Laki laki yang terkenal kejam dan bengis itu, kini turun dari ducati nya. Baju serba hitam yang ia kena kan menambah kesan seram bagi siapa saja melihat diri nya.
Arav tak perduli pandangan mata semua mahasiswa/i yang menatap diri nya. Namun, ada juga yang tak berani menatap diri nya. Itu karna visual Arav benar benar menyeramkan di mata mereka.
Ia tetap melangkah ke dalam kampus itu, hingga sampai di ruangan konseling.
"Sudah memanggil orang tua mu?" tanya Dosen yang baru saja hendak keluar dari ruangan konseling itu. Ia menatap tak suka pada Arav. Si biang onar.
Lalu, laki laki tua itu terkekeh, kekehan sinis dan merendahkan, "Aku lupa, bahwa orang tua mu tak sudi mempunyai anak seperti mu" cemooh Dosen tua itu.
Arav hanya diam, ia hanya bisa mengepalkan kedua tangan nya. Ingatlah, bahwa diri nya hanya punya kesabaran sedikit.
"Sebenarnya saya enggan memanggil orang tua mu" Dosen itu kembali berbicara, "Saya sudah tau ending nya bakalan seperti ini. Tak ada yang datang" tambah nya lagi, sembari bersidekap dada.
Sudah cukup, kesabaran Arav sudah habis, ia hendak melayangkan satu bogeman pada Dosen tua itu. Namun, suara seseorang memberhentikan gerakan nya.
"Sebagai orang tua di Kampus ini, Tuan tidak berhak meremehkan Mahasiswa/i, termasuk Arav. Anak saya!"
Reflek Arav langsung berbalik ke sebelah kiri, di sana Velyne berdiri dengan menggunakan dress berwarna hijau toska. Senyuman kecil terbit di bibir tebal Arav.
Velyne semakin mendekat ia memandang tak suka pada Dosen itu. Menjabat sebagai Dosen membuat Velyne paham masalah seperti ini. Selama menjadi Dosen dulu, ia juga sering menghadapi Mahasiswa yang nakal. Namun, tidak untuk menghakimi dan merendahkan Mahasiswa tersebut.
Dosen itu tampak berdiam diri, ia memandang Velyne dari bawah hingga ke atas. Rasa nya Velyne sangat asing.
"Jangan memandang Mommy saya seperti itu, atau mata anda saya congkel!!" ancam Arav dengan amarah, Sontak saja Velyne mendekat dan mengelus lengan Arav, guna meredakan emosi anak itu.
Sedangkan Dosen itu tersadar, ia langsung menuntun Velyne dan Arav masuk ke ruangan konseling.
Dalam hati Arav berdecak malas, kenapa Velyne ingin datang? Ia tak mengharapkan Velyne datang, tapi entah mengapa diri nya bahagia.
"Langsung saja, anak anda sangat tidak disiplin, bahkan semalam Arav hampir saja mencelakai teman seangkatan nya" jelas Dosen tersebut.
Velyne memandang Arav, ia tersenyum teduh, lalu menyuruh Arav menceritakan semua nya, ia mencoba menenangkan Arav, agar anak itu mau terbuka.
"Ucapkan semua nya Arav, jangan ada yang kau sembunyikan" suruh Velyne.
Arav menghela nafas malas, bukan nya menjelaskan ia malah memainkan rambut Velyne.
"Maaf Mrs. Anda bisa lihat sendiri, jika anak anda tidak di siplin." seru Dosen itu membuat penglihatan Velyne beralih menatap Dosen itu.
"Jangan di pandang Momm" cegah Arav. Velyne mengernyitkan dahi bingung.
"Kenapa?" tanya Velyne heran.
"Dia burik" jawab Arav terang terangan.
"Arav!! Ini bukan main main. Sekarang jelaskan masalah nya!!" ucap Dosen itu menahan emosi.
Terpaksa Arav memandang Dosen nya dengan malas.
"Saya hanya membela diri, dia menjelekkan keluarga saya!! Bahkan orang tua saya!" jawab Arav dengan lantang.
KAMU SEDANG MEMBACA
YOUR' SPECIAL
Acción[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] 🚫Banyak adegan kekerasan, perkataan kasar, bijaklah dalam membaca. Seorang gadis kelahiran Indonesia terpaksa pergi ke Italia, hendak melihat sahabat nya. Namun, naas gadis itu malah terperangkap dalam dekapan seorang lucif...
