BAB 75 : Melamarmu

11 2 0
                                        

SEE YOU

HAPPY READING

•••

Sebelum beranjak, Anez melepas apronnya dan mencuci tangan di wastafel. Tadi ia ikut membantu di dapur, memasak pesanan pelanggan yang membludak. Setelah itu, ia pergi menghampiri seseorang yang katanya teman SMA-nya.

Jantung Anez berdegup kencang begitu melihat sosok Ethan sedang duduk. Anez merasa tak yakin, takutnya ini hanya halusinasi. Matanya dikucek, tetapi Ethan tetap ada di depannya. Bahkan, pria itu seperti mendekat padanya. Jantung Anez semakin berdegup kencang. Tidak mungkin Ethan bisa sampai di sini, pikirnya.

"Assalamualaikum, Anez," ucap Ethan dengan suara bariton yang menyadarkannya. Iya, itu benar suara Ethan.

"Waalaikum salam. Ke-kenapa kamu ada di sini?" Anez masih terkejut, tak menyangka bahwa pria yang selama ini ada dalam pikirannya, yang dulu pernah begitu dekat dengannya, kini tiba-tiba berdiri di depannya dengan raut wajah penuh harap.

"Anez," kata Ethan dengan suara hampir tak terdengar. "Aku… aku minta maaf."

Anez terdiam, matanya sedikit membulat, lalu menatap Ethan dengan tatapan yang sulit dibaca. Ia sudah memaafkan semua yang terjadi di masa lalu, tetapi entah mengapa perasaan itu—perasaan yang sempat hilang—ternyata belum sepenuhnya pergi.

"Kenapa kamu di sini?" tanya Anez, berusaha menahan perasaan yang mulai mengaduk-aduk hatinya.

Ethan menunduk sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan penuh keyakinan, "Mungkin ini terlambat, Nez, tapi aku minta maaf karena sudah menyakiti kamu dan menuduhmu. Apa masih ada maaf untukku, Nez?" Pintanya penuh harap.

Anez menunduk, perasaannya campur aduk. Ia mengakui, dirinya tidak berani menghadapi semuanya.

"Kita duduk saja di sana." Anez memutuskan, tidak ingin mengganggu pengunjung lain dengan percakapan mereka.

Ethan dan Anez duduk di salah satu meja di pojokan. Meja itu bisa dianggap sebagai tempat VIP bagi pengunjung yang ingin privasi. Kebetulan, jarang ada yang memesan tempat itu.

Beberapa detik berlalu tanpa percakapan. Anez mencoba merangkai kata yang pas untuk didengar.

"Ethan, aku sudah memaafkanmu. Jadi, tidak perlu merasa bersalah."

Ethan tersenyum tipis mendengarkan jawaban yang sudah ditunggunya sejak tadi. Namun ada hal yang lebih membahagiakannya; yaitu saat Anez benar-benar memanggil namanya tanpa embel-embel kata "kamu" atau lainnya.

"Kesalahanku terlalu banyak, Nez. Aku salah meragukanmu. Kamu adalah orang baik. Maafkan aku karena sudah keterlaluan. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita," kata Ethan dengan penuh penyesalan.

"Aku sudah memaafkanmu, tapi kita sama sekali tidak ada hubungan apa pun, Ethan. Maaf, menurutku seperti ini saja sudah cukup bagi aku." Entah kenapa, setelah mengucapkan itu, hati Anez terasa tercabik. Perasaan apa ini? Anez kadang merasa senang ketika berada dekat dengan Ethan, tetapi ia juga selalu merasa tidak suka melihat Ethan bersama orang lain.

"Kita memang tidak ada hubungan lebih, kita hanya dipertemukan di sekolah. Tapi kamu tahu, Nez, aku masih mencintaimu dan berharap bisa bersanding denganmu. Mulanya, perasaanku sudah hilang, tapi ternyata aku masih berharap kamu adalah jodohku." Tegas Ethan.

Anez menatap Ethan dalam, terkejut. Kenapa Ethan malah mengatakan itu? Bahkan dulu, ia pernah bilang untuk tidak berharap lagi. Kenapa masih mengharapkannya?

"Kenapa harus aku, Than?"

"Karena itu kamu, Nez. Aku sadar, semua yang sudah terjadi—semua salahku. Aku ingin memperbaikinya. Aku nggak mau kehilanganmu lagi. Berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku ingin kamu jadi istriku, selamanya, sehidup sesurga."

Anez terdiam. Wajahnya memucat, matanya membelalak. Kebingungannya jelas terlihat. Ethan… melamarnya? Perasaan ini begitu menyentuh, tetapi di saat yang sama, ia merasa cemas, bingung, dan ragu. Perasaan yang ia simpan bertahun-tahun itu muncul kembali, namun masa lalu membuatnya ragu. Ia tak tahu harus berkata apa, seakan-akan dunia terasa berhenti sejenak di hadapan pernyataan Ethan.

Dalam kebingungannya, Anez merasa ada yang mengingatkannya. Suara itu lembut namun penuh ketegasan, datang begitu tiba-tiba.

"Anez..." Suara itu datang dari belakang. Anez menoleh cepat. Abram, kakaknya, terlihat berdiri di ambang pintu kedai, memandang mereka berdua dengan ekspresi yang lebih tenang.

Tanpa Ethan tahu, Abram mengikuti Ethan sampai ke Jogja untuk mengetahui seberapa serius Ethan pada adiknya. Bahkan, ketika Ethan mengetuk pintu rumahnya, Abram hanya mengamatinya tanpa menghampiri atau memberitahunya.

Melihat Abram, Anez tiba-tiba merasa matanya berkaca-kaca. Ia sangat merindukannya, bahkan setiap doa sering ia lantunkan dalam sholatnya. Abram, kakaknya, yang selama ini ia hindari, kini ada di sini. Abram berjalan mendekat, dan tanpa sadar, Anez memeluk kakaknya. Ia sangat merindukannya dan merasa bersalah karena tidak ada di sisinya ketika kakaknya keluar dari penjara.

"Maafkan aku, Anez," ujar Abram dengan suara serak, seakan seluruh emosinya keluar begitu saja. "Kakak banyak kesalahan sama kamu. Kakak sangat sayang sama kamu, Shena. Maafkan kakak, ya."

Anez menatap kakaknya. Ada rasa sesak di dadanya, namun Anez hanya diam. Ia ingin sekali berkata sesuatu, tetapi mulutnya terasa terkunci. Dengan suara pelan, ia berkata, "Aku nggak membenci Kak Al. Aku cuma… butuh waktu untuk melupakan semua luka yang terjadi. Aku juga bersalah, Kak. Aku bahkan tidak pernah membesuk Kakak. Maafkan aku, Kak."

Abram mendekat, meraih tangan Anez dengan penuh harap. "Kakak tahu, Shena. Kak Al ngerti banget. Kak Al tahu, kamu cuma nggak mau kenang-kenangan itu kembali. Tapi kamu harus tahu, kadang kita mesti menghadapi kenyataan yang nggak bisa dihindari. Kamu nggak bisa lari dari semuanya, dan nggak semua hal buruk itu perlu kita simpan dalam hati. Kak Al hanya ingin adik kecil Kakak bahagia. Kamu memaafkan Kakak, kan?"

Anez mengangguk. Kak Al benar, sejauh apapun dia berlari, masalah akan terus menghampiri. Mau tidak mau, suka tidak suka, semuanya akan kembali kepada pemilik ujiannya.

"Terima kasih. Aku tahu kamu adalah adik yang hebat, adik yang kuat. Jangan takut. Kak Al akan selalu ada di sampingmu, melindungimu seperti permintaan ayah dan ibu. Anggap Kak Al sebagai ayah dan ibu, jadi jangan pergi lagi, ya?" Anez menangis sesenggukan, dan ia mengangguk. Benar, hanya ada Kak Al seorang di sampingnya.

Tangan Abram mengusap punggung Anez dengan pelan. Ia sedih dan senang sekaligus. Kakak mana yang tega membiarkan adiknya berjalan sendirian tanpa ditemani siapapun, sedangkan dunia menghakiminya? Tetapi ia lega karena akhirnya bisa kembali dekat dengan adiknya tanpa ada sandiwara.

"Shena, kamu tahu, kadang kita harus bisa melepaskan rasa sakit itu untuk membuka ruang bagi kebahagiaan yang baru. Jika ada yang lebih baik, ayo coba kita lawan rasa takut itu untuk masa depan kita yang lebih baik lagi. Ethan, sini." Abram memanggil Ethan, yang langsung menghampiri Abram dan Anez.

"Lo benar serius sama adik gue?"

"Serius, Kak Abram," jawab Ethan tegas.

"Tanya adik gue, mau nggak sama lo?"

Ethan menatap Anez yang sudah melepas pelukannya, wajahnya bengkak karena habis menangis.

"Nez, jodoh, maut, dan rezeki sudah ada yang mengatur. Semoga kamu adalah jawaban dari doa-doaku. Mudah-mudahan kamulah orang yang Allah jodohkan sebelum aku dilahirkan. Jika kamu berkenan, aku akan bawa orangtuaku untuk melamarmu."

•••
FOLLOW IG
@ghina_rosyidatul
@noor_ileana
@catatan.nura

SHENATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang