Bab 50 - Jawab Apa Nanti? -

3 2 0
                                        

Perkuliahan berjalan dengan baik, ya walaupun ada hal-hal yang cukup mengganggu. Namun, syukurnya semua dapat aku lewati. Hmm, semester kali ini aku harus benar-benar belajar tentang semua konsentrasi yang ada karena semester depan aku harus memilih salah satu dari empat konsentrasi tersebut.

Setelah nyaris tiga bulan aku mempelajari semuanya, hatiku mantap memilih konsentrasi Operasional karena sepertinya aku lebih paham pada konsentrasi tersebut dan juga konsentrasi tersebut membuatku tertarik dengan segala pembahasan yang ada di dalamnya.

Setiap kelas konsentrasi, dosen-dosen akan menanyai kami konsentrasi yang akan kami ambil. Manajemen pemasaran, manajemen keuangan, manajemen sumber daya manusia dan yang terakhir adalah manajemen operasional. Hanya saat manajemen operasional aku mengangkat tanganku dengan semangat.

Hal itu membuat dosen manajemen operasional II menatap ke arahku. Beliau bernama Bapak Aryo, "Kamu kenapa mau ngambil Manajemen Operasional?"

Aku menurunkan tanganku sembari tersenyum ke arah dosen tersebut. "Saya tertarik pada semua pembahasan yang ada di manajemen operasional, Pak. Saya ingin tau lebih dalam tentang konsentrasi tersebut."

Alasan kenapa Pak Aryo menanyaiku adalah karena hanya aku yang mengangkat tangan di dalam kelas tersebut. Kebanyakan dari teman-teman sekelasku memilih Manajemen Pemasaran.

Pak Aryo mengangguk-anggukan kepalanya entah karena apa dan setelah waktu mengajarnya selesai, beliau pun keluar dari kelas kami. Namun, sebelum itu Pak Aryo berbicara padaku.

"Kalau kamu tertarik sama konsentrasi operasional, kamu bisa datangin bapak di ruang dosen ya."

Ucapan beliau terus menghantui pikiranku karena jujur aku belum pernah ke ruang dosen apalagi jika harus menghadap pada beliau. Hal tersebut membuat aku melamun tanpa kusadari.

Entah berapa lama aku melakukan hal itu, karena tiba-tiba saja seseorang menepuk pundakku dan menyadarkanku dari lamunan tersebut.

Mataku berkedip beberapa kali dan kulihat teman-temanku sudah berdiri dari kursi mereka masing-masing. Aku yang sadar kemudian ikut berdiri dan berjalan keluar kelas.

Di tengah perjalanan, Dira bertanya tentang keadaanku. Mungkin dia pikir aku tengah sakit. Nyatanya tidak, aku baik-baik saja.

"Kamu sakit, Dee?" tanya Dira sembari meletakkan punggung tangannya ke dahiku.

"Enggak kok," jawabku pelan sambil menjauhkan tangan wanita tersebut dari dahiku.

Teman-temanku yang lain juga ikut melihat ke arahku, apalagi Rai, pacarku itu sudah ingin mengeluarkan suaranya. Namun, segera kupelototi sehingga tak ada kata yang keluar dari bibir tipisnya itu.

***

Seperti biasanya, kami akan ke kantin sembari menunggu waktu mata kuliah selanjutnya. Walau makanan di kantin biasa saja, tetapi bisa mengurangi rasa lapar yang ada. Dalam kondisi seperti ini, kita tidak bisa memilih. Namun, sebenarnya kita bisa pergi keluar mencari makan. Tapi, harus memakan waktu lagi dan istirahat yang ada hanya berlangsung 30 menit. Lagi pula akan lebih enak jika menunggu di kampus saja.

Semuanya sudah memesan makanan masing-masing, sembari menunggu makanan kami datang. Kami memutuskan untuk berbincang tentang konsentrasi yang semester depan kita ambil.

"Kamu beneran ngambil operasional?" tanya Dira padaku.

Aku mengangguk pelan sembari menyeruput es milo yang sebelumnya kupesan.

"Yakin? Yang ambil operasional dikit loh?" tanya Bora tiba-tiba.

Aku mengalihkan pandanganku dari Dira ke Bora. "Iya, aku yakin. Lagipula aku penasaran, kenapa jurusannya sepi gitu."

Manis Things (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang