FOLLOW NuraIleana
VOTE, COMENT, AND SHARE
HAPPY READING
•••
Naomi yang tiba-tiba ditunjuk oleh Aldi langsung mendongakkan kepalanya. Sorot matanya memancarkan penyesalan yang mendalam, namun ia merasa tak bisa berbuat apa-apa. Padahal, ia sudah berusaha keras untuk membantu Anez, meskipun ibunya selalu melarangnya.
Aldi sengaja memilih Naomi, karena ia tahu Naomi lebih kuat secara mental daripada Caramel. Lihat saja, bahkan sebelum ditegur, Caramel sudah menangis terisak-isak.
"Gue salah, Di. Gue salah banget. Gue udah coba segala cara buat bantu Anez, tapi seakan semuanya terhambat. Gue ikut-ikutan jauhin Anez, karena gue takut dia makin terluka," ujar Naomi dengan suara serak, penuh penyesalan.
Aldi menatap Naomi dengan tatapan penuh makna. "Naomi, apapun alasannya, menjauh itu bisa jadi cara untuk melindungi diri. Tapi kalau kita tahu siapa yang salah, kita nggak bisa diam begitu aja. Kalau lo kesulitan, gue bisa bantu. Anez sudah terlalu baik buat kita semua. Dia udah ngorbanin banyak hal buat kita, dan kita nggak bisa cuma diam. Jangan ikutin orang-orang yang salah, karena itu artinya lo ikut jadi bagian dari kesalahan mereka," tegas Aldi, nada suaranya lebih rendah tapi penuh makna.
Naomi merasa hatinya hancur. Ia tahu apa yang Aldi maksud, dan ia tak bisa menahan air mata yang mulai menetes. Mengapa baru sekarang ia menyadari semuanya? Mengapa ia tak bertindak lebih awal?
"Lo tahu Anez dimana, Di?" suara Naomi tercekat, hampir tak terdengar.
Aldi berhenti sejenak dan tersenyum kecil, meski raut wajahnya tetap serius. "Gue nggak tahu, Naomi. Tapi beberapa waktu lalu, Anez sempat datang dan cuma kasih salam perpisahan. Dia juga minta maaf kalau ada yang nyakitin kita. Tapi dia nggak salah, kok."
"Gue yang salah, Di," ujar Caramel dengan isak tangis yang semakin keras. "Gue juga ikut-ikutan jauhin dia."
Aldi hanya mengangguk dan segera melangkah pergi, meninggalkan teman-temannya. Ia harus pergi ke kantor untuk mengurus beasiswanya.
~•~
Setelah pulang sekolah, Ethan mengendarai motornya menuju Kedai Setengah Hati. Biasanya, dia akan langsung pulang ke rumah, tapi kali ini ia memilih berhenti di kedai itu, berharap bisa bertemu Anez.
Dengan pakaian santainya dan gitar di tangan, Ethan naik ke panggung dan siap memberikan penampilan. Meskipun omset kedai sempat turun, namun semenjak Anez terbukti tidak bersalah, pelanggan setia mulai kembali.
Namun, meski kedai itu ramai, tidak ada Anez di sana. Ethan merasa kosong. Padahal, ia tahu Anez biasanya datang di malam hari, tapi entah kenapa ia berharap Anez datang di siang ini. Kedai Sweet Shena masih tutup, katanya baru akan buka bulan depan.
Dengan sedikit perasaan galau, jari-jarinya mulai menyentuh senar gitar. Suara melodi yang mengalun dari gitarnya langsung menarik perhatian pengunjung. Mereka terpesona dengan penampilan Ethan yang kembali manggung setelah vakum sekian lama.
Lagu yang ia pilih adalah Ratusan Purnama dari Melly Goeslaw. Suaranya terdengar seperti menghipnotis siapapun yang mendengarnya, apalagi dengan nuansa hati yang sedang galau. Ia menyanyikan lagu itu seolah-olah menceritakan semua perasaan yang sedang ia rasakan—rindu, penyesalan, dan kesepian.
Tanpa sadar, mata Ethan mulai berkaca-kaca. Setiap bait lagu membawa pikirannya kembali pada Anez, kenangan-kenangan indah dan pahit yang pernah dilalui bersama. Singkat, tapi begitu berkesan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENA
JugendliteraturKehilangan dan rahasia terus menghantui Anez. Dari kematian orang tuanya, hingga ia mengetahui rahasia tentang kematian ayahnya dan penyakit yang disembunyikan ibunya membuatnya meninggal. Namun, adanya Ethan memberikan warna dan arti cinta sesunggu...
