.
.
.
.
.
Reska menghela nafas berkali-laki, dia sangat gugup saat ini, hanya dalam hitungan menit dia audah akan berada di ruang oprasi yang sama dengan Candra. Reska takut, bukan takut akan berimbas padanya tapi takut jika Candra tidak bisa bertahan. Dia belum meminta maaf pada pemuda itu akan perilakunya sebelumnya.
"Gak usah gugup gitu Res." Reska menoleh, pemuda itu tersenyum saat menemukan Rehan tengah berdiri di ambang pintu.
"Semua pasti baik-baik aja kan mas?" Rehan mengangguk, jika melihat kondisi Candra yang stabil sudah bisa dipastikan jika oprasi ini akan berjalan lancar.
"Iya semua pasti akan baik-baik aja." Reska berjalan mendekati Rehan dan memeluk tubuh om nya itu.
Cklek
"Aku tau kalau itu kamu yang bakal jadi pendonor." Rehan dan Reska terkejut saat melihat seorang remaja manis masuk kedalam ruangan Reska.
"Jeje?!" Jeje tersenyum saat melihat wajah terkejut dua orang di hadapannya itu.
"Gimana kamu tau?" Jeje mengedikan bahu nya acuh.
"Aku beberapa kali lihat om Azka masuk ke ruangan ini sejak kemarin, jadi ya aku simpulin sendiri." Jeje berjalan mendekati Reska yang tampak salah tingkah saat menatap wajah imut Jeje.
"Kamu Jeandra? Anak yang kasih aku alamat orang tua nya mas Alta kan?" Jeje mengangguk saat Reska mengingat nya.
"Ya, itu aku, ternyata kamu masih inget."
.
.
.
.
.
Ares, Alta dan semua penghuni rumah bintang menunggu di depan ruang oprasi, sudah hampir empat jam oprasi Candra berjalan, dan belum ada tanda-tanda jika oprasi selesai di lakukan. Mereka semua cemas, namun tidak bisa menutupi kebahagiaan mereka akan harapan kesembuhan Candra.
"Mas Candra bakal baik-baik aja kan bun?" Lintang yang berada dalam dekapan Alta sudah beberapa kali bergumam sejak Candra di bawa masuk ke ruang oprasi.
"Mas Candra pasti baik-baik aja dek." Lintang semakin menyembunyikan wajahnya di leher sang ibu.
"Lintang takut bun." Alta hanya bisa mengelus punggung putra bungsu nya.
Di balik semua kecemasan yang dirasakan penghuni rumah bintang, ada dua orang yang tengah mencemaskan bukan hanya Candra namun juga Reska sebagai sang pendonor. Rehan dan Jeje sebelumnya sudah beberapa kali saling lirik sebelum akhirnya memilih untuk mengalihkan pandangan mereka pada pintu ruang oprasi.
"Tenang aja Je, Candra pasti baik-baik aja dan sembuh." Rafi yang melihat kekhawatiran Jeje merangkul putra tunggalnya itu, tanpa dia tau jika Jeje bukan hanya mengkhawatirkan Candra.
"Jeje tau mi, Jeje tau kalau mas Candra pasti baik-baik aja."
.
.
.
.
.
Oprasi Candra berjalan lancar, saat ini hanya ada Alta dan Ares yang tengah menunggu Candra di ruang icu. Azka sengaja menempatkan Candra disana supaya mudah untuk memantau keadaannya pasca oprasi.
Ares dan Alta sudah beberapa kqli meminta Azka mengatakan siapa yang menjadi pendonornya, tapi Azka justru meminta mereka menunggu Candra sadar dan menanyakan hal itu pada putra sulung nya itu.
"Candra tau siapa pendonor sumsum tulang belakang buat dia Res, Candra masih sepenuhnya sadar waktu di bawa masuk ke ruang oprasi." ucapan Azka saat itu membuat Ares dan Alta penasaran, siapa yang sudah dengan suka rela menjadi pendonor untuk putra nya.
Sedangkan di kamar lain, Rehan tengah menunggu Reska sadar dari efek bius yang digunakan selama oprasi. Laki-laki itu mengelus kepala Reska pelan, anak di hadapannya ini adalah alasan kenapa dia memutuskan tidak melakukan program kehamilan. Rehan yang meminta pada Azka untuk merawat dan menjaga Reska saat Ares jatuh dan Alta pergi, Rehan yang melarang Alta membawa Reska bersama nya saat itu. Rehan tau dibalik sikap Reska selama ini, pemuda itu hanya iri. Iri pada Candra yang bisa mendapat pelukan dari Ares juga perhatian dari Azka, Rehan kadang meruntuki segalanya. Jika saja dulu Johan dan Ana lebih memilih menitipkan Reska padanya juga Azka, semua kesalahpahaman itu tidak kan pernah terjadi, Ares akan menyayangi Reska tanpa rasa benci dan Azka akan menganggap Reska sama seperti Ares.
