ENDING GUYS
TUNGGU EXTRA PART NYA YOOO
HAPPY READING
•••
Anez merasa senang, karena Ethan benar-benar berjanji akan melindunginya seperti sekarang. Ia diperlakukan oleh suaminya layaknya seorang ratu.
Setelah pernikahan mereka, mereka menunaikan ibadah umrah. Setelahnya, mereka berbulan madu ke berbagai negara.
Austria adalah negara terakhir yang mereka kunjungi. Rencananya, mereka akan pulang minggu depan. Ethan tidak bisa menyerahkan perusahaan sepenuhnya kepada orang lain, karena bagaimanapun, ia harus bekerja untuk menafkahi istrinya.
Suara mual-mual terdengar dari dalam kamar mandi, membuat Ethan menoleh. Ia khawatir dengan kondisi Anez, karena akhir-akhir ini istrinya kehilangan nafsu makan, yang membuatnya cemas.
"Sayang, kamu kenapa? Kita ke rumah sakit sekarang, ya?" ujar Ethan dengan khawatir dari depan pintu kamar mandi.
"Enggak apa-apa, Mas, nggak perlu ke rumah sakit," jawab Anez dari dalam kamar mandi.
Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Anez keluar dengan wajah pucat dan tubuh lemas.
"Sayang, ke rumah sakit sekarang, ya? Aku khawatir," kata Ethan.
"Tidak perlu, Mas. Insyaallah, aku nggak kenapa-kenapa," jawab Anez lirih.
Ethan dengan hati-hati memapah istrinya menuju sofa, duduk perlahan.
"Makan dulu, ya? Dari tadi kamu belum makan, mungkin perutmu kosong, jadi mual-mual terus." Ethan cemas menawarkan.
"Enggak apa-apa, Mas, aku nggak nafsu makan."
"Sayang..."
"Sayang, aku nggak apa-apa, insyaallah." Mendengar kata 'sayang' dari Anez membuat Ethan luluh, meski ia khawatir dengan kondisi istrinya yang selalu tak nafsu makan.
"Oke, baiklah, tapi sedikit saja makan buah atau minum susu, supaya tidak kosong," kata Ethan lembut.
"Tapi-"
"Ini demi kebaikan kamu, Sayang."
Anez mengangguk, tak ingin suaminya semakin cemas. Dengan telaten, Ethan menyuapi Anez semangka yang sudah dipotong kecil-kecil.
"Sudah," kata Anez menyerah.
"Ya sudah, minum susunya sedikit saja." Ethan membantu Anez meminum susu, meskipun hanya seteguk.
Setelahnya, Ethan meletakkan gelas di atas meja. Anez yang duduk di sampingnya, perlahan memijat kepalanya, sesekali meringis.
"Kenapa, Sayang?" tanya Ethan dengan lembut.
"Pusing."
Ethan meraih kepala Anez dan menyandarkannya di dadanya. Dengan perlahan, ia memijat kepala istrinya dengan telaten dan lembut.
Pijatan lembut suaminya membuat Anez tertidur. Ia tak ingat apapun kecuali tubuh hangat suaminya.
Deru napas teratur di dadanya membuat Ethan menunduk. Ia melihat istrinya sudah tidur dengan nyenyak.
"Sayang, aku khawatir sama kamu. Makan sulit, tiap hari pusing, tapi diajak ke rumah sakit nggak mau. Kamu bahkan mudah sekali tidur, nggak seperti biasa," ucap Ethan dengan lembut, tangannya mengusap pipi Anez.
"Maaf, ya, tapi aku khawatir."
Ethan meraih teleponnya dan menelepon dokter untuk datang ke apartemennya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENA
Teen FictionKehilangan dan rahasia terus menghantui Anez. Dari kematian orang tuanya, hingga ia mengetahui rahasia tentang kematian ayahnya dan penyakit yang disembunyikan ibunya membuatnya meninggal. Namun, adanya Ethan memberikan warna dan arti cinta sesunggu...
