FOLLOW NuraIleana
VOTE, COMENT, AND SHARE
HAPPY READING
•••
Setelah beberapa menit menangis perasaan Anez sudah mulai merasa sedikit tenang. Anez keluar dari bilik toilet dan menatap wajahnya di cermin, matanya sembab dan memerah jelas terlihat. Ia membasuh wajahnya di wastafel, tapi bekas sembab tidak bisa hilang.
Dengan lemas ia ke luar dari toilet ternyata Brayn masih ada di depan menunggunya menangis.
"Gimana kamu udah tenang, Nez?" Tanya Brayn.
"Kenapa kamu masih disini Brayn? lebih baik kamu jauhi aku seperti teman-teman yang lain." Tanya Anez balik.
"Untuk apa, Nez. Aku tidak sama kaya yang lain, aku percaya sama kamu." Tegas Brayn.
"Aku mohon kamu jangan berbohong, lebih baik satu-persatu orang ninggalin aku dari pada datang cuman untuk berpura-pura," ucap Anez dengan tatapan kosong.
"Nez, bahkan aku lebih mengenalmu ketimbang orang lain, kita udah lama kenal dan bareng-bareng terus dari kecil. Lalu untuk apa aku berpura-pura sedangkan aku tahu kamu bagaimana?"
Anez berjongkok ia pun kembali menangis. "Kenapa seolah-olah ada yang ada yang membenciku, aku salah apa, Brayn. Aku capek tiap hari isinya cuman nangis. Kak Al terjangkit narkoba, ibu nyimpan penyakitnya dan aku baru tahu itu, lalu apalagi ini aku dituduh berniat membunuh orang. Bukan aku, Brayn. Bukan aku," lirih Anez dengan Isak tangis.
Brayn ikut berjongkok, dia ikut sedih dengan keadaan Anez. "Nez, masih ada aku. Aku orang pertama yang percaya sama kamu. Aku akan cari siapa pelaku sebenarnya, aku akan bantu kamu menyelesaikan masalah ini."
Anez menggeleng, "enggak Brayn. Aku gak mau kamu ikut campur terlalu dalam sama urusanku, biarkan ini jadi urusanku sendiri." Putusnya.
"Enggak, aku gak akan ninggalin kamu, Nez, sampai kapanpun!" Tegas Brayn.
"Apa salahnya jadi yatim piatu, mereka jahat fitnah kedua orangtuaku. Mereka sangat baik, tapi kenapa orangtuaku terseret," lirih Brayn.
"Aku tahu banget Om Rizwan dan Tante Myra adalah orang baik, sangat baik. Mulut mereka aja yang kurang ajar, bahkan belum tentu mereka lebih baik dari kamu," ucap Brayn tajam. "Nez, tadi kamu dari ruang guru mereka bilang apa?" Tanya Brayn.
Anez menghela nafas berat, "aku dapat surat panggilan orang tua sedangkan orang tuaku sudah tidak ada. Aku pasrah jika akhirnya aku harus dikeluarkan," lirihnya. Anez pasrah jika itu yang terbaik untuknya.
"Enggak, kamu harus sekolah sampai lulus bagaimanapun caranya!" Tegas Brayn.
~•~
Inginnya Anez pulang daritadi, apalagi dia sudah sangat sakit hati dengan ucapan-ucapan tajam untuknya. Dikarenakan ada satu mata pelajaran lagi yang belum diujiankan, akhirnya Anez mengalah dia harus menyelesaikan ujiannya dulu sebelum pulang.
Sebelum masuk kelas Brayn memberikan earphone tanpa kabel padanya, katanya kita tidak bisa menutup mulut mereka tapi kita bisa menutup telinga kita. Anez membawanya dan memasangnya, Brayn juga memintanya pulang bersamanya ia tahu dengan kejadian ini membuatnya insecure dan overthingking.
Satu persatu siswa sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Tinggallah Anez seorang diri di dalam kelas, ia masih menunggu Brayn menghampirinya namun belum juga dia datang. Karena bosan menunggu di kelas Anez keluar dan berencana ia akan menunggu Brayn di taman sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENA
Fiksi RemajaKehilangan dan rahasia terus menghantui Anez. Dari kematian orang tuanya, hingga ia mengetahui rahasia tentang kematian ayahnya dan penyakit yang disembunyikan ibunya membuatnya meninggal. Namun, adanya Ethan memberikan warna dan arti cinta sesunggu...
