Bab 39 - Ambil Motor -

5 1 0
                                        

Tepat hari rabu, aku memutuskan untuk membayar UKT semester tiga dan setelahnya aku akan pergi ke kost Rai. Rencananya kami berdua akan mengambil motor pacarku itu di bengkel, katanya sih sudah selesai diperbaiki.

Selama ini, Rai hanya di dalam kost. Tapi, pria itu tidak terlalu peduli karena dia juga jarang berpergian keluar rumah dan lebih senang berada di dalam kost.

Karena aku datang ke bank agak siang, aku mendapat antrian yang lumayan jauh. Di hadapanku masih ada tujuh orang dan aku orang ke delapan.

Saat menunggu, tiba-tiba saja Rai menghubungiku melalui panggilan telepon biasa. Aku lupa menyalakan paket dataku sehingga pria itu tidak bisa menghubungiku melalui whatsapp.

"Kenapa, Rai?" tanyaku dengan pelan setelah mengangkat panggilan tersebut. Aku tidak mau mengganggu orang lain di dalam bank tersebut. Apalagi sedari tadi hanya ada keheningan. Aku bahkan mengantuk saat menunggu giliran.

"Dimana?"

"Masih di bank. Antri."

"Beneran?"

"Iya, kalau nggak percaya nanti aku video call. Telepon di wattsap aja deh. Bentar aku nyalain paket data aku. Tadi lupa."

"Ya udah," jawab Rai mengalah.

Panggilan tersebut mati dan setelah ku nyalakan paket dataku. Ada banyak pesan yang masuk dari Rai. Segera ku hubungi Rai agar dia percaya jika aku masih mengantri.

Setelah di angkat oleh Rai. Kamera ponsel milikku langsung ku arahkan ke orang-orang yang tengah berada di hadapanku. Lalu ku kirimi lagi pria itu pesan agar dia mempercayaiku.

Hmm, sebenarnya aku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Namun, di suatu ketika aku tengah dalam suasana hati yang kurang baik. Kami bisa saja bertengkar. Selebihnya aku tidak terlalu peduli. Toh, aku tidak melakukan hal-hal aneh sehingga tak ada yang perlu ku tutup-tutupi.

---

Rai

Ya udah, kalau mau ke sini. Chat aku ya.

Iya.

---

Pesan singkat yang sebenarnya tidak terlalu penting itu. Menjadi penting jika Rai yang mengirim. Sepertinya pria itu benar-benar tidak ada kerjaan sehingga selalu menghubungiku setiap saat.

Setelah selesai dengan pembayaran UKT. Aku langsung pergi ke kost Rai, agak jauh tapi yasudahlah. Sebelum sampai di rumah Rai, aku menyempatkan diri untuk membeli makanan. Tadi pagi aku lupa sarapan karena telat bangun dan juga pasti Rai belum makan.

Aku membeli dua ayam lalapan beserta nasi dan jangan lupakan untuk membeli es teh hehe.

Aku sampai di kost milik pria itu. Sebelum pergi aku sudah bilang padanya bahwa aku sudah menuju kostnya. Belum sempat aku naik ke lantai dua kost Rai. Tiba-tiba saja pria itu keluar dari kostnya. Turun ke lantai satu dimana aku tengah sibuk membuka helm.

Aku terkejut saat melihat pria itu berdiri tepat di sampingku.

"Astagfirullah, Rai!" pekikku dengan cukup nyaring.

Rai tersenyum kecil sembari membantuku membawa plastik berisikan makanan juga es teh itu.

Rai memang jarang mengeluarkan suaranya. Bahkan kini, pria itu sudah jalan lebih dulu di depanku. Melupakanku yang sering kali dia tanyakan keberadaannya.

Sesampai di depan pintu kamar kost Rai, pria itu menahan pintu dengan menggunakan tubuhnya agar aku bisa masuk kostnya dengan mudah. Padahal aku bisa masuk sendiri dan menahan pintu tersebut. Agak bingung memang dengan kelakuan pacarku tersebut.

Manis Things (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang