BAB 42 ; Musuh Dalam Selimut

29 2 0
                                        

HAPPY READING

•••


"Maju jalan, gerak!"

Interupsi Brayn sebagai instruksi upacara di sayap kanan dan Romeo di sayap kiri.

Barisan dibagi dua dua baris untuk pengurus OSIS senior yang akan menurunkan jabatannya pada juniornya atau adik kelasnya dan dua baris lainnya untuk barisan calon OSIS masa bakti 2020-2021.

SMA Garuda Merah sedang melaksanakan Sertijab atau Serah Terima Jabatan OSIS pada adik kelasnya. Kelas 12 atau pengurus OSIS tertua harus menurunkan jabatannya pada yang bawah dan Ethan bersama yang lainnya tidak akan menjadi pengurus OSIS lagi mereka akan fokus dengan ujian demi ujian yang akan dihadapi sebelum lulus.

Mereka maju bersamaan ke tengah lapangan sedangkan siswa dan siswi menonton dengan khidmat rangkaian upacara Sertijab.

Dengan serempak mereka berhenti di hadapan pembina upacara. Dua orang pengurus OSIS perempuan berjalan menghampiri barisan dengan membawa bendera merah putih dan bendera OSIS.

"Hadap serong kanan, gerak!" Instruksi pemegang bendera OSIS mereka menghadapkan benderanya ke hadapan barisan pengurus OSIS.

Ketua OSIS dan calon ketua OSIS selanjutnya berjalan maju mendekati pembina. Ethan melepaskan kalung samir yang tersampir di bahunya dan memberikannya kepada pembina upacara.

Kepala sekolah yang saat ini sedang menjadi pembina upacara berjalan selangkah lalu menyampaikan kalung samir tersebut pada ketua OSIS selanjutnya.

Ethan dan Raditya mudur dua langkah lalu Ethan berinterupsi. "Hadap kanan gerak."

Kaki mereka melingkar menghadap ke kanan sambil jalan di tempat, setelah instruksi selanjutnya untuk maju mereka kembali ke barisan masing-masing.

Dua barisan saling berhadapan, sengaja setiap barisan diberi jarak untuk OSIS sebelumnya bisa masuk dan meninggalkan barisan.

"Jalan di tempat, gerak!" Instruksi Brayn. serempak mereka menaikkan kakinya dan mulai jalan di tempat hingga instruksi selanjutnya diberikan.

"Maju jalan!"

Perlahan demi perlahan mereka mulai berjalan memasuki barisan yang sudah diberi jarak. Pembaca puisi mulai membacakan puisi perpisahan, jaraknya tidak jauh dengan pembaca upacara hanya berjarak dua langkah darinya perpisahan diringi dengan musik yang dimainkan marching band.

Kita pernah satu pertalian bernama saudara
Menjadi satu tetes dan diikuti tetes lainnya bersamaan

Marah

Senang

Sedih

Semua bercampur baur
Bahu membahu jadi pelindung diri
Bahu membahu menjadi penolong
Saling menggenggam tangan bagai kita menyayangi kalian bagaikan sebuah cinta

Mungkin kisah kita telah usai
Tapi cerita tidak akan terputus
Setiap cerita akan saling menyambung
Setiap ingatan akan terus menjadi memori

Selamat tinggal adik-adik kami
Kami di sini akan terus mendoakan dan menjadi kakak bagi kalian
Perpisahan bukanlah putusnya sebuah hubungan
Tapi karena perpisahan kita bisa menjalin hubungan lebih dekat dari jantung dan hati

Setelah menjauh barisan OSIS baru mulai menurunkan tangannya, karena selama OSIS senior melewatinya mereka sedang hormat sebagai penghormatan terakhir.

Acara demi acara dilangsungkan dengan khidmat, bahkan sebagian dari mereka ikut terharu melihat setiap rangkaian upacara.

SHENATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang