FOLLOW NuraIleana
VOTE, KOMEN AND SHARE
HAPPY READING
•••
Setelah pergi meninggalkan sekolah Brayn mengajak Anez ke Taman Raya. Seperti biasa Anez akan dijemput oleh Mang Adi, semenjak keputusan Anez untuk tidak terlalu dekat karena mereka bukan muhrim Bryan menghargai itu. Setelah sampai di Taman Raya Brayn meminta Mang Adi keluar dan menyuruh Anez untuk keluarkan segala gundah dihatinya.
Di dalam mobil Anez menangis tersedu-sedu semua perkataan Ethan sangat menyakitinya, ia tidak akan mengira orang seperti Ethan bisa berbicara dan berpikir seperti itu tentangnya. Brayn sengaja meminta Anez menangis, karena menangis adalah pelepasan rasa marah dan kecewa. Selama Anez menangis Brayn menceritakan apa yang terjadi pada Mang Adi. Mang Adi yang mendengar itu merasa kasihan dengan Anez.
Untungnya Taman Raya ini sepi, mungkin siang ini masih waktunya sekolah. Biasanya Taman Raya ini ramai pada waktu-waktu tertentu seperti, sore dan weekend.
Setelah lama menangis akhirnya Anez tenang, ia bahkan meminta Mang Adi untuk mengantarnya ke rumah sakit. Brayn yang mengikuti di belakang merasa heran ketika mobil melaju ke depan seharusnya arah rumah Anez itu belok ke kanan.
Beberapa menit kemudian sampailah di rumah sakit. Anez keluar dan memandang gedung rumah sakit yang sangat tinggi.
"Nez, kenapa kesini?" Tanya Brayn heran. "Apa kamu lagi sakit?" Tanyanya lagi.
"Enggak, tapi aku pingin lihat keadaan Bunda Aisyah, Brayn," jawab Anez.
"Kenapa kesini buat apa, Nez? Lagian pasti mereka gak akan mau ketemu kamu lagi. Aku gak mau kamu dihina lagi sama mereka." Tandas Brayn.
"Aku harus tahu keadaan Bunda Aisyah, Brayn. Aku gapapa jika mungkin Aldi akan mengusirku seperti Ethan." Putus Anez. Ia melangkah dan diikuti oleh Brayn di belakang.
Saat akan masuk ke dalam rumah sakit Anez malah dilarang masuk ke dalam oleh satpam.
"Mohon maaf anda tidak bisa masuk ke dalam, kami tidak mau mengambil risiko." Tegas satpam itu.
"Sebentar saja, Pak. Saya mau menjenguk Bunda Aisyah." Minta Anez.
"Tidak bisa, kami sudah memberikan keputusan kepada anda bahwa anda tidak bisa masuk ke dalam rumah sakit. Kami tidak mau ada korban lain yang akan merugikan kami, bahkan wajah anda sudah kami sorot di layar. Jadi anda memaksa kami bisa bawa anda ke jalur hukum, dan semestinya anda sudah ada di penjara untuk menanggung jawab perlakuanmu." Jelas satpam itu.
Benar saja, wajah Anez terlihat jelas di konektor sebagai pelaku penusukan. Bahkan tanpa disadari Anez para pengunjung melirik ke arahnya dengan pandangan takut dan jijik.
"Pak, tidak bisa gitu. Dia bukan pelaku penusukan itu dia difitnah, lagian apa haknya orang ingin menjenguk malah bapak larang." Bantah Brayn geram.
"Brayn sudah, aku gapapa." Pasrah Anez.
Pucuk urung pun tiba, seseorang yang ingin dia temui akan keluar rumah sakit. Anez menghampirinya dan berharap Aldi mau mendengarkan penjelasannya.
"Aldi," panggil Anez. Aldi yang merasa terpanggil menghentikan langkahnya.
"Ada apa lo nyariin gue, belum puas dengan apa yang lo lakuin?" ucap Aldi tajam.
"Aldi kamu boleh marah sama aku, tapi aku mohon kamu percaya bahwa aku tidak sama sekali ada niat untuk melukai Bunda." Jelas Anez.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENA
Ficção AdolescenteKehilangan dan rahasia terus menghantui Anez. Dari kematian orang tuanya, hingga ia mengetahui rahasia tentang kematian ayahnya dan penyakit yang disembunyikan ibunya membuatnya meninggal. Namun, adanya Ethan memberikan warna dan arti cinta sesunggu...
