79. Jangan pernah pergi

891 110 7
                                        


.
.
.
.
.
Candra termenung sambil menatap jendela kamar rawat nya, pemuda itu beberapa kali meminta pada Azka untuk membawanya pada Reska, tapi kakek nya yang gak pernah mau dipanggil kakek itu selalu menolak. Azka selalu beralasan kalau Reska yang akan mendatangi Candra sendiri, awalnya penghuni rumah bintang yang lain menolak jika Candra ingin menemui Reska, tapi begitu mereka tau jika Reska lah yang menjadi pendonor mereka semua terdiam.

Cklek

"Candra." Candra dengan cepat menoleh saat mendengar suara lembut yang selama ini selalu dia dengar saat bertengkar.

"Om Reska." Reska dengan cepat mendekat ke ranjang Candra saat melihat pemuda itu akan bangkit.

"Tetep diem di situ!" Candra mendesah lega saat melihat tatapan khawatir Reska padanya.

"Om kemana aja?" Reska mengulas senyum manis, untuk pertama kalinya Candra melihat senyum Reska yang begitu tulus.

"Lagi nyiapin hati." Candra mengernyit saat Reska menunduk.

"Candra, maaf. Maafin aku, aku tau apa yang udah aku lakuin ke kamu itu bejat, banget malah. Aku....aku cuma iri, kamu yang baru ketemu lagi sama mas Ares bisa bikin mas Ares sama mas Azka sebebas itu ngungkapin rasa sayang nya ke kamu, sedangkan aku harus nunggu mas Ares stabil cuma buat dapet senyum nya. Maafin aku..." Candra mengangkat tangannya dan menarik tangan Reska agar pemuda itu mendekat.

"Udah aku maafin om, aku juga minta maaf karena sempet marah sama om. Harus nya aku bisa sabar sedikit." Reska menggeleng kencang.

"Gak, kamu gak salah ini salah ku, harusnya aku gak iri, maaf."

"Aku sadar apa yang aku perbuat justru ngebuat mas Ares sama mas Azka semakin jauh dari aku, aku ngelukain kamu maaf Can." Candra merengut kesal.

"Jangan minta maaf lagi om, aku udah maafin om, bahkan sejak lama." Reska menatap tidak percaya pada Candra yang dengan gampang nya memaafkan kesalahannya.

"Can-" ucapan Reska terpotong saat melihat gelengan Candra.

"Harus nya aku makasih sama om Reska, kalau bukan karena om, aku pasti gak akan sembuh." Reska mengangkat tangannya dan mengusak rambut pink Candra, perlakuan lembut pertama yang Reska lakukan untuk Candra.

"Kamu anak baik Can, kamu terlalu baik buat jadi keponakan dari orang kayak aku." Candra yang sudah tersenyum kembali merengut kesal.

"Emang om orang kayak gimana? Sama-sama makan nasi ini! Kalau om makan besi baru gak cocok sama aku!" Reska tertawa mendengar gerutuan Candra.

"Makasih Can, makasih udah maafin aku."
.
.
.
.
.
Ares dan Igel menatap keduanya dari kaca pintu ruang rawat, mereka sebenarnya ingin masuk, tapi melihat Reska yang mengucap maaf, baik Ares atau Igel justru memilih diam di depan pintu. Ares menghela nafas saat mendengar alasan Reska selam ini, laki-laki itu juga sedikit meruntuki dirinya sendiri, kenpa dia tidak bisa memberi perhatian seorang kakak pada Reska selama ini, padahal dulu sebelum dia tau jika Reska adalah adik nya Ares bahkan rela begadang hanya untuk memastikan Reska tidak menangis saat malam.

"Gak usah di sesali bli, setelah ini bli bisa ngobrol bertiga sama Reska." Ares mengernyit saat Igel mengtakan itu.

"Bertiga? Sama siapa lagi?"

"Mas Azka, aku yakin mas Azka juga punya pikiran yang sama kayak bli." Ares mengangguk, memang itu rencana jika Reska sudah datang ke rumah sakit.

Cklek

Reska mematung di ambang pintu saat menemukan Ares dan Igel ada di luar kamar, pemuda itu dengn segera menundukan kepalanya. Jika boleh jujur Reska belum berani bertemu Ares, pemuda itu masih takut jika kakak nya itu membenci nya.

Candra LintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang