Kehilangan dan rahasia terus menghantui Anez. Dari kematian orang tuanya, hingga ia mengetahui rahasia tentang kematian ayahnya dan penyakit yang disembunyikan ibunya membuatnya meninggal. Namun, adanya Ethan memberikan warna dan arti cinta sesunggu...
JANGAN LUPA FOLLOW NuraIleana VOTE, COMENT AND SHARE SEBANYAK-BANYAKNYA.
HAPPY READING
•••
Suara pisau dan wajan bersahut-sahutan di dapur, bersamaan dengan aroma masakan yang mulai menyeruak memenuhi udara. Anez sedang memasak, ditemani Mbok Sulis dan Mami Claudia.
Tiba-tiba terdengar suara alarm. Bukan alarm sungguhan, melainkan tangisan Arsyad yang memanggil-manggil ibunya.
“Nah, itu alarm udah bunyi, Nez,” ucap Claudia sambil tersenyum.
“Aku kesel sama anak Mami, dia kira anaknya mainan kali, ya,” curhat Anez.
Anez tak lagi merasa canggung bersama mertuanya. Bahkan, kini ia merasa seperti memiliki ibu lagi dalam sosok Claudia.
Sejak menikah dan melahirkan, Ethan memutuskan membawa Anez dan anak mereka tinggal di rumah orang tuanya. Awalnya, Ethan berencana membangun rumah sendiri untuk keluarga kecil mereka, namun ia merasa kasihan membiarkan ibunya tinggal sendirian hanya dengan pembantu. Akhirnya, mereka tinggal di rumah orang tua Ethan. Apalagi, Isya jarang pulang; kadang berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Claudia pun senang, kehadiran cucu membuat masa tuanya lebih berwarna.
“Maklum, dia kan nggak punya adik. Jadi pas ada versi mininya, dia ngerasa kayak punya mainan. Sana, cepat! Anakmu dari tadi manggil,” titah Claudia.
Anez meletakkan pisau di atas talenan. Ia memang sedang memotong sayur.
“Ya sudah, aku ke atas dulu, ya, Mi. Mbok, tolong bantuin Mami masak, ya. Aku naik dulu.”
“Iya, Nduk,” sahut Mbok Sulis mengangguk.
Sesampainya di kamar, suara tangis Arsyad dan tawa Ethan saling bersahutan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“
Ini anak Bunda kenapa?” tanya Anez lembut sambil meraih dan memangku Arsyad.
“Nda… pelgi…” lirih Arsyad dengan ucapan belum begitu jelas.
“Pergi? Siapa yang pergi?” Anez heran.
“Yaya…” tunjuk Arsyad, masih terisak.
Anez langsung menoleh ke arah Ethan yang hanya terkekeh tanpa merasa bersalah. Tatapan Anez tajam.
“Mas, kamu apain Arsyad?” tuduh Anez penuh intimidasi.
“Gak ngapa-ngapain, Sayang. Suer,” jawab Ethan dengan dua jari membentuk tanda damai.