HAPPY READING
•••
Anez berjalan mengendap ke Kamar Abram. Semenjak Abram pulang setelah 3 tahun lamanya tidak ada kabar, di Rumah pun dirinya sering tidak pulang. Kadang 3 hari atau seminggu.
Anez masuk, dan mencari sesuatu yang berbau obat-obatan. Percaya tidak percaya, Anez tetap harus berani menyingkirkan barang-barang ini, Anez akan bertanya perihal obat-obatan ini, tapi Anez tidak yakin, dia takut dengan Abram semenjak selalu marah-marah tanpa jelas.
Dari obat berbentuk tablet, butiran, serbuk, dan suntikan dia masukkan ke dalam plastik putih yang sudah dia selipkan di saku bajunya.
Tangannya dengan gesit memasukkan barang-barang haram itu. Sebenarnya, hati Anez sangat sakit atas kenyataan ini, tapi mau bagaimana lagi, dia harus memberanikan diri. Jika seandainya kakak nya akan tahu perbuatannya dan marah, itu lebih baik daripada membiarkan Abram mengonsumsi ini.
Setelah berkutat lama di Kamar Abram, Anez keluar dan masuk ke dalam Kamarnya. Hati Anez sungguh gelisah, harus dia apakan barang ini. Jika dibuang, nanti mudah diketahui orang, jika dibakar pun nanti Bi Ara akan bertanya dirinya membakar apa. Lagipula, Anez trauma dengan api kecuali api kompor.
Anez berjalan tidak menentu di dalam Kamarnya, wajahnya penuh gelisah. Suara melengking membuatnya panik dan takut bersamaan.
"Anez!"
"Kak Al," lirihnya. Anez mencoba mencari tempat untuk bersembunyi, tapi seakan buntu tidak ada jalan.
Anez mengira Abram tidak akan pulang hari ini, tapi perkiraannya meleset. Justru Abram pulang, dan mencari barang favorit nya.
Brak
Pintu kamar didorong begitu keras oleh Abram, disana terdapat Anez yang bahkan wajahnya sudah pucat.
"Kamu yang sudah ambil barang itu kan, nez?! Jawab!" Bentak Abram sambil memegang bahu Anez keras. Antara takut dan sakit atas remasan Abram pada bahunya.
"Maksudnya kak Al apa, aku tidak menge-"
"Jangan bohong nez, saya tahu kalo kamu mengambil barang saya tanpa persetujuan saya sendiri, jadi dimana barang itu?!"
Mata Anez sudah memerah, matanya berkaca-kaca. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, tapi tanpa sadar matanya mengarah pada laci nakasnya.
Abram yang melihat itu langsung dengan sigap memeriksa laci itu. Anez pun mencoba mencegah, supaya Abram tidak menemukan barang tersebut.
"Sebenarnya apa yang kak Al cari, sepenting apa barang itu Kak Al?" Teriak Anez. Ini adalah kali pertama Anez berbicara tinggi didepan kakaknya.
Abram tidak memperdulikan teriakan Anez, dia terus mencari barangnya. Setelah menemukannya dia akan keluar. Namun, Anez menghalanginya, bahkan tangannya direntangkan.
"Kak Al, jujur sama aku obat apa itu?" Lirih Anez.
"Apakah kak Al punya penyakit, atau benar kak Al mengonsumsi narkoba?"
"Awas!" Abram tidak menjawab, dia malah mendorong Anez.
Sebelum Abram benar-benar keluar Anez mencoba bertanya lagi. "Jawab kak Al? Kenapa sekarang banyak rahasia seakan aku ini siapa, apa aku masih adikmu, kak Al?"
Abram berbalik badan, matanya memerah dia perlahan berjalan menghampiri Anez. "Kamu mau tahu ini obat apa?" Tekan Abram. "Ini narkoba, puas kamu!" Sarkasnya.
Airmata Anez menetes. Bukan ini jawaban yang diinginkannya, tapi mau bagaimana lagi hasil lab pun positif narkotika.
"Tapi kak Al, kenapa kak Al menjadi berubah seperti ini. Aku tidak mengenali kak Al."
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENA
Teen FictionKehilangan dan rahasia terus menghantui Anez. Dari kematian orang tuanya, hingga ia mengetahui rahasia tentang kematian ayahnya dan penyakit yang disembunyikan ibunya membuatnya meninggal. Namun, adanya Ethan memberikan warna dan arti cinta sesunggu...
