Tidak ada hari libur bagiku setelah dua bulan melaksanakan KKN, kini aku harus melanjutkan skripsiku yang nyaris kulupakan selama KKN kemarin. Semalam aku sudah mengajak Rai untuk ikut denganku ke kampus dan dengan berat hati dia mau ikut. Tentu aku tau, karena saat melakukan video call semalam wajahnya berubah masam saat kuajak ke kampus.
Saat sampai di kamar kos Rai, ternyata pacarku itu masih tidur dan segera kubangunkan. Pantas saja teleponku tadi tidak dia angkat olehnya. Aku segera mengguncang tubuh pacarku itu agar dia mau bangun.
"Yang, ayo bangun, katanya mau nemenin ke kampus."
Perlahan, Rai bangun dari tidurnya dan berusaha untuk sadar sepenuhnya. Aku yang melihat hal itu hanya dapat tersenyum kecil karena pacarku itu sangat menggemaskan, aku sebenarnya kasihan padanya. Namun, aku tidak mau ke kampus sendirian.
"Ayo, Yang, buruan bangun!"
"Iya, bentar."
Tak selang berapa lama, Rai mencoba bangkit dari kasurnya dan bergegas pergi ke kamar mandi. Syukurlah, aku tidak perlu membangunkannya lagi. Kini aku tinggal menunggu pacarku itu selesai mandi dan pergi ke kampus. Namun sebelum itu, aku perlu untuk menghubungi Ibu Moli melalui pesan singkat. Walau sebenarnya Ibu Moli selalu ada di kampus, tetapi aku tetap harus menghubungi beliau.
Setelah selesai menghubungi Ibu Moli, aku kemudian membaringkan tubuhku di atas kasur dan saat tengah asyik bermain instagram, tiba-tiba saja sebuah pesan masuk ke dalam ponselku. Pesan tersebut dari Alwi.
Aku terdiam sesaat setelah selesai membalas pesan dari ketua kelompok KKN ku itu dan tak lama kemudian Rai keluar dari kamar mandi. Aku bergegas untuk bangkit dari tidurku dan berusaha untuk bersikap sewajarnya. Namun, sepertinya pacarku itu sadar pada sikap anehku.
"Kenapa, Yang?" tanya Rai sembari sibuk mengeringkan rambutnya.
"Nggak pa-pa kok, yuk, buruan kita kampus," ajakku agar Rai tidak berpikir yang aneh-aneh.
Sesampai di kampus, aku langsung mengajak Rai untuk pergi ke dekanat karena aku harus menemui Ibu Moli dengan cepat. Beliau bilang, dia ada jadwal mengajar setengah jam lagi. Setelah sampai di dekanat, aku meminta Rai untuk menungguku di depan dan aku langsung masuk ke dalam bangunan tersebut.
"Assalamualaikum," salamku setelah masuk ke dalam ruang jurusan.
Dengan sopan aku berjalan menuju meja Ibu Moli dan mulai berkonsultasi pada beliau. Ada banyak hal yang kutanyakan pada beliau karena setelah ini aku harus melakukan penelitian untuk membuat bab empat dan lima skripsiku.
"Tempat penelitiannya sudah oke kok, Bu," jelasku dengan singkat karena memang tempat yang akan kuteliti sudah meng-ia-kan keinginanku untuk melakukan penelitian.
"Ya udah, kalau gitu kamu langsung aja ajukan penelitian secara online."
Aku mengangguk paham setelah mendengar saran dari Ibu Moli. Aku memang sudah mengetahui bahwa jika ingin melakukan penelitian, aku harus membuat surat penelitian dari kampus. Nantinya surat itu akan diberikan kepada tempat aku meneliti.
"Ada lagi yang mau kamu tanyakan?" tanya Ibu Moli sembari menatap wajahku.
"Enggak ada kok, Bu. Makasih banyak ya, Bu. Saya pamit pergi dulu."
"Iya, hati-hati di jalan ya."
"Iya, Bu."
Aku bergegas keluar dari ruangan Ibu Moli dan saat di luar, aku langsung dihadang oleh beberapa mahasiswa. Sepertinya mereka adalah kakak tingkatku karena aku tidak pernah melihat wajah mereka.
"Dek, masih boleh datengin Ibu Moli nggak?" tanya kakak tingkat yang menggunakan jilbab berwarna cream.
"Masih kok, Kak, tapi bentar lagi beliau mau ngajar. Kalau mau, langsung masuk aja."
