.
.
.
.
.
Lintang menatap Candra yang terlelap di depan televisi, tepat didepan kamar mereka, mereka memutuskan menggelar kasur yang baru saja mereka beli tadi sore. Lintang memutuskan masuk kedalam kamar, mengambil selimut dan segera menyelimuti tubuh kakak nya. Remaja itu menghela nafas, sejak satu tahun lalu dia sering melihat Candra tertidur di luar kamar seperti ini.
"Udah setahun mas, seharusnya mas udah bisa balik kayak dulu, jangan nyiksa diri sendiri kayak gini." Lintang bergumam sebelum akhirnya ikut berbaring disamping Candra, memeluk pinggang ramping milik kakak nya itu.
"Mas mirip banget sama ibun, jadi mas jangan bingung mikirin cara buat jelasin siapa kita ke adik-adiknya yanda sama ibun, mereka pasti langsung tau." Lintang tau, dia hanya bisa bergumam lirih karena jika dia berbicara sedikit keras maka Candra akan terbangun.
"Selamat malam mas, jangan lupa bangun besok pagi ya, Lintang sayang mas." setelah mengatakan itu Lintang memejamkan matanya, mengikuti jejak sang kakak untuk pergi ke dunia mimpi. Siapa tau mereka akan bertemu dengan ayah dan bunda nya disana.
Bagi Lintang, Candra itu adalah panutannya, semesta yang dimiliki oleh remaja delapan belas tahun itu tentu saja setelah sang bunda. Jangan bertanya tentang sang ayah pada Lintang karena Lintang akan menjawab bahwa dia tidak pernah bertemu dengan sang ayah kecuali dalam mimpi juga melihat wajah tampan sang ayah lewat foto atau mungkin juga saat dia berkaca. Karena baik sang bunda atau pun sang kakak selalu mengatakan bahwa wajah Lintang begitu mirip dengan sang ayah.
.
.
.
.
.
Rion benar-benar membuat seisi rumah kebingungan karena dia hanya diam sembari meneteskan air matanya sejak dia pulang tadi, bahkan Rion tidak menjawab saat Rigel bertanya. Rion hanya bergumam nama dua kakak tertua mereka, Ares dan Alta, membuat semua berfikir bahwa Rion terlampau merindukan kedua kakak mereka itu.
Memang jika diingat lagi, saat mereka kehilangan delapan belas tahun lalu Rion adalah yang paling terpukul, mengingat bagaimana dekatnya Rion pada Ares juga Alta. Awalnya Rion bertahan karena ada Alta yang membutuhkan dukungan tapi saat Alta ikut menghilang bersama anak-anaknya membuat Rion kembali jatuh, beruntung Rigel dan yang lain bisa membuatnya bangkit dan ikut berusaha mencari keberadaan Alta.
"Gel, Rion baik-baik aja kan?" Igel hanya bisa mengangguk kecil, meskipun dia sendiri tidak yakin.
"Kayaknya dia kangen banget sama bli Ares, dia dari tadi cuma nyebut nama bli Ares terus." Leo menepuk pundak sahabatnya itu.
"Terus kenapa lo tinggalin dia sendiri oon." Hadar rasanya ingin marah saat mengetahui bahwa Igel meninggalkan suaminya dikamar sendirian.
"Dia lagi dikamar bli Ares." jawaban singkat Igel berhasil membuat mereka semua terdiam. Bagi mereka masuk kedalam kamar Ares bisa sedikit mengobati rasa rindu mereka, jika dulu Ares akan kembali dan membuat senyum diwajah mereka, kali ini Ares tidak pernah kembali. Antares kesayangan mereka itu sudah menjadi supernova, meninggalkan bintang-bintang yang selalu dia jaga sinarnya, adik-adiknya.
"Acan pasti udah gede ya bang sekarang." Alden, Leo dan Handar mengangguki ucapan Rius.
"Harusnya dulu aku gak biarin mas Alta pergi sendiri kan? Biar aku bisa pastiin mas Alta beneran pulang ke jogja apa gak." Alden menunduk, kembali meruntuki dirinya sendiri yang mengiyakan permintaan Alta untuk pulang ke Jogja seorang diri, hanya bersama kedua putranya saja.
"Gak usah nyalahin diri sendiri bby, aku gak suka. Itu bukan salah mu." Hadar mengelus punggung Alden dan menenangkan laki-laki itu.
"Mas Azka sama mas Rehan juga belum nemuin mas Alta ya Gel?" Igel menggeleng, dua dokter yang merupakan om dari Ares itu juga tengah mencari dimana keberadaan Alta yang hilang bagai ditelan bumi sejak delapan belas tahun lalu itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Candra Lintang
FanfictionMereka meninggalkan kota tempat mereka dibesarkan, menuju tempat mereka dilahirkan, kembali menyusuri jalan dimana kisah kedua orang tua mereka terjalin. Mencari keberadaan sisa konstelasi bintang yang dahulu sangat berharga untuk kedua orang tuany...
