The Dream
Yungi x Yeosang Ateez
.
.
.
Menatap jendela besar di kamar, senyum tidak hentinya merekah, dengan salah satu tangan mengelus perutnya perlahan, dia merasa kebahagiaan besar sekarang. Tidak pernah dia terpikirkan akan mendapatkan anugrah yang lain, ketika dia telah menginjakkan kaki di bandara Australia, hal-hal yang bisa dipikirkan adalah bagaimana cara membesarkan sang putra tanpa kekurangan apapun. Begitu banyak hal yang terjadi, dalam kehidupan singkatnya memiliki sebuah keluarga besar tidak pernah ada dalam bayangannya. Mengingat bagaimana penolakan keluarga dan kesalahpahaman tentang ayah putranya, membuat hatinya menutup semua kemungkinan untuk masa depan.
Memang, takdir tidak pernah ada yang tau. Besar atau kecil, sulit ataupun mudah, tidak akan pernah ada yang tau bagaimana perjalanan dan perjuangan yang harus dia lakukan. Ketika sebuah takdir istimewa hadir, ada kalanya dia merasa senang dilahirkan. Sekarang, sekali lagi dirinya akan melahirkan nyawa baru, membuat takdir baru, tidak hanya dirinya tapi juga mereka yang berhubungan dengan nyawa yang dia bawa. Hal istimewa namun juga menakutkan di saat bersamaan.
Begitu istimewa menjadi seorang ibu untuk kedua kalinya dan takut masalah apa yang akan datang pada akhirnya. Tapi mungkin, untuk sekarang dia ingin menikmati apa yang di berikan. Tentang masalah apa yang akan datang, dia akan menghadapinya. Karena sekarang dia tidak akan sendirian, ada orang-orang yang akan menggenggam tangannya, menguatkan dan membantunya dalam situasi sesulit apapun.
Entah berapa lama dia di sana, menebak masa depan apa yang akan dia jalani, yang pasti sampai beberapa pelayan berada di belakangnya, dirinya masih tidak menyadarinya. Ketika tidak ada respon, sang kepala pelayan maju bermaksud menyampaikan sesuatu,"Tuan Maaf, saatnya anda meminum obat."
Dan begitulah akhirnya dia kembali ke realita, perlahan dia berbalik dan tersenyum,"Baiklah......"
Yunho berjalan ke tempat tidur dan beberapa pelayan datang membawa obat dan air, dengan cekatan dia meminum obat. Obat yang di berikan dokter untuk dirinya sebagai Vitamin untuk bayinya. Setelah selesai menelan, pelayan yang lain memberikan buah sebagai cemilan. Mingi sangat cerewet masalah makanan, tidak boleh ada makana yang di berikan pada Yunho sebelum di coba atau di lihat seberapa banyak asupan Vitamin untuknya. Hal itu sungguh membuat Yunho kesal bahkan Yeosang yang melihatnya kerap kali menghela nafas lelah, menganggap sang ayah terlalu berlebihan.
"Apa mereka belum pulang?" tanya Yunho sambil memakan sepotong semangka yang begitu segar.
"Belum tuan, mungkin sebentar lagi." kata kepala pelayan yang di tugaskan 24jam mengawasi Yunho.
Mendengar jawaban sang pelayan senior keluarga Song, Yunho hanya bisa menghela nafas pelan. Dia kesepian sejujurnya, sejak pagi dia tidak di izinkan keluar kamar, padahal dia sangat bosan. Menatap para pelayan itu Yunho berniat melakukan negosiasi,"Aku akan makan semua buahnya, tapi....biarkan aku makan di ruang keluarga. Bagaimana?"
Para pelayan itu saling berpandangan membuat Yunho kesal,"Ayolah aku sudah baik-baik saja. Aku bosan."
"Tapi Tuan Song...."
"Jangan khawatir tentang dia, biar aku yang tanggung jawab. Ayolah, apa kalian juga tidak bosan disini seharian?" tanya Yunho membuat para pelayan itu menunduk dalam, dengan cepat Yunho berdiri membuat yang lain hampir berteriak kaget. Tanpa peduli kekhawatiran mereka, Yunho lebih dulu berjalan keluar,"Ayo pergi. Kita lihat Dorami."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Dream (End)
RandomYeosang selalu bermimpi bisa memeluk sang ayah Song Mingi yang tidak pernah ia kenal sejak dia lahir, saat kesempatan itu datang Yeosang tidak mungkin mau melewatkannya bukan? Tapi jika dia ingin bertemu sang ayah dia juga harus rela berpisah dari i...