"Oke deh, makasih ya."
Ternyata masih banyak mahasiswa yang takut pada Ibu Moli, padahal beliau sangat baik. Sekarang, aku hanya bisa menemui dan meminta saran pada beliau karena Ibu Adel kembali pergi ke luar kota. Katanya, beliau akan kembali lagi sebelum seminar hasil karena aku membutuhkan tanda tangan beliau.
Sejak saat itu, aku mulai mengurus penelitian dan aku jarang bertemu dengan Rai karena tempat penelitianku berada di dekat rumahku. Aku bahkan lebih sering menghabiskan waktu dengan Alwi, tapi semua itu ada alasannya tersendiri karena kami perlu mengurus berkas KKN yang ternyata sangat kurang.
Memang KKN telah usai. Namun, ternyata proposal yang dibuat oleh teman-temanku banyak yang salah dan Alwi sebagai ketua harus bertanggung jawab. Kini, aku dan Alwi tengah berada di sebuah tempat fotokopian. Kami harus kembali mencetak proposal KKN kami dan ini sudah yang ke tiga kalinya.
Aku duduk di sisi pria itu dan membisikkan sesuatu ke telinganya. "Kenapa nggak nyuruh mereka aja sih?"
Alwi menatap ke arahku dan mengelus kepalaku yang terbalut jilbab hitam. "Nggak usah lah, ntar mereka repot lagi.
Wajahku berubah masam apalagi ketika mengingat bahwa semua ini adalah tugas Nila. Perempuan itu selalu mengurusi hidupku. Namun ternyata, pekerjaannya harus lebur seperti ini. Ingin sekali kumaki dia di depan umum, tapi Alwi pasti akan menahanku.
Setelah selesai mencetak proposal KKN kami kembali, Alwi mengajakku untuk pergi ke kampus. Kami harus mengumpulkan proposal itu secepatnya. Aku tidak merasa terbebani akan hal tersebut karena Alwi sudah membantuku untuk mengurus penelitianku.
Aku pikir, penelitian yang kulakukan akan berlangsung lama. Nyatanya, aku hanya perlu dua minggu untuk menyelesaikannya dan semua itu karena pria tinggi yang kini menggoncengku. Aku dan Alwi bergegas pergi ke rektorat. Aku hanya menemaninya sampai di parkiran dan Alwilah yang masuk ke dalam gedung tersebut.
Saat menunggu di parkiran, tiba-tiba saja aku bertemu dengan Rai. Pacarku itu tiba-tiba saja lewat di hadapanku. Dengan cepat Rai menghentikan motornya dan bergegas mendekat ke arahku. "Yang, ngapain di sini?"
Aku terdiam dan bingung harus menjawab apa, karena dalam beberapa hari belakangan ini kami jarang berkomunikasi. Aku tau bahwa pacarku itu tengah sibuk sehingga aku tidak mau mengganggu waktunya. Lagi pula, jika aku memberitahunya aku pergi dengan Alwi pasti dia akan marah besar padahal kami pergi berdua juga karena alasan yang jelas.
Belum sempat aku menyusun kata-kata untuk menjawab pertanyaan dari Rai. Tiba-tiba saja Alwi datang, pria itu tidak langsung melihat ke arah kami. Namun, malah sibuk dengan ponselnya.
"Yuk, Dee."
Aku dapat melihat dengan jelas bahwa wajah Rai berubah bingung. Dia menatap ke arahku dan Alwi secara bergantian.
"Apa-apaan nih!"
Aku langsung menahan tubuh Rai agar tidak mendekat ke arah Alwi. Segera kuambil helm milikku yang sebelumnya tergantung di atas motor Alwi.
"Wi, aku balik sama Rai ya."
Segera kuajak Rai untuk menaiki motornya. "Ayo, Yang, kita balik."
"Nggak bisa gitu dong. Kamu ada hubungan apa sama dia!"
Lagi-lagi suara Rai meninggi dan membuatku ketakutan. "Nanti aku jelasin di kos kamu ya."
***
Bab 80
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Manis Things (END)
JugendliteraturNomor Peserta : 041 Tema yang diambil : Campus Universe Blurb : Siapa bilang kuliah itu mudah? Kuliah sangat menyita waktu dan juga perasaan. Nyaris seharian bahkan jika bisa bermalam di kampus, mungkin sebagian mahasiswa akan lakukan. Bergerak cepa...
