.
.
.
.
.
Alta tidak percaya jika dia kembali menginjakan kaki di surabaya, suasana sore ibu kota jawa timur itu membuat dia rindu. Alta melirik sang suami yang menggeret kopernya, dengan tangan kanan menggenggam tangannya, Igel dan Azka yang sibuk menatap ponsel nya.
"Ares kita cari makan dulu ya, laper nih." Azka yang akan menyetir mobil mereka ke pare, jadi laki-laki itu bebas menentukan tujuan mereka sebelum pulang.
"Alta mau makan apa?" Alta yang semula menatap ke jendela beralih menatap Azka yang duduk di bangku kemudi.
"Apa aja mas." Azka mengangguk. Tapi bukannya mencari rumah makan Azka justru membelokan mobilnya ke arah restoran cepat saji, memesan dengan drive thru.
"Kirain mas mau makanan berat, taunya malah beli burger doang." Ares mengeluh saat Azka membeli hampir dua puluh burger.
"Gak usah protes Res, kamu makan burger satu aja kenyang, mau mas pesenin nasi emang?" Ares buru-buru menggeleng, bisa meledak perutnya jika dia harus makan nasi.
"Gak makasih!" Ares memutuskan menyandarkan kepalanya pada pundak Alta, kebiasaan yang dia rindukan selama delapan belas tahun.
"Aduh, mulai deh itu kepala nempel di pundak mas Alta." Ares langsung menatap Igel kesal, sedangkan Alta hanya tersenyum. Dia sudah lama tidak melihat kejahilan Igel pada Ares.
"Udah lah kalian itu udah tua, sadar umur. Apa yang mau di bilang Candra sama Lintang kalau lihat yanda sama papa nya suka saling ejek." Alta mengerjap saat mendengar kata papa keluar dari mulut Azka.
"Papa?" Ketiga nya melirik pada Alta yang terlihat bingung, sedangkan Ares tersenyum lembut sebelum menjelaskan.
"Candra sama Lintang manggil Igel papa, dan Rion ayah." Alta kembali tersenyum dan mengangguk. Dia juga tahu jika pasangan Rion dan Igel itu memutuskan tidak memiliki anak setelah keguguran yang dialami Rion delapan belas tahun lalu. Merea berdua lebih memilih mengangkat Candra dan Lintang sebagai anak mereka. Benar-benar mirip dengan Damar dan Angga, yang menjadikan Ares sebagai putra sulung mereka.
"Makasih udah nemuin mereka Gel." Igel menggeleng mendengar ucapan Alta.
"Bukan aku yang nemuin mereka mas, tapi mereka yang datang ke pare. Coba aja Candra gak nolongin Rion pasti sampai sekarang kita gak bakal tau apa pun."
.
.
.
.
.
Alta kembali menatap rumah yang delapan belas tahun ini dia tinggalkan, rumah yang mempertemukan dia dengan Ares, rumah yang menjadi saksi segala tingkah bucin nya pada sang Antares. Alta menatap pada Ares yang sudah membuka pintu mobil, hari memang sudah malam karena perjalan ke pare sedikit macet.
"Ayo Ta, yang lain udah nunggu di dalam." Alta perlahan menyambut tangan Ares yang akan kembali membawanya masuk ke rumah bintang.
Grep
Alta sedikit terhuyung saat meradakan tubuhnya di terjang pelukan, Alta tertawa kecil saat tahu bahwa Rion lah yang memeluknya, padahal dia bahkan baru saja melangkah masuk kedalam rumah.
"Mas Alta." Alta membalas pelukan erat Rion tidak kalah erat, dibelakang Rion, Alta bisa melihat adik-adiknya yang lain tengah tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Alden." Alden segera memeluk Alta begitu Rion melepaskan pelukannya.
"Mas Alta...hiks..." Alta melepaskan pelukan Alden dan menghapus air mata yang mengalir di pipi Alden.
"Jangan nangis, nanti aku di marahin Hadar." Hadar yang namanya di sebut hanya menggeleng sebelum ikut memeluk tubuh Alta.
"Selamat datang di rumah mas." Alta menangis saat Rius mengatakan itu, benar, ini adalah rumah nya, rumah mereka.
"Papa, ayah." Alta berjalan mendekati Damar dan Angga, memeluk kedua nya bergantian.
"Om Fajar." Fajar juga memberikan pelukan pada Alta saat laki-laki itu menyalami tangannya.
"Sebenernya aku pingin marahin mas Alta karena pergi gak bilang-bilang, tapi kata-kata ku ilang semua." mereka tertawa mendengar gerutuan Leo.
"Anak-anak?" Rion tersenyum saat Alta menanyakan anak-anak.
Grep
"Ibun!" Alta langsung berbalik saat merasakan pelukan di punggungnya juga pekikan nyaring putra bungsu nya.
