BAB 66 ; Pencuri Sebenarnya

8 1 0
                                        

FOLLOW NuraIleana
VOTE, COMENT, AND SHARE

HAPPY READING

•••

Li Muchen terdiam, mulutnya kaku. Pandangannya kosong, berpikir keras. Akhirnya, ia menghela napas panjang dan duduk kembali di kursinya. "Aku butuh waktu untuk berpikir."

"Pikirkan baik-baik, Liam," Rizwan menjawab, kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu. "Jangan biarkan keserakahanmu menghancurkan segalanya."

Suasana hening. Li Muchen menatap ruang kantornya yang tampak begitu luas, namun rasanya kini penuh dengan kekosongan. Ia tahu bahwa keputusan yang akan diambilnya bisa menentukan masa depan banyak orang, termasuk dirinya sendiri.

Namun, pada akhirnya, ia tahu bahwa dunia tak bisa hanya berputar untuk dirinya sendiri.

Beberapa hari terakhir, Li Muchen mulai merenung dan mulai mempertanyakan kebenaran ucapan Rizwan. Ada benarnya juga bahwa jika dia terus bertindak tidak jujur, suatu hari nanti perusahaannya mungkin akan bangkrut. Namun, perasaan egonya yang terlalu besar terhadap karyawan-karyawannya mulai memudar, dan ia merasa seharusnya mengembalikan hak-hak mereka. Namun, ketika itu Mingyu, adik dari Nuan, istrinya, menghampirinya.

"Kamu mau ngapain, Kak?" tanya Mingyu dengan nada penasaran, melihat Li Muchen yang tengah sibuk dengan berkas-berkas di mejanya.

"Kayaknya aku udah berlebihan, Mingyu. Aku harus mengembalikan semua hak karyawan ku," jawab Li Muchen, merasa ada yang salah dengan kebijakan yang selama ini ia terapkan.

"Maksudnya gimana, Kak? Hak apa?" Mingyu bertanya, masih belum memahami.

"Sepertinya aku terlalu berlebihan, Mingyu. Rizwan benar, karyawanku adalah hakku untuk mensejahterakan mereka. Tanpa mereka, perusahaan nggak akan berdiri sekokoh ini," jawab Li Muchen dengan perasaan yang berat.

"Tapi itu salah, Kak. Rizwan itu cuma mau menjatuhkan Kakak! Jangan merasa bersalah karena keputusanmu, perusahaan Kakak berjalan dengan baik berkat kerja keras karyawan dan juga kepemimpinan Kakak. Ingat, kebijakan perusahaan dibuat untuk dijalankan oleh karyawan. Kalau mereka merasa keberatan, ya sudah, mereka bisa pergi. Lagi pula, ini kenapa Rizwan begitu? Dia takut bersaing dengan sahabatnya sendiri. Kakak harus sadar, nggak ada teman yang benar-benar tanpa niat terselubung," jelas Mingyu dengan penuh semangat, berusaha membela Li Muchen.

"Jangan terlalu dipikirkan, nanti aku bantu Kakak mengatur perusahaan lebih baik lagi," tambah Mingyu sambil mencoba menenangkan Li Muchen.

Sejak saat itu, Li Muchen semakin terjerumus dalam kebijakan yang tidak adil terhadap karyawan. Kesalahan sekecil apapun bisa berakibat pemecatan. Dengan rasa tak terbendung, ia makin memperburuk keadaan.

Rizwan yang mengetahui perubahan tersebut, tak bisa diam. Ia merasa harus melaporkan tindakan pemerasan tersebut kepada pihak berwajib. Ketika Li Muchen mendengar laporan itu, ia pun merasa panik dan marah. Merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa mendapatkan kemenangan jika mengikuti aturan yang ada, ia mulai membawa beberapa properti miliknya dan kabur dari kejaran polisi.

Mobil yang ditumpangi Li Muchen melaju sangat cepat, dikejar oleh beberapa polisi. Namun, sialnya, mobil yang ditumpanginya menabrak sebuah proyek jembatan yang sedang dibangun oleh pemerintah, menyebabkan kerugian besar dan kemacetan parah. Para pekerja proyek mundur dengan panik, dan mobil Li Muchen hancur dalam kecelakaan tersebut. Li Muchen pun meninggal di tempat.

Nuan, yang sedang bekerja sebagai model di Indonesia, tergeletak tak berdaya begitu mendengar kabar kematian suaminya. Hati Nuan hancur, tak siap menghadapi kenyataan pahit ini, apalagi anak mereka, Annchi, baru saja menginjak usia 10 tahun. Annchi pasti akan sangat sedih mendengar bahwa ayahnya telah meninggal.

SHENATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang