.
.
.
.
.
Setelah Ares dan Hadar kembali ke cafe, cafe sudah dalam keadaan sepi. Semua orang sudah berkumpul di ruang istirahat, menunggu Candra kembali membuka matanya. Lintang menggenggam tangan Candra erat, tidak tidak pernah suka jika harus melihat sang kakak dalam pejam nya seperti ini, itu membuatnya takut.
Nimas hanya bisa menunduk di ujung ruangan saat tatapan Lintang dan Regi menghakiminya, perempuan itu tentu saja takut, dia baru saja mengetahui bahwa Candra adalah putra sulung si pemilik cafe, dan orang yang dia hina tadi adalah adik sang pemilik. Nimas hanya perlu menunggu kedatangan ayah nya sebentar lagi, karena sebenarnya sang ayah tengah berada di surabaya untuk menghadiri lomba yang di ikuti oleh adiknya.
"Bli Made sudah sampai pare, sekarang lagi menuju ke cafe. Lebih baik kita semua keluar, Candra biar di jaga Lintang aja. Bli Ares mau ikut keluar?" Ares mengangguk, dia menatap Nimas yang masih setia menunduk. Dari dulu Ares tidak pernah suka jika ada yang menyakiti keluarga, apa lagi ini adalah anak nya sendiri.
"Semua keluar, Lintang sama Regi disini aja jagain Candra ya?" Lintang mengangguk, begitu pula Regi.
"Kamu juga ikut keluar, jelasin semuanya ke ayah kamu tanpa ada yang di tutupi kalau kamu gak mau berurusan sama polisi." kali ini Alden yang buka suara. Sosok Alden yang dulu nya polos menjadi sedikit menyeramkan jika seperti ini.
Nimas hanya bisa pasrah jika serlah ini dia akan di tarik pulang oleh sang ayah, bahkan dia harus siap untuk di hukum oleh sang ayah. Saat semua sudah berkumpul di depan, seorang laki-laki masuk ke dalam cafe, Nimas yang melihat sosok sang ayah menggigit bibir bawahnya.
"Igel." Igel tersenyum saat Made menyapanya, begitu juga pegawai yang lain.
"Bli Ares apa kabar?" Ares hanya tersenyum dan mengangguk, cabang cafe di bali memang di bangun saat Ares masih ada bersama yang lain, bahkan Ares sendiri yang memilih Made sebagai manager disana.
"Baik."
"Ada masalah apa Gel? Cafe di bali aman kok." Igel menggeleng, laki-laki masih bisa tersenyum berbeda dengan Rion, Rius dan Alden.
"Dia putri bli?" Made langsung menoleh ke arah Rion saat salah laki-laki bersuara. Made mengikuti arah yang ditunjuk Rion, dan sedikit terkejut saat menyadari kehadiran anak kedua nya itu.
"Nimas? Iya dia putri ku, apa dia membuat masalah?" Rion tersenyum miring, dan itu membuat Made was-was, meskipun Rion terlihat sangat tenang tapi laki-laki itu adalah orang yang paling di takuti oleh semua pegawai galaxy's cafe.
"Ya masalah besar, dia membuat keributan di cafe ini dan melukai Candra, salah satu pegawai kami." Made mengernyit, dia seperti pernah mendengar nama Candra.
"Candra? Pegawai baru?" kali ini Igel yang mengangguk, yang lain hanya diam dan menyerahkan semuanya pada Rion juga Igel, bahkan Ares hanya diam karena dia tidak ingin memperburuk suasana.
"Ya, putra sulung bli Ares." Made terkejut mendengar hal itu, selama ini semua pengelola utama galaxy's cafe tidak pernah sekali pun membahas tentang keluarga Ares dan Alta, bahkan tentang anak-anak mereka, yang mereka ketahui hanya sebatas Ares dan Alta memiliki dua orang putra.
"Aku mengirimkan sebuah video ke nomor bli, bli bisa lihat sendiri bagaimana kejadiannya." Made langsung mengambil ponselnya dan membuka video yang dikirim kan Rion pada nya. Made jelas terkejut melihat tingkah bar-bar putri nya, bahkan putrinya itu memaksa Candra untuk mengakui nya sebagai kekasih.
"NIMAS!" Nimas menggigit bibir bawahnya saat Made memanggil namanya, dia tau sang ayah pasti marah.
"M-maaf pa." Made menatap marah pada Nimas, sebelum akhirnya menatap penuh penyesalan pada Igel, Rion juga Ares.
KAMU SEDANG MEMBACA
Candra Lintang
FanfictionMereka meninggalkan kota tempat mereka dibesarkan, menuju tempat mereka dilahirkan, kembali menyusuri jalan dimana kisah kedua orang tua mereka terjalin. Mencari keberadaan sisa konstelasi bintang yang dahulu sangat berharga untuk kedua orang tuany...
