Pagi-pagi sekali, Ibu dan Ayahku sudah pergi entah kemana. Aku hari ini memiliki jadwal untuk mengambil almamater. Namun belum sempat aku pergi, aku dikejutkan oleh kedatangan kedua orang tuaku.
Ayahku datang dengan memapah tubuh lemah Ibuku, ternyata beliau tiba-tiba saja mengalami Hipertensi saat pulang menuju rumah. Namun, kedua orang tuaku tetap menyuruhku segera pergi ke kampus untuk mengambil almamater dan pulang secepatnya.
Sepertinya, mereka tidak enak dengan Feni yang sudah datang untuk menjemputku
Selama di perjalanan, aku terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku melamun dan hal itu berhasil membuat Feni khawatir.
Sahabatku itu pun bertanya kepadaku, bagaimana perasaanku dan apakah aku ingin pulang atau bagaimana. Namun, aku tetap mau pergi ke kampus. Datang untuk mengambil almamater dan langsung pulang.
Memang benar, aku dan ibuku tidak cukup dekat. Namun, beliau tetaplah ibuku yang melahirkan dan membesarkanku.
Sesampai di FEB, terlihat sudah banyak mahasiswa yang datang. Mereka terlihat berjalan menuju gedung belakang, Economic Center namanya atau disingkat dengan EC.
Jujur, aku tidak mengetahui bangunan apa itu. Namun, karena banyak orang yang pergi ke sana. Aku pun ikut berjalan menuju gedung tersebut dan kutarik Feni untuk mengikutiku. Wanita itu hanya diam tanpa menolak dan setelah sampai. Kami di arahkan untuk naik ke lantai dua.
Mereka bilang, pengambilan almamater ada di lantai dua dan benar saja. Di lantai tersebut, sudah banyak orang yang mengantri dan aku juga Feni pun ikut mengantri.
Satu dua orang pun selesai mengambil almamater, aku cukup penasaran dengan apa yang didapat karena mereka kembali dengan sebuah tas dan juga almamater. Kira-kira apa isi tasnya ya?.
Sesampai di depan, kakak tingkat yang membagikan almamater pun bertanya mengenai ukuran yang ingin kuambil.
"Hmm, saya ukurannya L kak."
Kakak tingkat tersebut akhirnya memberiku almamater dengan ukuran L dan juga tas yang sama seperti mahasiswa lain.
"Ini ya, Dek. Jangan lupa diisi presensinya," jelas Kakak tersebut sembari menunjuk ke arah kertas di sampingnya.
Aku segera mengisi kertas presensi tersebut, sepertinya hal itu dilakukan agar tidak ada mahasiswa yang mengambil lebih dari sekali. Lagi pula siapa yang akan melakukan hal itu?.
Setelah selesai, aku menjauh dari antrian. Sembari menunggu Feni, aku membuka tas yang kudapat. Ternyata di dalam tas tersebut ada dua barang, yaitu topi dan juga buku kampus. Disela-sela kegiatanku membaca buku kampus, Feni pun selesai mengambil almamater.
Wanita itu kemudian mengajakku untuk pulang, dia juga ternyata khawatir dengan ibuku.
Sesampai di rumah, ternyata ada banyak orang yang datang. Aku cukup terkejut, karena ternyata keluarga besarku datang. Mungkin mereka sudah diberitahu oleh ayahku mengenai sakit ibuku tadi pagi.
Kini, sudah pukul 3 sore. Keadaan ibuku masih seperti itu, beliau sangat lemas dan juga tidak ada kemajuan yang berarti hingga saat ini.
Ayahku pun memutuskan untuk membawa ibuku besok ke rumah sakit untuk dicek lebih lanjut. Takutnya kondisi Ibu semakin memburuk jika dibiarkan begitu saja.
Keesokkan harinya, Ayah membawa Ibu untuk pergi ke rumah sakit. Aku juga ikut beserta Kakak laki-lakiku.
Ibu di bawa ke sebuah ruangan untuk dicek keadaannya. Tak lama kemudian, dokter yang mengeceknya pun keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Manis Things (END)
JugendliteraturNomor Peserta : 041 Tema yang diambil : Campus Universe Blurb : Siapa bilang kuliah itu mudah? Kuliah sangat menyita waktu dan juga perasaan. Nyaris seharian bahkan jika bisa bermalam di kampus, mungkin sebagian mahasiswa akan lakukan. Bergerak cepa...
