FOLLOW NuraIleana
VOTE, COMENT, AND SHARE
HAPPY READING
•••
"Dendam apa yang lo maksud?" Tanya Abram penasaran.
Orang itu maju selangkah lalu berbisik padanya, "Li Mei," ucapnya.
"Li Mei?" Abram merasa tidak asing dengan nama tersebut.
"Mungkin lo bakal tahu dengan nama ini. Li Muchen." Bisiknya lagi, Abram tahu siapa dia. Dengan gesit Abram membuka kupluk jaket orang itu dan membuka topengnya.
Rambut panjang itu langsung terurai, wajahnya putih bersih. Abram mengetahui siapa pelaku dibalik dalang ini.
"Jangan mendekati adik gue, sekali lo sentuh adik gue. Lo habis di tangan gue." Ancam Abram.
"Oke, tapi lo harus setuju dengan penawaran gue. Lo juga tutupi rahasia tentang siapa gue, dan jangan bilang semua ini rencana gue, kalo tidak apapun bisa mengancam keselamatan Anez. Semua tergantung pilihan lo sendiri." Sinis orang itu.
"Wanita licik."
"Yes, it's me." Orang itu langsung pergi meninggalkan Abram yang penuh dengan amarah. Tangannya mengepal, jika dia bukan seorang perempuan sudah ia jadikan samsak.
Abram pergi meninggalkan tempat, dan pergi menuju ruang operasi ayahnya. Di balik tembok Abram melihat jelas Anez yang gelisah, bahkan ibunya terus menangis. Hingga dokter keluar dari ruang operasi dan mengumumkan kematian ayahnya.
"Mohon maaf, Pak Rizwan tidak bisa kami selamatkan."
Abram yang mendengar itu merasa bersalah tapi ia tidak bisa apa-apa. Abram menjatuhkan diri sendiri, sambil menangis tanpa suara.
"Maafkan aku Ayah. Aku sudah membuatmu kehilangan nyawa, tapi aku tidak bisa melakukan apapun."
~•~
"Apa yang Kak Al lakukan? Kenapa gak bilang dari awal, mungkin aku tidak akan sekecewa ini sama Kak Al," tutur Anez.
Dengan tangan gemetar Abram mencoba memegang tangan adiknya, tapi Anez menolaknya.
"Shena, maafkan Kak Al. Kak Al gak tahu harus melakukan apapun, aku takut kamu celaka seperti ayah dan Kak Al." Jelas Abram bergetar.
Ini kali pertama Abram memanggilnya Shena setelah tiga tahun lamanya. Shena dan Al hanya panggilan keluarga dan orang terdekat saja yang tahu.
"Lebih baik aku celaka Kak Al, daripada aku kehilangan orang-orang yang aku sayang!" Marah Anez.
"Kak Al maunya apa sih, aku sungguh lelah mendengar rahasia-rahasia kalian. Aku lelah Kak Al!" Anez menangis tersedu-sedu.
Abram pun ikut merasakan sakit ketika adiknya menangis, ia berusaha memeluk adiknya, tapi Anez mendorongnya sangat kuat.
"Aku kecewa sama Kak Al, sangat!"
"Shena, kamu boleh ajukan penambahan hukuman kakak untuk menebus kesalahan kakak. Kak Al tidak apa-apa jika harus dikurung selamanya disini, aku rela, dek." Pasrah Abram.
"Enggak, sampai kapanpun Kak Al berusaha menutupi atau berusaha membuatku benci padamu, itu tidak akan membuatku tega menghukum Kak Al. Kak Al tahu, kita udah gak punya orang tua, jika aku tetap kehilangan Kak Al aku merasa kesepian. Kak Al satu-satunya keluargaku yang masih ada, tapi aku pun tidak membenarkan perlakuan Kak Al."
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENA
TeenfikceKehilangan dan rahasia terus menghantui Anez. Dari kematian orang tuanya, hingga ia mengetahui rahasia tentang kematian ayahnya dan penyakit yang disembunyikan ibunya membuatnya meninggal. Namun, adanya Ethan memberikan warna dan arti cinta sesunggu...
