Setelah mengajar, aku langsung berlari ke lantai tiga karena aku harus ujian sekarang. Saat sampai aku cukup terkejut karena semua teman-temanku sudah duduk di kursinya masing-masing dan hanya aku yang belum.
Pengawas yang ada kemudian menyuruhku untuk duduk di kursi paling depan karena hanya kursi itu yang kosong. "Kamu duduk di depan!" tegasnya yang langsung membuatku duduk di tempat yang beliau maksud.
"Ujian sebentar lagi dimulai, silakan taruh tas kalian di depan. Hanya ada pulpen dan KRS yang ada di atas meja," perintah pengawas yang kukenal bernama Ibu Yuni.
Aku segera mengeluarkan KRS juga pulpenku dari dalam tas. Lalu menaruh tasku di depan kelas. Aku sengaja mengeluarkan tiga pulpen karena takut salah satu dari tiga pulpen itu rusak.
Aku kembali duduk di kursiku dan menunggu instruksi selanjutnya dari Ibu Yuni. "Sudah semua ya, jangan lupa ponsel kalian simpan di dalam tas ya. Kalau saya sampai menemukan ponsel di meja, ujian kalian saya batalkan."
Mendengar ucapan beliau, beberapa temanku kembali maju kedepan untuk menaruh ponselnya ke dalam tas. Kalau aku, aku memang sudah menaruh ponselku di dalam tas sejak datang tadi.
Ibu Yuni kemudian mengambil lembar jawaban juga soal dan langsung memberikannya kepada kami yang duduk paling depan. Aku mengambil lembar jawaban juga soal untukku sendiri dan sisanya kuberikan pada orang yang duduk di belakangku.
Setelah semua sudah mendapatkan lembar jawaban dan soal. Kami pun memulai ujian yang akan berlangsung selama 90 menit itu. "Silakan dimulai ujiannya."
Satu persatu soal kukerjakan dengan baik. Namun, saat sudah menyelesaikan 50% soal. Aku mendapati beberapa soal yang begitu membingungkan karena merasa aneh, aku segera bertanya pada pengawas yang ada.
Aku mengangkat tanganku dan Ibu Yuni langsung menyuruhku untuk berbicara. "Maaf, Bu. Untuk soal nomor enam sama tujuh kok sama ya?" tanyaku karena memang soal yang ada sama. Benar-benar sama tidak ada bedanya.
Ibu yuni terlihat mengambil selembar kertas di hadapannya. "Iya juga ya? Ya sudah, dikerjain aja. Samakan jawabannya."
"Baik, Bu."
Sebenarnya hal seperti ini sering terjadi, entah kesalahan soal, jawaban yang benar tidak ada atau malah soal yang ada sama. Jika teliti, pasti akan ada yang memahaminya dan memberitahukan kesalahan tersebut seperti yang aku lakukan tadi.
Dari 15 soal, aku sudah menyelesaikan 13 soal dan tinggal dua lagi karena aku bingung dengan jawabannya. Sebenarnya aku mau mengosongkan dua jawaban itu. Namun, aku mengingat ucapan salah satu dosenku yang mengatakan bahwa setiap jawaban pasti bernilai walaupun salah.
Aku kemudian menulis jawaban yang sekiranya mendekati dan akhirnya aku selesai mengerjakan semua soal tersebut. Aku memperhatikan jam dinding yang berada di depan kelas dan ternyata masih ada waktu setengah jam.
Aku terdiam sembari memikirkan apa yang perlu kulakukan. Namun, tiba-tiba Ibu Yuni berbicara. "Kalau sudah ada yang selesai, silakan kumpul soal dan jawabannya kesini ya."
Mendengar ucapan dari Ibu Yuni tersebut, aku akhirnya berdiri dan berjalan ke arah beliau. Aku menaruh lembar soal dan jawaban yang kumiliki. "Sudah, Nak?" tanya Ibu Yuni.
"Iya, Bu."
"Ya sudah, silakan keluar."
"Baik, Bu. Makasih."
Aku berjalan menjauh dari beliau untuk mengambil tasku dan kemudian keluar dari kelas. Di depan kelas, aku menunggu teman-temanku keluar karena belum waktunya istirahat.
Cukup lama aku menunggu mereka keluar bahkan hingga nyaris waktu istirahat tiba. Satu persatu teman sekelasku keluar, diikuti oleh ketujuh teman-temanku yang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Manis Things (END)
Ficção AdolescenteNomor Peserta : 041 Tema yang diambil : Campus Universe Blurb : Siapa bilang kuliah itu mudah? Kuliah sangat menyita waktu dan juga perasaan. Nyaris seharian bahkan jika bisa bermalam di kampus, mungkin sebagian mahasiswa akan lakukan. Bergerak cepa...
