FOLLOW NuraIleana
HAPPY READING
•••
Hari kelulusan masih berlangsung hingga malam. Siswa-siswi SMA Garuda Merah sudah siap memberikan pertunjukan kreativitas mereka untuk menambah kemeriahan suasana. Kelas 12, khususnya, tampil dengan pakaian terbaik mereka, hari ini adalah pesta mereka—hari yang dinanti-nanti untuk merayakan pencapaian dan mengumumkan kelas terbaik dari setiap angkatan.
Sebelumnya, kelas 10 dan 11 bahkan berlomba-lomba menampilkan berbagai kreativitas, seperti kabaret, atraksi karate, band, sulap, dan banyak lagi. Mereka berusaha memberikan yang terbaik dalam merayakan kelulusan, meski rasa bangga itu tak bisa menutupi kekosongan yang terasa di hati beberapa orang.
Banyak kamera yang merekam setiap momen dari acara kelulusan itu. Penonton terhibur, bahkan tertawa terbahak-bahak melihat adegan-adegan lucu dalam kabaret. Namun tidak demikian dengan Ethan, Naomi, dan Caramel. Ketiganya tampak kosong, tak bisa menikmati kebahagiaan yang seharusnya mereka rasakan. Mereka duduk bersama, merasakan kekosongan itu, karena ada satu orang yang biasanya ada di tengah-tengah mereka—Anez. Sahabat mereka yang kini tak ada.
"Apakah kalian masih semangat?" Seru pembawa acara dengan semangat. Seluruh siswa bersorak, membuktikan semangat mereka yang masih membara.
"Seperti biasa, SMA Garuda Merah selalu memberikan penghargaan kepada tiga kelas terbaik per angkatan. Peringkat pertama adalah kelas terbaik, peringkat kedua kelas terhebat, dan peringkat ketiga kelas terjuara. Penilaian ini sudah ditentukan oleh seluruh guru dan siswa-siswi melalui kuesioner." Jelas pembawa acara.
Ia kemudian meminta kepala sekolah untuk naik ke panggung dan mengumumkan kelas-kelas terbaik. Kepala sekolah berdiri dengan senyum bangga, memegang mikrofon.
"Selamat kepada seluruh siswa yang telah berjuang dengan sepenuh hati," ujar kepala sekolah dengan penuh semangat. "Namun, kita semua tahu bahwa keberhasilan ini bukan hanya milik individu. Keberhasilan ini adalah hasil kerja keras tim. Setiap kelas memiliki cerita dan kehebatan masing-masing. Para guru dan saya meyakini bahwa kalian akan sukses di kemudian hari. Sebagaimana biasanya, kejuaraan ini hanya bentuk apresiasi dari sekolah kepada kalian. Tanpa penghargaan ini pun, kami yakin kalian semua hebat dan berbakat."
Suasana semakin tegang. Semua mata tertuju pada kepala sekolah yang kemudian melanjutkan, "Juara ketiga, peringkat kelas terjuara jatuh kepada... Kelas XII IPA 2! Kelas yang memiliki ambisi besar untuk selalu belajar dan menghasilkan anak-anak yang pintar."
Tepuk tangan riuh menggema, dan perwakilan kelas XII IPA 2 naik ke panggung untuk menerima piala penghargaan. Setelah memberikan beberapa patah kata rasa syukur, mereka turun dari panggung dan disambut riuh oleh teman-teman sekelas mereka.
"Lanjut, untuk juara kedua, peringkat kelas terhebat jatuh kepada... Kelas XII IPS 4."
Sorak-sorai menggema saat kelas XII IPS 4 disebut. Mereka tampak terkejut, bahkan speechless. Biasanya, mereka tak pernah masuk peringkat juara.
"Dan yang terakhir, juara pertama dengan peringkat kelas terbaik jatuh kepada... Kelas XII IPA 1! Kelas yang penuh semangat dan dedikasi. Kelas yang, meskipun menghadapi berbagai tantangan, tetap bersatu dan saling mendukung. Kami sangat bangga dengan kalian."
Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan, disertai sorak sorai dari teman-teman sekelas yang merasa bangga meskipun ada keraguan di hati mereka. Namun, ada satu di antara mereka yang tidak ikut dalam kebahagiaan ini. Aldi, sebagai ketua kelas, meminta izin untuk semua teman-temannya naik ke panggung. Kepala sekolah pun mengizinkan. Menurut Aldi dan yang lainnya, kini saatnya untuk membersihkan nama Anez.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENA
Fiksi RemajaKehilangan dan rahasia terus menghantui Anez. Dari kematian orang tuanya, hingga ia mengetahui rahasia tentang kematian ayahnya dan penyakit yang disembunyikan ibunya membuatnya meninggal. Namun, adanya Ethan memberikan warna dan arti cinta sesunggu...