"Lintang." Alta memeluknya erat, bahkan beberapa kali mengecup pipi Lintang yang basah karena air mata.
"Regi?" Regi tersenyum dan ikut memeluk Alta saat tau ibu sahabatnya itu mengenali nya.
"Ibun apa kabar? Sehat?" Alta mengangguk, tapi dia menatap Regi bingung.
"Regi di sini?" Regi mengangguk dan menunjuk Leo dan Rius, seketika itu juga Alta mengerti, jika sahabat putra bungsunya itu adalah putra dari adik-adiknya. Alta tertawa kecil, ternyata selama ini mereka sudah dekat, netra hitam Alta akhirnya menatap pemuda yang berdiri di belakang Regi dan Lintang, pemuda yang sangat mirip dengan Hadar.
"Dia, Jojo?" Hadar dan Alden mengangguk saat Alta menatap mereka.
"Kamu udah besar." Jojo tersenyum, dia takjub saat melihat wajah Alta yang sangat mirip dengan Candra, tapi Alta terkesan cantik.
"Kita pernah ketemu beberapa kali waktu di semarang om." Alta mengangguk, dia tentu ingat jika Jojo adalah sosok yang mengantar Regi ke rumah mereka.
"Candra dimana?" Angga tersenyum dan menepuk pundak Alta.
"Mandi dulu, baru setelah itu boleh ketemu Candra." Alta menatap yang lain bingung, bahkan Lintang menghindari menatap matanya.
"Ayo, ke kamar dulu, habis mandi kita ketemu Candra." Ares segera membawa Alta ke kamar mereka.
Alta mengedarkan pandangannya ke seisi kamar mereka, tidak ada yang berubah, masih tetap sama. Mungkin hanya box bayi yang dulu ada di sana sekarang sudah tidak ada, Ares memindahkan itu ke gudang belakang saat dia pulang.
"Kamu mandi dulu, biar aku mandi di kamar Lintang." Alta mengangguk dan masuk kedalam kamar mandi setelah mengambil pakaian nya. Sedangkan Ares keluar dan masuk ke dalam kamar Lintang untuk mandi. Hanya butuh waktu lima menit untuk Ares mandi, laki-laki itu menunggu Alta dengan duduk diam di atas ranjang.
"Kita harus kuat Ta, anak-anak butuh kita."
.
.
.
.
.
Alta lagi-lagi di buat bingung saat Ares menatapnya lekat, dia hanya ingin bertemu dengan Candra, tapi kenapa Ares sama sekali beranjak dari duduk nya.
"Ares, ayo kita ke Candra kenapa kamu diem aja." Ares masih menatap lekat pada Alta.
"Janji dulu sama aku, kamu gak boleh nangis." Alta mulai merasa tidak enak saat mendengar ucapan Ares.
"A-ares, ada apa sama Candra? Dia baik-baik saja kan?" Ares mengelus rambut Alta sebelum menarik tangan Alta ke arah pintu ruang rahasia di kamar nya.
"Ares?" Ares tidak menjawab Alta dan beralih membuka pintu ruangan itu. Ares membawa Alta masuk, saat itu juga Alta menutup mulutnya dengan tangan saat melihat tubuh putra sulungnya terbaring dengan mata terpejam.
"Candra drop seminggu lalu, dia koma Ta." Alta menangis saat mendengar penjelasan Ares.
"C-Candra." Alta berjalan mendekati putra sulungnya, mengelus pipi tirus milih sang putra.
"Candra, ini ibun, ibun udah pulang nak." Ares mengalihkan pandangan nya saat melihat Alta menangis.
"Candra capek? Gak papa sekarang Candra istirahat dulu, ibun udah pulang buat tunggu Candra bangun nak." Alta mengecup dahi Candra sebelum berbalik dan menangis dalam pelukan Ares.
"Jangan nangis, Candra bilang dia kangen sama kamu, jadi jangan nangis di depan Candra." Alta mengangguk dan membiarkan Ares menghapus air matanya.
"Aku keluar dulu sebentar, kamu temenin Candra dulu di sini." Alta kembali mengangguk.
"Ibun udah pulang nak, cepet bangun, nanti ibu buatin udang krispi saus keju kesukaan kamu."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat pagiii....
Aku lanjut up nih...
Selamat membaca dan semoga suka ya...
See ya
-Moon-
KAMU SEDANG MEMBACA
Candra Lintang
FanfictionMereka meninggalkan kota tempat mereka dibesarkan, menuju tempat mereka dilahirkan, kembali menyusuri jalan dimana kisah kedua orang tua mereka terjalin. Mencari keberadaan sisa konstelasi bintang yang dahulu sangat berharga untuk kedua orang tuany...
