71. Pertemuan terakhir

770 110 2
                                        


.
.
.
.
.
Suasana rumah nenek Alden sangat hangat, kedatangan penghuni rumah bintang dengan formasi lengkap membuat nenek Alden bahagia. Sudah lama beliau ingin melihat tawa lepas dari cucu-cucu nya karena kehadiran Ares juga Alta. Ada Candra dan Lintang yang sangat mirip dengan kedua orang tua nya, hal itu membuat sang nenek senang.

"Ares." Ares langsung menoleh saat mendengar panggilan dari nenek Alden.

"Iya nek?" sang nenek tersenyum.

"Bisa nenek ngobrol sama kamu di belakang?" Ares mengangguk dan segera mengikuti langkah kaki nenek Alden ke belakang.

"Duduk sini." Area menurut dan duduk di bangku kayu di sebelah nenek.

"Ini udah malam nek, kenapa nenek ngajak ngobrol di luar gini?" nenek Alden tertawa kecil.

"Bukannya kamu seneng diem di luar gini? Ngelihat bintang, kayak waktu itu. Hampir setiap hari kamu diem di sini berjam-jam." Area ikut tertawa saat nenek Alden masih mengingat dengan jelas hobi nya saat tinggal di rumah ini.

"Ares." Area yang semula mendongak menatap langit langsung beralih menatap wajah sang nenek.

"Iya nek." Ares bisa melihat senyum tulus yang terlukis di wajah sang nenek.

"Kamu udah kembali ke Alta dan adik-adik mu, kamu udah kembali ke rumah. Kamu pasti udah jadi lebih kuat, jaga mereka Res, jaga suami, anak-anak juga adik-adik mu dengan baik." Area merasa heran dengan ucapan yang di ucapkan oleh nenek Alden, tapi laki-laki itu tetap saja mengangguk mengiyakan.

"Nenek percaya kamu mampu jaga mereka sekarang, terus bahagia Res, nenek suka lihat tawa dan wajah bahagia kalian. Terima kasih karena udah dateng ke bandung buat nengokin nenek." Ares beranjak dan memeluk tubuh renta nenek Alden.

"Nenek tenang aja, aku pasti jaga mereka, sekarang ayo masuk nek, udah makin malem."
.
.
.
.
.
Ares terdiam dengan memeluk tubuh Alta yang bergetar karena tangis, pagi ini suasana hangat di rumah nenek Alden menjadi duka. Sang tuan rumah meninggal dalam tidur nya. Ares bisa melihat bagaimana histerisnya Alden saat mengetahui sang nenek telah tiada, bahkan tidak ada yang tidak menangis saat ini.

Kepergian nenek Alden sangat mendadak, beliau tidak sedang sakit bahkan terlihat sangat sehat. Namun sepertinya tuhan lebih menyanyangi beliau, Ares tidak bisa terua menerus menangis, saat ini dia harus ikut membantu Hadar dan ayah Alden mengurus semua nya.

Ares kembali mengingat percakapannya dengan sang nenek semalam, ternyata sang nenek menitipkan semua nya pada Ares lewat nasehatnya semalam.

"Aku pasti jaga merek nek, nenek gak perlu khawatir soal Alden, Hadar, sama Jojo, aku pasti jaga mereka semua mulai sekarang. Tenang disana nek."

Jenazah nenek Alden sudah di kebumikan, saat ini hanya ada suasana duga dalam rumah mewah itu, Alden hanya diam dengan air mata yang masih mengalir dari kedua netra hitamnya. Jojo tengah menyendiri di halaman belakang dengan ditemani Regi.

"Dek." Alden mendongak saat Ares bersimouh di hadapannya.

"Aa'...hiks..." Ares dengan sigap menghapus air mata yang mengalir di pipi adik nya itu.

"Jangan nangis terus, kasihan nenek kalau kamu nangis terus." Alden bergerak memeluk tubuh Ares, penghuni rumah bintang yang lain hanya diam melihat Alden menumpahkan semuanya ke pundak Ares, bahkan Hadar harus mendongak agar air mata nya tidak menetes.

"Nenek gak akan suka lihat kamu nangis dek, semalem nenek nitipin kalian ke aku, tapi kalau lihat kamu nangis gini berarti aku gagal jaga kamu dek." secara ajaib Alden menghentikan tangis nya, dia juga mengetahui itu, karena semalam sebelum sang nenek tidur, beliau memanggil Alden ke kamar nya.

