FOLLOW NuraIleana
VOTE, COMENT, AND SHARE
HAPPY READING
•••
Setelah kepergian Anez, Mega merasakan perasaan yang campur aduk. Rasa bingung dan khawatir menyelimutinya. Berkas-berkas yang kini berada di tangannya tampak begitu berat, seolah menjadi beban yang harus ia hadapi. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa ia telah menyadari satu hal yang lebih besar: semua yang ia jalani selama ini telah dipenuhi oleh kebohongan dan manipulasi dari orang terdekatnya, khususnya Paman Mingyu.
Mega dibawa oleh polisi, menyerahkan berkas dan kunci yang kebetulan ada bersama pengacaranya di sana. Dengan pasrah, Mega mengikuti kemanapun polisi membawanya. Dalam diam, ia menangis, menyesali semua yang telah ia lakukan. Berbagai pertanyaan berputar di kepalanya tentang kebenaran yang telah lama disembunyikan. Apakah semuanya benar? Mengapa ia tidak pernah melihat semua ini sebelumnya? Mengapa ia begitu mudah terjebak dalam permainan orang yang seharusnya ia percayai?
~•~
Di rumah sakit, Ethan sedang menjenguk Aisyah. Aisyah sudah sadar dari koma beberapa hari yang lalu.
"Bunda, makan sedikit lagi, ya? Satu suap saja, biar cepat sembuh," bujuk Ethan lembut, menatap penuh harap.
Namun Aisyah hanya menggeleng pelan, matanya tampak sayu. Tubuhnya lemah, suaranya serak, hanya cukup untuk beberapa kata.
"Aldi kemana, nak?" tanya Aisyah, dengan suara yang lemah.
"Aldi belum pulang dari magang, Bunda. Bunda mau apa lagi? Biarkan aku bantu," tawar Ethan.
Aisyah tetap menggeleng, dan Ethan meletakkan piring berisi makanan yang tak tersentuh.
Sudah dua bulan Aldi magang di Firma Hukum. Ia sengaja mengikuti magang dalam jangka waktu 6 bulan untuk pengalamannya. Aldi bercita-cita menjadi pengacara, bahkan ia sudah mendaftar universitas dengan jurusan hukum. Aldi bertekad untuk mengabulkan cita-citanya.
"Ethan, Bunda kangen Anez. Dia tahu gak kalo Bunda disini, tapi dia pasti tahu," ucap Aisyah tiba-tiba. Ethan yang mendengarnya merasa heran. Kenapa Aisyah masih mengingat Anez, padahal Anez sudah berbuat jahat padanya?
"Bunda, sudah, ya. Lebih baik Bunda tidur lagi. Bunda masih sangat lemah, jangan memikirkan hal lain lagi."
"Bunda gak mau tidur. Bunda bosan tidur terus. Besok Bunda pingin pulang aja, nanti juga sembuh." Aisyah berbicara dengan suara lemah. Sakit itu memang menyiksa. Tidur terus menerus membuatnya merasa capek, tetapi tubuhnya belum cukup kuat untuk berjalan-jalan.
"Ya sudah, kalo Bunda gak mau tidur, gini aja aku ceritain kekonyolan Ghani gimana?" tawar Ethan. Dia sangat tahu tentang Ghani, karena kepolosannya membuatnya gemas.
"Boleh," jawab Aisyah setuju.
Sepanjang bercerita, sesekali mereka tertawa dengan kekonyolan Ghani—kadang celetukannya atau tingkah lakunya yang menggemaskan.
"Nak, nanti ajak Anez kesini ya. Bunda mau berterima kasih," ucap Aisyah setelah Ethan selesai bercerita.
"Lebih baik Bunda gak perlu mikirin Anez, dia juga yang sudah melukai Bunda. Untuk apa berterima kasih?" tanya Ethan dengan heran dan kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENA
Ficção AdolescenteKehilangan dan rahasia terus menghantui Anez. Dari kematian orang tuanya, hingga ia mengetahui rahasia tentang kematian ayahnya dan penyakit yang disembunyikan ibunya membuatnya meninggal. Namun, adanya Ethan memberikan warna dan arti cinta sesunggu...
