BAB 64 ; Bukan Jodoh

7 1 0
                                        

FOLLOW NuraIleana
VITE, COMENT, AND SHARE

HAPPY READING

•••

Ini Minggu terakhir ujian. Anez dan murid-murid lainnya sedang melakukan Ujian Nasional. Sebelumnya Anez sudah melakukan ujian yang sudah terlewati karena dirinya di rumah sakit.

Anez sudah tidak memperdulikan pandangan semua orang, ia hanya ingin segera menyelesaikan ujiannya.

Setelah menyelesaikan dua mata pelajaran akhirnya ujian pun berakhir. Semua orang keluar berbondong-bondong untuk segera keluar sekolah, mereka ingin cepat sampai rumah. Sedangkan Anez ia akan menunggu sekolah kosong baru setelahnya ia pulang.

"Sudah siap?" Tanya Brayn datang menghampiri kelas Anez.

"Sudah, yuk." Brayn dan Anez berjalan di lorong sekolah menuju parkiran.

"Brayn, maaf selama ini jadi sering ngerepotin. Nanti setelah ini aku gak akan ganggu kamu lagi Brayn, makasih untuk semuanya," ucap Anez membuat Brayn mengernyitkan dahi.

"Kenapa bilang begitu Anez? Kamu gak ada niat pergi, kan?" Tanya Brayn heran.

"Apa sih Brayn, lagi pula aku mau pergi kemana. Aku gak ada tempat tujuan," elak Anez.

"Tapi omongan kamu seperti mau pergi."

"Tidak perlu dipikirkan. Aku merasa selalu ngebebanin kamu, harusnya kamu udah pulang bukannya nungguin aku dan datang ke kelas. Bangunan IPS ke IPA butuh effort tahu."

"Gapapa, olahraga kecil-kecilan," kekeh Brayn.

Selama di perjalanan adalah penting bagi Anez untuk meratapi setiap ruas jalannya. Jarak pandangnya seakan jauh menembus ruang jiwanya. Ia hanya pandai tersenyum untuk menutupi lukanya. Anez sudah sangat lelah menangis.

Sesampainya di rumahnya ia langsung pergi ke kamar, lalu menyimpan tas di atas nakas. Mata Anez menatap kalender, lalu ia membawa spidol warna merah dan melingkari tanggal.

"Sudah waktunya aku pergi, terlalu lama disini membuatku sakit. Aku butuh sembuh, kehidupanku nanti semoga bisa menyembuhkan luka walaupun tidak bisa menghapus trauma," ucapnya.

Kemudian Anez masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah mengganti pakaiannya Anez kembali fokus pada belajarnya. Ini Minggu terakhir ia ujian, ia harus fokus dan jangan terganggu oleh apapun.

Berjam-jam ia habiskan untuk belajar, bahkan ia melupakan makan. Untungnya, Bi Ara dengan sabar memberitahukan pada Anez layaknya seperti seorang ibu, ia bahkan menyuapi Anez makan sembari Anez mengisi soal-soal di dalam buku paket.

Sudah seharian ini Anez tidak mengaktifkan handphone nya, mungkin beberapa hari ke belakang ia jarang mengaktifkan handphone nya. Bagi Anez sembuh itu butuh effort dan menjauhkan dari hal-hal yang menyakitkan. Setiap buka handphone pasti banyak notifikasi gruf, sosmed dan lainnya yang isinya menjatuhkannya.

Selama seminggu ini Anez sudah jarang berbicara dengan teman-temannya, mungkin hanya Brayn yang ada di sampingnya. Aktivitas Anez hanya datang dan pulang setelah mengerjakan ujian.

Hingga di penghujung ujian. Akhirnya ujian selesai tinggal menunggu hari kelulusan. Suara bel menggema, murid-murid sangat senang mereka merasa bebas setelah mengerjakan ujian terakhirnya. Banyak para murid merayakannya dengan memborong jajanan di kantin, ada pula yang merencanakan liburan sebelum mereka masuk ke universitas masing-masing.

"Yuk, guys kita ke pantai aja!" Seru salah satu teman kelas.

"Ayok!" Sebagian setuju.

"Ah mending ke gunung kita muncak aja." Usul yang lainnya.

SHENATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang