Extra Part 1

21 2 0
                                        

HELLO SAHABAT NURA
SEPERTI JANJIKU, AKU BAKALAN KASIH EXTRA PART UNTUK SHENA..

SEMOGA KAMU ADALAH SALAH SATUNYA YANG NUNGGUIN CERITA SHENA DAN SENANG SAAT MEMBACA CERITA SHENA.

APAPUN ALURNYA, INI SUDAH DIPIKIRKAN DENGAN MATANG OLEH PENULIS.

HAPPY READING

•••

"Bu, ayo atur napasnya dan dorong," ujar seorang dokter wanita.

"Dok, kepalanya sudah terlihat!" seru seorang perawat memberi tahu.

"Ibu Anez, ayo mengejan sekali lagi. Kepalanya sudah mulai keluar," dorong dokter dengan lembut.

Anez berusaha mengejan sesuai perintah dokter. Keringat membasahi wajahnya, bercampur dengan rasa sakit yang luar biasa dan energi yang mulai terkikis. Beruntung, Ethan berada di sisinya, menjadi support system yang setia. Ia terus berdoa di samping istrinya, menggenggam erat tangannya.

"Sayang, ayo, kamu bisa. Kamu hebat. Aku akan selalu di sini, dan jangan lupa, Allah bersama kita," bisik Ethan lirih. Ia tidak tega melihat istrinya menahan sakit yang begitu dahsyat. Matanya memerah, dan jika bisa, ia ingin menanggung rasa sakit itu menggantikan Anez.

Anez hanya mampu mengangguk lemah sambil terus berusaha.

Hingga akhirnya, suara tangisan nyaring memenuhi ruangan. Tangisan bayi pertama mereka menggema, begitu kuat, dengan tangan mungil yang mengepal.

"Alhamdulillah, Bu, Pak, anak kalian telah lahir dengan sehat dan sempurna. Bayi laki-laki," ucap dokter penuh kegembiraan.

"Alhamdulillah, ya Allah," ucap Ethan dan Anez bersamaan, penuh rasa syukur.

Air mata yang sejak tadi ditahan Ethan akhirnya jatuh juga. Rasa haru, senang, dan bahagia bercampur menjadi satu. Dengan penuh kasih, Ethan mencium kening istrinya cukup lama, lalu berkata, "Terima kasih, Sayang. Kamu hebat. Kita akan menjadi orang tua!"

"Iya, Sayang, kamu juga hebat. Kita akan menjadi orang tua," jawab Anez dengan senyum penuh kebahagiaan.

Ethan langsung sujud syukur, menangis tersedu dalam doanya. Ia begitu bersyukur atas amanah besar yang diberikan Allah untuk menjadi seorang ayah.

Sementara itu, di luar ruang bersalin, orang tua Ethan bersama Abram menunggu dengan antusias. Saat mendengar tangisan bayi, Claudia tak mampu menahan air matanya. Ia bahagia karena akhirnya menjadi seorang nenek.

"Pi, cucu kita lahir!" ucap Claudia terisak bahagia.

"Iya, Mi, cucu kita lahir," jawab Isya, ikut tersenyum senang sambil merangkul istrinya yang tak bisa menyembunyikan haru.

Di sisi lain, Abram tidak sendiri. Ia datang bersama istrinya, Shasa Arumi Noora, atau biasa dipanggil Shasa. Dua bulan lalu, mereka melangsungkan pernikahan. Shasa adalah teman kuliah Abram, meski tidak terlalu dekat, hubungan mereka selalu baik.

Saat kabar Abram masuk penjara tersebar, Shasa yang saat itu berada di Amsterdam sangat terkejut. Ia tahu betul bahwa Abram bukanlah orang seperti itu. Kala itu, ia sedang menemani ayahnya yang dirawat di rumah sakit akibat kelelahan bekerja.

"Ma, aku mau pulang ke Indonesia," ucap Shasa tiba-tiba.

"Kenapa, Nak? Biasanya kamu suka berlama-lama kalau sudah bertemu Papamu."

"Ini tentang Abram," ujar Shasa gugup.

"Abram? Orang yang sering kamu ceritakan ke Mama?"

"Iya, Ma."

SHENATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang