HEYYO, SAHABAT NURA
APA ADA YANG RINDU
KALO TIDAK, YA TIDAK APA-APA
HAPPY READING
•••
"Maksudnya, lo kecewa sama siapa?"
Dahi Ethan mengerut, berpikir sejenak tentang apa yang membuat Abram merasa marah pada seseorang.
"Sama lo. Kenapa lo nggak pernah jenguk gue?"
"Maaf, waktu itu gue lagi sibuk sama kuliah dan organisasi gue," jawab Ethan, mencoba menghindar.
Abram menyeruput minuman dinginnya dan terkekeh.
"Lo bohong. Gue makin bingung. Sebenarnya, lo beneran serius sama adik gue atau nggak?" tanya Abram dengan to the point.
Ethan terbatuk kaget mendengar pertanyaan itu.
"Seharusnya lo lebih effort, bro. Lo pesimis banget, kecuali lo udah move on dari adik gue. Gue nggak masalah kok. Dan satu lagi, lo jangan kaget kenapa gue tahu lo suka sama adik gue. Mata gue ada di mana-mana, bro," tambah Abram sambil mengedikkan bahu dan menyeruput minumannya dengan santai.
Ethan terdiam sejenak, mencoba menyusun kata-kata yang tepat, lalu akhirnya membuka mulut. "Gue... gue merasa nggak tahu harus mulai dari mana, Kak Abram," ujar Ethan pelan, menatap wajah sahabatnya itu.
Abram menyandarkan punggungnya ke kursi dan mengangkat bahu. "Gue ngerti kok, Ethan. Gue nggak marah, cuma sedikit ragu sama lo," ujarnya sambil terdiam sejenak. "Gue nunggu di sel, tapi lo nggak datang lagi setelah awal-awal nanyain Anez. Kenapa lo nggak datang lagi, padahal ada yang mau gue kasih tahu?"
Ethan menghela napas panjang. "Maaf, bukan gue nggak peduli dan nggak mau datang lagi, gue... gue cuma nggak tahu harus gimana. Semua terjadi begitu cepat. Gue terlalu fokus sama kuliah, magang, dan masalah lain. Gue merasa bersalah karena udah nyakitin Anez, tapi gue bingung harus gimana. Sepertinya lo pasti benci banget sama gue, karena Anez kan adik lo satu-satunya."
Abram memandangnya tajam. "Gue emang marah banget sama lo, walaupun gue nggak minta lo jaga adik gue, tapi gue berharap lo bisa jaga Anez baik-baik setelah kakaknya mencampakkannya. Lo harusnya nggak langsung percaya dengan persepsi orang-orang dan lainnya, adik gue bukan orang jahat, bukan pembunuh juga. Tapi mau gimana lagi, nasi udah jadi bubur, gue marah sama lo juga percuma, ujung-ujungnya bakal sia-sia."
Ethan menunduk, mencoba mencerna kata-kata Abram. "Gue... gue sadar kalau gue salah, Kak Abram. Gue cuma nggak tahu bagaimana cara untuk memperbaikinya."
"Udah, menyesal pun adalah bentuk apa yang kita tuai sebelumnya. Sebenarnya, ada yang mau gue omongin, itu juga kalau lo penasaran," tawar Abram.
Kening Ethan mengernyit, wajahnya masih masam. "Perihal apa?" tanyanya cemas.
"Anez," jawab Abram singkat.
"Anez, memangnya kenapa Anez?" tanya Ethan cemas, takut informasi ini membuatnya menyesali seumur hidup.
Abram terkekeh, merasa lucu dengan wajah panik Ethan. "Tenang, Anez baik-baik aja. Gue nggak tahu pasti, tapi semoga ini bisa membantu dan menemukan titik terang buat lo. Gue duga dia di Yogyakarta; rumah yang pernah dibangun bokap gue, kalau kita mau liburan atau sesekali ke Yogya."
Ethan terdiam, speechless. Dadanya berdetak kencang, bibirnya ikut mengukir senyum, matanya berbinar bahagia. "Lo yakin?" tanyanya, tak ingin salah sangka lagi.
"Insyaallah yakin. Sebelumnya, kita nggak pernah ketemu lagi, bahkan nggak saling komunikasi lewat telepon atau apapun itu. Walaupun Anez sama sekali nggak ada kabar, dia tetap perhatian sama gue. Dia kirim orang buat terus ngejaga gue, bawa makanan dan segala macam, tapi orang itu nggak kasih informasi apapun tentang Anez. Jadi, gue meyakini bisa jadi dia memang ada di Yogya sekarang."
"Than, kalau lo serius sama adik gue, kejar dia. Kecuali lo sendiri udah pasrah sama takdir..." lanjut Abram, namun perkataannya terpotong oleh Ethan.
Ethan panik, pikirannya langsung melayang. "Gue harus ke sana. Kalau dia ada di sana, gue nggak mau ketinggalan lagi," tegas Ethan.
Abram menatapnya dalam-dalam, menyadari betapa besar perasaan Ethan terhadap adiknya. "Ethan, lo harus usaha. Kalau lo masih mau sama dia, jangan biarkan kesempatan itu lewat begitu aja. Cobalah bertindak, jangan cuma menunggu."
Ethan mengangguk, matanya menyiratkan tekad yang kuat. "Gue nggak akan biarkan dia pergi lagi. Terima kasih, Kak Abram. Gue harus pergi ke Yogya sekarang." Sebelum pergi, Ethan menatap Abram dalam-dalam, ada secercah keraguan, tapi langsung ditepis oleh Abram.
"Tenang, insyaallah gue restuin kalian berdua, tapi dengan syarat lo harus benar-benar jagain Anez. Dia berlian gue. Kalau lo sakiti Anez, lo berhadapan sama gue," tegas Abram, dan Ethan langsung mengangguk serius.
~•~
Ethan akhirnya memutuskan untuk langsung pergi ke Yogya. Perjalanan panjang itu terasa ringan karena hatinya dipenuhi tekad untuk menemui Anez. Setibanya di Yogya, ia langsung menuju rumah keluarga Anez berbekal alamat yang diberikan Abram. Dengan debaran yang kuat, ia mengetuk pintu rumah itu hingga tiga kali, namun tidak ada yang membukanya.
Ethan pasrah. Ia hanya menatap pintu itu dengan sendu, kemudian kembali ke motornya dan bersandar di badan motor. Pandangannya menatap rumah sederhana itu dalam-dalam, pikirannya berpacu, apakah Anez masih marah padanya, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Seorang pria dewasa, mungkin berusia sekitar 50 tahun, terlihat dari rambut ubanan, kebetulan lewat pekarangan rumah Anez. Matanya menatap Ethan yang sedang bersandar di motor.
"Mas, sedang apa?" tanya bapak itu dengan aksen Jawa.
Ethan sedikit terkejut, namun segera menetralkan ekspresinya. "Mohon maaf, Pak. Apa benar ini rumah Anez?"
"Benar, memangnya ada apa?"
"Saya mau bertemu Anez, kebetulan saya temannya, tapi dari tadi saya mengetuk tidak dibuka pintunya."
"Oalah, Mas. Kalau jam sekarang, Mbak Anez lagi di tempat kerjanya, apa ya namanya, bapak lupa." Bapak itu mencoba mengingat tempat kerja Anez, dan untungnya istrinya datang dengan tas belanjaan, sepertinya habis dari pasar.
"Pak, lagi ngapain di rumah orang?" tanya istrinya heran.
"Ini, nduk. Ada temennya Mbak Anez mau ketemu, kan kalau jam sekarang Anez ada di tempat kerjanya, tapi bapak lupa namanya."
"Oh, itu kalau nggak salah di Kedai Setengah Hati. Anak ibu juga kerja di sana sebagai waiters, lumayan gajinya, katanya bosnya juga baik. Kalau pulang, selalu dibawain makanan dari kedai, apalagi makanannya enak-enak." jelas ibu itu terlalu antusias.
"Si ibu malah cerita." Suaminya geleng-geleng kepala.
"Kalo boleh tahu, Kedai Setengah Hati di sini alamatnya ibu tahu?"
~•~
"Mbak, ada orang yang mau bertemu dengan Mbak Anez," kata salah satu karyawan.
"Siapa?"
"Dia nggak kasih tahu namanya, katanya temannya Mbak waktu SMA."
Penjelasan karyawan itu membuat Anez bingung. Siapa? Naomi atau Caramel? Tapi kalau Naomi, Anez tahu dari sosial medianya kalau dia sedang studi di luar negeri. Kalau Caramel, Anez sedikit ragu, tapi bisa jadi.
•••
FOLLOW IG
@ghina_rosyidatul
@noor_ileana
@catatan.nura
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENA
Fiksi RemajaKehilangan dan rahasia terus menghantui Anez. Dari kematian orang tuanya, hingga ia mengetahui rahasia tentang kematian ayahnya dan penyakit yang disembunyikan ibunya membuatnya meninggal. Namun, adanya Ethan memberikan warna dan arti cinta sesunggu...
