BAB 76 ; SAH

10 2 0
                                        

AKHIRNYA... Di PENGHUJUNG CERITA

HAPPY READING

•••

Abram yang melihat Anez diam tanpa merespons perkataan Ethan, lalu berucap, "Shena, Kak Al tahu mungkin ini terlalu tiba-tiba, tapi coba tanyakan pada hatimu, apakah Ethan pantas bersamamu atau tidak. Kak Al tidak berhak memutuskan. Coba istikharah, jika memang Ethan adalah jawaban dari semuanya, terima dia, dek. Kak Al hanya ingin kamu bahagia, apapun jawabannya nanti."

Kata-kata Abram seolah menjadi angin segar yang menenangkan hati Anez, namun ia masih merasa bingung. Ia tahu, ia masih butuh waktu untuk memikirkan semuanya.

"Iya Kak Al, sepertinya aku... aku butuh waktu, Kak. Aku ingin sholat istikharah, agar aku bisa merasa yakin dengan keputusan ini." Jeda sejenak. "Ethan, aku butuh waktu untuk memutuskannya. Insyaallah, jika sudah ada jawabannya, aku kabari." Putus Anez tegas.

Ethan yang mendengar itu langsung mengangguk, wajahnya penuh harap namun juga mengerti. "Aku akan menunggu sampai kapan pun, Anez. Apapun jawabannya, insyaallah aku akan menerimanya dengan ikhlas." Tekad Ethan.

~•~

Malam itu, Anez duduk sejenak di kamar, berpikir tentang apa yang terjadi hari ini. Perasaan cinta yang lama terpendam seakan menyentuhnya kembali. Namun, ia juga tahu bahwa keputusan ini bukanlah sesuatu yang bisa diambil dengan gegabah. Dalam hening malam, Anez menggelar sajadahnya, ia akan memulai sholat istikharah sebagai usahanya. Berdoa dan memohon petunjuk serta kejelasan untuk langkah hidupnya selanjutnya pada Tuhannya.

Setiap hari tanpa putus, Anez terus melaksanakan sholat istikharah. Ia berdoa dan mengaji untuk menentramkan hatinya. Tujuannya hanya Allah, apapun keputusan-Nya, yang terbaik itu pasti terbaik untuknya.

Seminggu kemudian, Anez sudah siap untuk memberi jawaban pada Ethan. Ia mungkin telah membutuhkan waktu yang lama untuk berpikir, namun hatinya sudah mantap setelah berbagai pertimbangan dan doa yang telah dipanjatkannya. Anez merasa telah menemukan jalan yang tepat.

Di meja makan, Abram dan Anez sedang sarapan. Berbagai makanan dan minuman tersaji nikmat di atas meja, menggugah selera. Suara denting sendok beradu dengan piring, hening, tidak ada suara satu sama lain. Anez berdehem, ia meneguhkan dirinya semoga ini adalah jawaban yang terbaik untuknya dan masa depannya.

"Kak Al, insyaallah aku sudah dapat jawabannya," ucap Anez, menyadarkan Abram yang sedang fokus dengan makanannya.

"Beneran, Kak Al nggak mau kalau terpaksa atau terburu-buru."

"Insyaallah, Kak Al. Mudah-mudahan ini jawabannya yang terbaik." Putus Anez.

Saat itu, Abram mewakili adiknya berbicara pada Ethan bahwa Anez menerima pinangannya. Dengan rasa senang dan rasa syukur yang tak terungkapkan, Ethan datang kepada orang tuanya untuk mengkhitbah seorang gadis, kebetulan Isya sedang berada di rumahnya.

"Papi, Mami, maaf kalau Ethan terburu-buru, tapi ada yang mau Ethan ucapkan."

Di sore hari, dengan rintik hujan membasahi alam dan ditemani hot lemon tea di belakang rumah.

"Kenapa tumben izin dulu?" Tanya Claudia yang sedang menyiapkan cemilan sore di meja kecil untuk family time pertama kalinya.

"Ethan... Mau meminang seorang gadis Mi, Pi." Gugup Ethan.

Isya menoleh kepada anaknya, Claudia pun ikut terdiam, menatap anak dan suaminya bergantian. Apalagi, dengar-dengar suaminya sudah menyiapkan calon untuk anaknya, yang dikhawatirkan bisa membuat acara kumpul keluarga berantakan.

SHENATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang