BAB 49 ; Syukuran

8 1 0
                                        

NEW UPDATE
FOLLOW NuraIleana
JANGAN LUPA VOTE, COMENT, AND SHARE

HAPPY READING

•••

"Assalamualaikum," salam Ethan saat akan memasuki rumah.

"Waalaikum salam," jawab mereka.

"Bang Than!" Seru Ghani. Ia berjalan tergopoh-gopoh mendekati Ethan dengan membawa ultraman merah.

Hap

Dengan senang Ethan memeluk Ghani. Ghani semakin sehat, dan sudah banyak berbicara.

"Wih, mainan dari mana, bro?" Tanya Ethan gemas. Apalagi melihat pipi Ghani yang gembul.

"Bang Di, tadi aku jalan terus jajan," ucap Ghani dengan ucapannya yang masih belepotan.

"Jadi, tadi tuh jalan-jalan sama Bang Aldi terus beli mainan?" Tanya Ethan memastikan. Ghani mengangguk membenarkan.

Hari ini rumah Bunda Aisyah sangat ramai, anak-anak yang sudah dewasa membantu menghias rumah dan menyiapkan jamuan. Sedangkan yang kecil asik main dengan mainannya sendiri.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya mobil Anez sampai juga. Ethan mengajak Anez dan Mang Adi masuk ke dalam rumah, Bunda Aisyah dengan antusias menyapa mereka. Apalagi Bunda sudah sangat merindukan Anez.

"Tiap Ethan kesini Bunda suka tanyain kamu, Anez kemana katanya kamu sedang sibuk jadi gak bisa kesini, benar?" Tanya Aisyah pada Anez.

Sedangkan Ethan yang mendengarnya merasa gugup. Ethan kikuk sendiri, kenapa jadi menceritakan itu nanti ketahuan kalo dia bohong.

Anez melirik Ethan sejenak, lalu dia berdehem dan tersenyum tipis. "Enggak Bunda, aku lagi gak sibuk. Tapi, mungkin akhir-akhir ini aku sibuk di kedai, Bunda."

"Masyaallah, udah cantik rajin lagi." Puji Aisyah.

Akhirnya Ethan bisa menghela nafas lega, ternyata Anez bisa menutupi hal yang sebenarnya. Walaupun sebenarnya dia tidak pernah mengajaknya. Tapi, gara-gara ini dia jadi malu sendiri pada Anez.

"Ethan selalu membicarakan kamu kalo kamu anaknya baik, rajin dan sederhana. Bunda senang, apa yang Bunda rasakan itu benar adanya." Lanjut Aisyah.

Kali ini Ethan dan Anez hanya bisa terdiam, pipi mereka memerah menahan malu. Apalagi Ethan, dia bahkan tidak berani melirik Anez sekalipun karena sudah tidak punya muka.

"Ehem, o iya, Bunda. Ko, aku gak liat Aldi, dia dimana," ucap Ethan mengalihkan.

"Tadi Bunda suruh Aldi ke Warung Bunda buat pisahkan 100 bungkus untuk dibagikan ke warga sekitar." Jelas Aisyah.

"Masya Allah. Bunda, tadi kenapa bunda tolak aku beliin makanan katering atau resto ketimbang harus beli di pedagang kaki lima?" Heran Ethan.

"Bunda sengaja nyuruh kamu beli di pedagang kaki lima sekalian bantu mereka menghabiskan dagangannya, anggap  saja ini rezeki mereka. Lagi pula kalo beli di resto atau katering semua orang juga bisa. Makanan dari jalanan juga gak buruk juga, kan?" Jelas Aisyah bijak.

"Iya, Bunda."

Ethan itu terbiasa makanan sehat dan mahal. Terbiasa makanannya sterilisasi, makanya dia tidak biasa makan dari pedagang kaki lima. Semenjak kenal Bunda Aisyah ia terbiasa dengan kesederhanaan.

"Oiya, Bunda. Aku sama Anez punya kado buat Bunda. Selamat ulang tahun Bunda, semoga Bunda diberikan umur yang panjang dan keberkahan serta kesehatan di setiap umurnya." Ethan memberikan goodie bag pada Aisyah.

SHENATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang