Semakin hari tingkah Ayu semakin membuatku kesal. Wanita itu sering kali berinteraksi dengan Rai dan pacarku itu selalu menanggapi segala yang Ayu lakukan padahal jelas aku berada di antara mereka.
Sudah beberapa hari juga aku menjauh dari Rai, mengabaikan pria itu. Namun, sepertinya dia tidak peduli atau tidak memahami kecemburuanku.
Hari ini adalah hari terakhir kuliah semester empat. Ujian terakhir akan berlangsung pukul dua siang dan sekarang masih pukul 12, karena memilikinya cukup banyak waktu. Aku dan teman-temanku memutuskan untuk pergi ke kantin.
Kali ini kami duduk berhadapan, empat wanita dan empat pria. Mengisi kekosongan, akhirnya kami mulai membahas mata kuliah semester depan yang sepertinya agak mengerikan karena mulai ada mata kuliah konsentrasi dan itu akan berlangsung dua semester.
Jujur, rasanya perkuliahan yang kujalani begitu cepat karena sekarang aku sudah nyaris menginjak semester lima.
Ku perhatikan dengan saksama bagaimana interaksi Ayu dan pacarku itu. Pembahasan mereka ringan. Namun, berulang kali wanita itu membuka pembicaraan baru karena tau Rai membalas singkat semua ucapannya.
Di tengah keasikan kami berbincang, aku ingin buang air kecil dan pamit dengan teman-temanku.
"Guys, aku pengen pipis, titip tasku ya," ucapku pelan sembari berjalan menuju toilet.
Setelah selesai, aku terkejut karena menemukan ada Rai yang tengah menungguku sembari menyenderkan tubuhnya di dinding toilet wanita tersebut.
Aku mencuci tanganku sebelum akhirnya keluar, aku malas menegur pacarku itu. Namun, tiba-tiba saja tangannya menahan kepergianku.
"Mau kemana?" tanya Rai dengan pelan. Aku menoleh ke arahnya, menatap wajahnya yang sedikit bingung. Mungkin karena sikapku yang dingin padanya.
"Kantin," jawabku singkat.
Rai tidak mau melepaskan genggamannya dan membuatku bingung. "Lepasin," pintaku yang tidak dipedulikan oleh pacarku itu.
Dahiku mengkerut kesal karena sedari tadi aku berusaha melepas cengkeraman Rai, tapi cengkeraman itu tak kunjung terlepas.
"Rai," ucapku pelan dengan nada memohon.
"Kamu kenapa sih? Kok diemin aku gini?" tanya Rai dengan intonasi nada yang dia kendalikan agar tidak mencari perhatian.
Aku terdiam sesaat sembari memperhatikan wajah pacarku itu. Wajah putihnya terlihat memerah karena kesal. "Aku nggak papa."
"Nggak papa apanya, sikap kamu itu berubah."
Aku jelas tau bahwa Rai bisa memahami apa yang kini tengah aku rasakan dan juga pikirkan, bahkan melebihi apa yang aku tau.
"Dee," ucap Rai pelan.
Kali ini pacarku itu yang memanggil nama panggilanku. Jujur, hatiku sedikit teriris melihat Rai yang tengah sedih itu.
"Aku cemburu," jelasku pelan sembari menundukkan kepala.
Genggaman tangan Rai melonggar dan saat itu aku langsung memanfaatkan waktu untuk kabur. Pergi meninggalkan pacarky yang masih termenung.
Kutemui teman-temanku yang masih asik mengobrol dan tak lama setelah aku datang, Rai juga datang dengan wajah bingung.
Aku penasaran kenapa dia seperti itu. Kemudian, mataku dan pacarku itu bertemu. Tidak lama, karena dengan cepat kuputus tatapan tersebut. Aku tidak mau hubunganku dengan Rai terbongkar.
Ketika asik mendengar celotehan teman-temanku. Tiba-tiba saja ponselku bergetar, pertanda ada pesan yang masuk. Saat selesai membaca, wajahku pun terangkat melihat si pengirim yang kini tersenyum kecil ke arahku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Manis Things (END)
Fiksi RemajaNomor Peserta : 041 Tema yang diambil : Campus Universe Blurb : Siapa bilang kuliah itu mudah? Kuliah sangat menyita waktu dan juga perasaan. Nyaris seharian bahkan jika bisa bermalam di kampus, mungkin sebagian mahasiswa akan lakukan. Bergerak cepa...
