Minggu pagi kujadikan sebagai hari di mana aku akan belajar mengendarai motor dan Feni yang akan menemaniku. Wanita itu sebenarnya takut. Namun, dia berusaha untuk menghilangkan perasaan tersebut.
Feni datang ke rumahku sekitar pukul enam pagi, kemudian aku dan dia pergi ke sebuah perumahan yang biasa digunakan sebagai tempat joging dengan motor baruku.
Feni memarkirkan motorku di pinggir jalan perumahan dan menyuruhku untuk menaiki motor tersebut sendiri.
"Naik gih," perintah Feni yang langsung membuatku menatap ke arahnya.
"Sendirian?"
"Ya iyalah, kamu mau gonceng aku? Emang bisa? Bawa motor aja belum bisa!"
Aku memutar bola mataku dengan malas setelah mendengar ucapan Feni. Memang benar aku belum bisa mengendarai motor. Namun, aku benar-benar takut jika langsung membawanya sendiri.
"Cepetan."
"Iya, sabar."
Aku pun menaiki motor baruku dan kemudian menatap ke arah Feni, "terus ngapain lagi?"
"Puter kuncinya!"
"Kemana?" tanyaku dengan wajah tanpa dosa.
Feni pun kesal dan akhirnya memeragakan apa yang dia suruh tadi. Setelah motor nyala, wanita itu menyuruhku untuk mulai menjalankan motor tersebut.
"Di gas motornya, tarik pelan aja. Jangan dadakan, ntar jatuh malah."
Ucapan biasa dari Feni itu berhasil membuatku kembali takut padahal sebelumnya aku sudah yakin bisa melakukannya. Karena cukup lama aku terdiam, akhirnya Feni naik ke kursi belakang motor dan membantuku untuk menjalankan motor itu.
Untungnya Feni sangat tinggi sehingga dia bisa melihat ke depan langsung dan membantuku untuk belajar.
Cukup lama aku belajar dengan Feni di belakangku dan setelah sudah agak paham. Sahabatku itu turun dan menyuruhku untuk membawa motor sendiri.
Dengan perlahan aku mencoba untuk mengendarai motor yang nantinya aku pakai ke kampus itu dan alhamdulillahnya aku bisa dalam sekejap.
Beberapa kali aku mengendarai motor itu sendirian dan setelah yakin. Aku meminta Feni untuk naik di belakang.
"Ayo, Fen naik," ajakku yang langsung membuat Feni ngeri.
Feni menggeleng pelan, "nggak ah, takut aku."
"Pelan-pelan aja kok," sanggahku dengan semangat.
"Ya udah, hati-hati."
Feni pun naik ke belakangku dan aku segera menarik gas dengan super pelan. Kakiku masih di bawah seperti yang Feni suruh sebelumnya. Katanya, biar lebih seimbang dan benar. Kami pun seimbang di atas motor.
Setelah jarak lima meter akhirnya aku berani untuk menaikan motorku dan mulai santai karena jika gugup. Aku bisa saja langsung oleng dan menyebabkan kami berdua jatuh dari motor.
Cukup lama aku mengendarai motor dengan Feni di belakangku. Kini, jalanan perumahan itu sudah dipenuhi oleh orang-orang karena aku dan Feni tidak terlalu suka keramaian akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke rumahku.
Sebelum itu kami memutuskan untuk sarapan di pinggir jalan dan aku yang mengendarai motor itu dengan alasan biar aku terbiasa mengendarainya padahal Feni cuman mau beristirahat di belakangku.
Saat makan tiba-tiba saja ada sebuah pesan masuk ke dalam ponselku. Aku segera membukanya dan ternyata pesan itu berasal dari grup teman-teman dekatku di kuliah.
Mereka bilang bahwa besok sudah bisa membayar UKT dan mengisi KRS untuk semester dua.
"Fen, udah bisa bayar UKT nih. Temenin aku ya besok ke bank."
Feni yang tengah makan kemudian menatap ke arahku. "Boleh."
***
Keesokan harinya, Feni kembali lagi ke rumahku untuk menemaniku membayar UKT. Uang untuk UKT sudah ada di tanganku sejak beberapa hari yang lalu. Namun, karena belum ada pemberitahuan tentang pembayaran. Aku memutuskan untuk menyimpannya dan hari ini aku pun membayarkan uang tersebut.
Sesampai di bank, aku kemudian mengisi form khusus pembayaran dan kemudian menunggu dipanggil. Sembari menunggu aku dan Feni pun asik berbincang sampai akhirnya waktuku untuk membayar.
Setelah membayar aku segera membuka web kampus dan mulai melihat-lihat kelas yang tersedia.
Di sampingku kini ada Feni yang tengah makan keripik, wanita itu malas pulang sehingga dia menemaniku mengisi KRS.
Ponselku berbunyi dan aku segera mengangkat video call yang dilakukan oleh Dira dan juga Bora.
"Gimana, aman aja nggak sih?" tanya Dira setelah masuk ke dalam video call.
Aku yang masih setia melihat layar laptop pun tidak langsung menjawab.
"Dee, coba deh kamu cek dulu. Aky baru besok nih bayarnya," jelas Bora yang ternyata ikut melakukan video call.
"Iya, ntar aku cek dulu."
Aku membaca silabus yang diberikan oleh kakak tingkat saat mengisi KRS. Mereka bilang, aku harus mengisi kelas yang sama sehingga tidak ada jam matakuliah yang bentrok.
"Beneran nggak kamu bayar besok?" tanyaku dengan cepat kepada Bora.
"Takutnya, ntar kita nggak sekelas nih kalau kelamaan. Mana kelasnya udah ada yang ngisi lagi. Kelasnya cuman buat 40 orang loh," jelasku lagi setelah memperhatikan dengan saksama kelas-kelas tersebut.
Ketika kelas tersebut penuh. Maka, kita harus pindah ke kelas lain dan aku tentu tidak mau. Karena sudah merasa nyaman dengan kelas ini.
Hmm, sebenarnya aku cukup bingung dengan July dan Risa. Kedua wanita itu sudah jarang muncul di grup teman dekatku. Padahal sebelum libur semester hubungan kami masih sangat dekat.
"Iya besok aku bayar terus langsung isi. Kamu kirimin foto KRS kamu ya entar."
"Iya, gampang. Abis ngisi aku langsung ngeprint juga kok," jelasku.
Memang setelah mengisi kita harus mengeprint KRS tersebut dan kemudian meminta validasi oleh Dosen Pembimbing Kuliah tetapi hal itu bisa dilakukan setelah masuk kuliah. Itu pun jika sang dosen meminta. Jika tidak, maka kita tidak perlu menemui beliau.
Sebelumnya, aku harus menemui dosen aku sih. Belum tau nanti, harus bertemu lagi atau tidak.
"Dira udah isi," ucap Dira tiba-tiba.
"Oke, kirim aja ke aku ya. Biar aku yang printkan."
Aku memiliki printer di rumah sehingga tidak perlu pergi ke tempat ngeprint dan biasanya aku yang mencetakkan semua milik teman-temanku juga.
"Iya, bentar ya. Dira kirim ke email," ucap Dira lagi.
Tak lama kemudian, sebuah pesan di email aku masuk dan itu adalah KRS milik Dira.
"Ya udah, ntar Dee printkan yaa."
"Iya, makasih ya Dee."
Video call tersebut kemudian mati setelah pembicaraanku dengan kedua temanku selesai.
Feni yang berada di sisiku pun menatap ke arahku. "Baik banget sih jadi orang," sindirnya padaku.
"Biarin," sanggahku sembari mengulurkan lidah ke arah sahabatku itu.
Aku kemudian beralih ke tempat printerku berada dan kemudian menyalakan mesin tersebut. Sembari menunggu mesin itu nyala dan dapat beroperasi. Aku kembali ke kasurku, tempat dimana Feni berada.
"Kamu kapan isi KRS nya?" tanyaku sembari memperhatikan Feni yang tengah mengunyah.
Feni menggeleng pelan, "nggak tau. Ntar ada pengumumannya kok."
Ya begitulah jika menjadi anak beasiswa, mereka harus menunggu sampai ada informasi dan barulah mereka bisa mengisi KRS.
***
Yeay, bab 23.
***
Semoga suka ya.
Jangan lupa tinggalin jejak kalian.
***
Makasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Manis Things (END)
Novela JuvenilNomor Peserta : 041 Tema yang diambil : Campus Universe Blurb : Siapa bilang kuliah itu mudah? Kuliah sangat menyita waktu dan juga perasaan. Nyaris seharian bahkan jika bisa bermalam di kampus, mungkin sebagian mahasiswa akan lakukan. Bergerak cepa...