"Kita semua sedih dek, nenek itu sosok yang kita semua sayangi dan hormati, kita semua kehilangan. Tapi kalau kamu nangis tanpa henti gini nenek pasti sedih." Alden masih mencoba menghentikan isak tangis nya.

"Makasih a', makasih karena ada di sisi Alden saat ini."
.
.
.
.
.
Jojo masuk ke dalam kamar nya tepat tengah malam, setelah memastikan semua orang di rumau itu sudah berada di kamar masing-masing. Jojo tidak bisa menangis setelah mengetahui jika ibu nya menangis sepanjang hari, pemuda itu menahan tangis nya sejak pagi, membantu proses pemakaman sang nenek buyut dengan tegar.

"Belum tidur Ndra?" Jojo sedikit terkejut saat mengetahui bahwa Candra masih duduk di balkon kamarnya yang terbuka, Jojo kira Candra sudah tidur tadi karena lampu kamar nya yang sudah di matikan.

"Sengaja nungguin mas Jojo." Jojo mengernyit saat melihat Candra berjalan mendekatinya. Keduanya duduk berhadapan di atas ranjang.

"Kenapa nungguin aku?" Candra tidak menjawab dan hanya menatap lekat pada Jojo.

"Mas bisa nangis sekarang, gak akan ada yang lihat." Jojo terdiam saat mendengar ucapan Candra.

"Ndra." Candra mendekati Jojo dan memeluk tubuh tinggi itu.

"Mas bisa nangis sekarang, di sini cuma ada aku, gak akan ada yang tau mas nangis sekarang. Aku tau mas sedih tapi mas tahan karena lihat om Alden kayak gitu." pecah sudah tangis Jojo karena ucapan dan usapan tangan Candra di pinggung nya. Candra benar-benar membiarkan Jojo menangis di pundaknya tanpa meminta pemuda itu berhenti.

Jojo menangis hingga terlelap di pelukan Candra, pemuda itu bahkan masih sesenggukan meskipun sudah terlelap. Candra tidak bisa terlelap setelah nya, pemuda itu diam di balkon kamar Jojo sambil sesekali mengecek keadaan Jojo.

"Aku tau di tinggal oleh orang yang kita sayang itu sakit mas, aku juga pernah ngalamin itu meskipun nyatanya ibun masih hidup. Denger kabar nya aja bikin aku hampir gak bisa nafas, apa lagi mas yang ngelihat sendiri kayak tadi." Candra kembali memfokuskan pandangannya ke langit malam bertabur bintang, dia rumah itu memang bintang masih bisa di lihat dengan mata telanjang, berbeda dengan di pare.

"Semua pasti baik-baik aja mas, mas, om Alden, om Hadar pasti kuat. Pada hakikatnya semua yang hidup pasti mati."
.
.
.
.
.
Candra terpaksa bangun pukul lima pagi karena Rion membangunkan nya, padahal di baru saja terlelap jam empat pagi. Candra bahkan masih setengah terpajam saat Rion dan Alta meminta nya mengantar mereka ke pasar, dan Candra hanya bisa mengangguk.

"Sebentar yah, bun, Candra cuci muka dulu ih." Alta dan Rion tersenyum simpul saat melihat Candra mengusak rambutnya.

"Iya sana cepet, ada banyak yng harus di beli mas." Candra hanya bisa berdehem.

Ternyata bukan hanya Alta dan Rion yang ikut ke pasar, karena nyatanya Alden dan Ami juga ikut.

"Candra tunggu sini aja ya bun." Alta mengernyit, tumben sekali putra sulung nya itu mau menunggu di dalam mobil.

"Yakin? Tumben mau nunggu di sini." Candra hanya bisa terkekeh pelan.

"Candra lagi males jalan, jadi boleh Candra tunggu di mobil?" Alta mengangguk, tidak ada salah nya membiarkan Candra duduk diam di dalam mobil.

"Aduh aku gak bawa obat lagi." Candra memejamkan matanya saat kepalanya terasa pusing, dia hanya berharap jika penyakitnya tidak kambuh saat ini.

"Huft...sabar, jangan sekarang..."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.

Candra LintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang