Bab 70 - Pulang Kampung -

5 0 0
                                        

Liburan semester pun tiba, kali ini tidak ada waktu istirahat bagiku. Aku harus mempelajari skripsi untuk kukerjakan nanti. Bab empat dan lima menunggu untuk kukerjakan saat semester enam nanti.

Aku sering sekali berkonsultasi dengan Pak Aryo mengenai skripsi yang akan kubuat dan beliau senantiasa membantuku melakukan banyak hal. Hanya seminggu yang diberi untuk libur semester ini dan harus kumanfaatkan sebaik mungkin.

Di hari ke empat liburan, aku mendapatkan informasi buruk di grup akuntansi manajemen. Kelas yang diajari oleh Pak Ibnu. Nyaris semua yang ada di grup berdebat karena mereka mendapatkan nilai yang buruk dan harus mengulang semester depan.

Aku menjadi was-was dan segera menghubungi Dira dan Bora. Kami melakukan video call dan sama-sama baru mengetahui informasi mengenai keluarnya nilai ujian kami.

Dengan gugup, aku membuka website kampus untuk mengecek nilai akuntansi manajemen itu. Beberapa kali aku memperbaiki deru nafasku yang berubah tak beraturan dan saat website tersebut terbuka, mataku langsung melolot kaget karena nilaiku jauh dari kata buruk ya walaupun aku hanya mendapatkan nilai B.

Aku segera memberitahukan teman-temanku dan syukurnya mereka juga mendapatkan nilai yang baik. Aku kembali membuka grup kelas tersebut dan banyak dari mereka yang menandaiku. Beberapa di antaranya memintaku untuk menghubungi Pak Abdi lagi. Namun, aku kembali memberitahu mereka untuk menghubungi beliau sendiri-sendiri.

Aku menghela nafas setelah membalas pesan di grup tersebut dan aku kemudian menghubungi Rai untuk berbincang sejenak. Kepalaku sedang pusing dan alangkah baiknya jika aku bisa berbicara dengan pacarku itu.

"Halo," sapaku setelah panggilan tersebut menyambung.

"Halo, kenapa, Dee?" tanya Rai yang langsung membuatku tersenyum.

"Nggak pa-pa. Pengen ngobrol aja," jelasku pelan sembari membaringkan tubuhku di atas kasur.

Aku dan Rai asyik berbincang banyak hal. Mulai dari nilai ujian hingga makanan yang kami makan sebelumnya. Pacarku itu juga memberitahu tentang keinginannya untuk pulang ke rumahnya di luar kota.

"Jadi, kapan mau pulangnya?" tanyaku dengan pelan. Aku tidak bisa menutup rasa sedihku karena harus berpisah dengan Rai.

"Rencana sih lusa, besok bantuin aku packing ya," pinta Rai yang langsung membuatku mengangguk pelan.

"Iya, nanti aku bantuin."

Rai berencana pulang ke kota kelahirannya itu dengan menggunakan pesawat dan dia memintaku untuk mengantarnya. Ya walaupun hanya untuk beberapa hari. Namun, aku merasa begitu sedih.

Malam pun tiba, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menghubungi Rai. Walau hanya sekedar menanyakan keberadaannya. Aku sedikit panik jika dia belum membalas pesanku. Aneh memang, tapi itulah yang terjadi padaku kini.

Sebelum tidur, aku mulai melakukan video call dengan Rai. Aku juga meminta dia untuk memilih baju-baju yang akan dia bawa nanti dan besok aku tinggal membantu dia untuk memasukkan baju-baju itu ke dalam koper.

Rencananya besok aku akan pergi ke kos Rai pada pukul dua siang dan akan bermalam karena lusa aku harus mengantar pacarku itu ke bandara tepat pukul delapan pagi. Dia mengambil penerbangan pukul 10 pagi.

Setelah selesai melakukan video call aku segera ingin tidur. Namun, ternyata ponselku kembali berbunyi. Karena mataku sudah tertutup, aku tidak melihat siapa yang menelepon dan langsung mengangkatnya.

"Halo," sapaku setelah mengangkat panggilan itu.

"Halo, Mbak," sapa orang di balik telepon itu yang kuyakini adalah Barra.

Manis Things (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang