udah pasti aku biarin dia di bawa sama orang yang ngincer papa sama tante Ana waktu itu." Azka terdiam, dia tahu meskipun Ares mengatakan bahwa dia memaafkan Ana dan papanya, tapi laki-laki itu tetap tidak akan bisa melupakan semua kebenarannya. Azka yang melihat wajah kusut Ares saat masuk kedalam mobil langsung berdecak kesal.
"Gak anak gak emak sama aja, bikin rusak hubungan orang."
.
.
.
.
.
Ares memejamkan matanya setelah mobil yang dikendarai Rehan keluar dari rumah, hal itu tentu saja tidak luput dari perhatian Rehan. Meskipun emosi dan kondisi Ares sudah stabil, tidak menutup kemungkinan bisa kambuh lagi saat Ares marah.
"Res, kamu gak papa?" dengan perlahan Ares membuka kedua matanya.
"Gak papa mas, aku gak bisa selalu bergantung sama obat, setelah ini aku harus bisa ngatasin semua ingatan itu sendiri." Rehan tersenyum tipis, baru juga kehadiran Candra yang di lihat Ares, sudah berhasil membuat Ares mempunyai semangat untuk bangkit, apa lagi jika melihat Lintang yang memiliki sifat Alta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Candra Lintang
Fiksi PenggemarMereka meninggalkan kota tempat mereka dibesarkan, menuju tempat mereka dilahirkan, kembali menyusuri jalan dimana kisah kedua orang tua mereka terjalin. Mencari keberadaan sisa konstelasi bintang yang dahulu sangat berharga untuk kedua orang tuany...