"Terima kasih Res, kamu hebat." Rehan tidak sadar jika sedari tadi tindakannya di perhatikan oleh Azka dari ambang pintu.
"Han." Rehan menoleh, laki-laki itu tersenyum tipis melihat sosok Azka yang berjalan mendekatinya.
"Jangan benci dia lagi mas, dia udah sadar kalau apa yang dia lakuin itu salah. Dia cuma iri saat itu, dia juga mau perhatian kamu sama Ares yang jarang dia dapetin. Reska juga keponakan kamu mas, kesalahan Ana pada mbak Amel juga Ares itu tanggung jawab Ana, Reska gak berhak kamu salahkan karena hal itu. Dia gak tau apa-apa mas, dia paati juga gak mau dilahirin dari ibu yang merusak kebahagiaan orang lain kalau dia bisa milih."
Grep
Azka memeluk tubuh Rehan erat, namun tatapan laki-laki itu lekat pada Reska yang belum juga sadar
"Aku tau yang, maafin aku karena jadiin Reska pelampiasan karena kesalahan yang dilakukan Ana."
.
.
.
.
.
Candra membuka matanya perlahan, rasa sakit di tubuhnya masih terasa namun tidak seperti sebelumnya. Pemuda itu bisa melihat jika sang ibu tengan tertidur dengan menenggelamkan kepalanya pada pinggiran ranjang.
"Ibun." tangan Candra dengan perlahan membalas genggaman tangan Alta, meskipun pelan hal itu berhasil membuat Alta terjaga.
"Candra?" Alta tersenyum senang saat melihat putra sulungnya itu sudah membuka kedua matanya, dengan cepat Alta menekan tombil di sisi ranjang Candra dan membangunkan Ares.
"Candra, apa yang kamu rasain?" Candra menatap lekat pada Ares yang kini sudah berdiri di sisi ranjang.
"Sakit...nda." Ares mengelus pelan tangan Candra yang terbebas dari infus.
"Sabar ya, habis ini biar di periksa sama om Azka ya." Candra hanya bisa mengangguk kecil dan membiarkan Area mengelus tangannya sembari menunggu Azka.
Cklek
"Apa yang kamu rasain Can?" Candra menatap lekat pada Azka, sementara Ares dan Alta tetap berada di sisi lain ranjang.
"Sakit om..." Azka mengangguk dan memeriksa Candra.
"Gak papa, sakitnya cuma sebentar, habis ini Candra sembuh, tinggal pemulihan aja." Ares dan Alta tersenyum lega mendengar penuturan itu.
"Om Azka." Azka kembali menoleh pada Candra saat pemuda itu menahan tangannya.
"Iya, kenapa Can?"
"Om Reska gimana?"
Deg
Pertanyaan Candra justru membuat Alta dan Ares terpaku, keduanya bingung berbeda dengan Azka yang sudah tersenyum tulus.
"Reska gak papa, nanti dia juga pasti temuin kamu, yang penting kamu sehat dulu." Candra mengangguk dan kembali memejamkan matanya.
"Mas, apa maksudnya?" Azka beralih menatap Ares dan Alta yang masih terkejut tidak percaya.
"Reska? Apa Reska yang jadi pendonor?" Azka mengangguk saat Alta bertanya, hal itu membuat Alta menutup mulutnya menggunakan tangan.
"T-tapi bagaimana?" Azka menghela nafas panjang.
"Reska datang di saat semua kemungkinan kita gagal Res, anak itu mengajukan diri menjadi pendonor buat Candra disaat kita semua tidak bisa melakukannya." Ares terdiam, dia tidak menyangka jika adiknya akan melakukan itu.
"Terus sekarang dimana Reska?" Azka tersenyum.
"Ada di ruangan lain lagi di jaga Rehan, jangan dulu temuin dia, biarin dia sendiri yang dateng ke kalian kayak janji nya ke Alta waktu itu."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat malamm....
Dua chapter lagi end...
Selamat membaca dan semoga suka...
See ya...
-Moon-
KAMU SEDANG MEMBACA
Candra Lintang
FanfictionMereka meninggalkan kota tempat mereka dibesarkan, menuju tempat mereka dilahirkan, kembali menyusuri jalan dimana kisah kedua orang tua mereka terjalin. Mencari keberadaan sisa konstelasi bintang yang dahulu sangat berharga untuk kedua orang tuany...
