Basement

1.5K 83 15
                                        

Oh Sehun - Kim Jongin

Sehun x Jongin / Mature / Romance (?) / Drama / Zombie AU / Apocalypse / Alternatif Universe / Yaoi / OS /

Note: This's Boys love story. Man x Man. Cerita yang menampilkan hubungan sesama pria! Don't like, don't read! Just feel free to leave this story!

Warning: Rating M for Mature scene.
Offensive Language. Hard Yaoi. Homo! Out of Carachter. Typo. Top! Sehun. Always Bottom Jongin! Blood! Zombie Apocalypse!

Summary: Jika hari ini dunia kiamat, Jongin hanya ingin satu hal.

.
.
.

.
.
.



Hari ini Jongin bangun tanpa mengharapkan apapun. Ia masih hidup hingga detik ini, entah ia harus bersyukur atau mengumpat. Kadang ia bersemangat untuk mati. Setiap hari ia begitu siap menghadapi takdirnya antara mati dimakan zombie atau mati karena kelaparan.
Sama seperti kemarin, kemarinnya lagi, dan besok. Begitulah siklusnya terulang.

Memar di sikunya belum sembuh dan luka baru di sudut bibirnya menambah kesengsaraannya. Rasanya berdenyut nyeri. Luka-luka itu seperti mengejeknya kalau dia masih hidup dan bangsatnya, Jongin sebenarnya mau mati saja. Ingin menyerah tapi harga dirinya begitu tinggi untuk mati di tangan para zombie itu.

Mana yang lebih baik, mati jadi santapan zombie yang mukbang dagingmu atau mati kelaparan di tengah-tengah bencana ini. Atau mati berebut tempat tinggal yang 'aman' dengan para penyintas lainnya.

Ketiganya tidak ada yang lebih baik.

Ada bebauan busuk dan apek yang menyebar di seluruh basement gelap ini. Aliran listrik terputus begitu juga dengan air. Basement begitu sunyi tapi di luar sana terdengar seperti okestra musik klasik— seperti Beethoven yang duduk, memainkan pianonya.

Jongin duduk bersandar pada dinding yang di penuhi lelumutan lembap di belakangnya. Matanya menyipit, mencari-cari secercah cahaya yang mungkin masih tersisa. Tapi hanya gelap yang menyapa indra penglihatannya. Kegelapan yang dia lihat, semakin membuat rasa putus asanya membuncah.

"Selamat pagi," sapa sebuah suara rendah sedikit serak. Ada bunyi besi berdenging yang diseret di atas lantai beton retak, menciptakan suara berisik yang memekakkan telinga. "Kau masih hidup," sahutnya. Nadanya terdengar prihatin.

"Unfortunately." Jongin menjawab singkat. Nada bicaranya tak kalah terdengar prihatin.

Tawa orang itu terselip mendengar jawaban sang tan sembari mendudukkan dirinya di sebelah Jongin yang pasrah.

"Jadi? Bagaimana di luar?" Jongin bertanya. Kepalanya menoleh meski yang dia lihat hanya siluet abstrak. Hawa hangat dan deru napas putus-putus jadi satu-satunya tanda kalau ada orang di sebelahnya.

"Masih sama, tidak ada yang berbeda dengan kemarin. Ugly fuckers, spilled blood, screams, fuckers."

Mendengar umpatan kotor yang keluar dari orang di sebelahnya sukses membuat rahimnya yang tidak nyata itu terasa panas. Rasanya bergetar mendengar cacian dari suara datar sedikit serak itu.

"The world is ending, huh?" Jongin menyeret besi yang tersimpan rapi di sebelah pembaringannya semalaman suntuk. Itu 'senjata' miliknya untuk bertahan hidup, yang menemaninya selama ini. Senapan yang ia dapat dari kantor polisi ketika awal bencana sialan ini melanda. Dia bidik ujungnya pada kegelapan di ujung sana, menarik pelatuknya dan suara tembakan meledak jauh di luar. Menabrak sesuatu, entah menembus daging, entah hancur bersama udara kotor yang dipenuhi gas karbonmonoksida.

Harusnya Jongin tidak menanyakan hal itu, karena tanpa bertanya pun ia tahu jawabannya. Benar, dunia ini hampir di ambang batasnya.

"It is fucking ending," jawab orang di sebelahnya. Senjata api yang dia seret tadi, ia letakkan di antara kakinya, nyaman bersandar di bahunya sampai ujung moncongnya menyentuh dahi Jongin. "Jika kiamat hari ini, apa yang ingin kau lakukan untuk terakhir kalinya, Jongin?" Tanyanya. Melempar tanya dan berandai-andai.

SeKai's Love StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang